SISTEM PESANTREN BUKAN FEODALISME

Raisya menatap kaca spion mobil. Jilbab creamnya sedikit bergeser, menampakkan helaian rambut hitam yang terselip rapih. Di pangkuannya dua botol sirup melon berembun. Ia membawanya sebagai oleh-oleh untuk Lala. Februari 2026 ini panasnya tak biasa. Udara Karawang terasa seperti kuali tembaga. Tapi hatinya justru dingin. Empat tahun bersahabat, baru kali ini Lala bersedia menginap di pondok Nur Aliyyah Purwakarta.

“Aku Cuma penasaran, Sya” ujar Lala seminggu lalu sambil menyendok es krim durian di Mall. “Katamu di Pesantren, kalian membungkuk-bungkuk ketika ada Kiai atau Ibu Nyai lewat. Bukannya itu feodal?.”

Raisya tersenyum kecut. Kata feodal itu seperti pisau yang sama yang selalu di tusukkan orang Kota terhadap tradisi yang ia cintai.

Mobil melambat di depan gerbang pesantren. Lala melongoskan kepala. Di kejauhan. Puluhan santri bersarung biru sedang duduk melingkar di bawah pohon jambu. Seorang Ibu berkacamata, Bu Nyai Wiha namanya, sedang menuangkan air sari kurma ke cangkir plastik, satu per satu Santri maju; membungkuk, mencium tangan Sang Nyai, lalu masing-masing membawa air dari cangkir itu.

“Itu….minum bekas?” bisik Lala.

“Bukan bekas,” bantah Raisya pelan.”Itu tabarrukkan. Air yang sudah di do’akan. Tidak bekas sama sekali, kok.”

Lala terdiam. Ingatannya melayang ke masa ketika Ibunya masih hidup, menyuapinya bubur dengan sendok yang sama. Andaikata pun bekas, itu Ibunya, sedangkan ini orang lain, meskipun seorang Nyai sekalipun.

Malam pertama Lala di Asrama di hiasi decak kagum dan gelisah. Saat sholat Isya, ia melihat sendiri bagaimana ratusan Santri dengan gesit mengatur sejadah tanpa ada yang bersenggolan. Seusai sholat, seorang Santri membungkuk 90 derajat menyalami Sang Nyai. “Sungkem, bukan feodal,” bisik Raisya. “Ini cara kami mengingat; ilmu bukan milik kami, tapi ia titipan yang harus di hormati.”

Lala mengernyit. “Tapi bukannya Guru juga manusia biasa?”.

“Pernah melihat orang Jepang membungkuk ke sesama?” tanya Raisya sambil membuka laptop. Di video, seorang Profesor Tokyo sedang membungkuk dalam-dalam ke Mahasiswanya terpampang. “Tapi di sini, sungkem itu bahasa tubuh. Seperti kata Alfred Binet ‘Sensasi hormat bukanlah perintah, tapi respons saraf yang terlatih.’”

Pukul 02.40. lala terbangun oleh gemuruh tasbih. Dari jendela, ia melihat para Santri sedang berjalan seperti bayangan menuju Masjid. Tanpa di suruh, tanpa cambuk. Lala yang sedang mengambil air wudu tersenyum “Kami terbangun karena berjanji pada diri sendiri, bukan ancaman.”

Subuh itu,  Lala ikut sholat berjama’ah. Saat Imam membaca Al-fatihah, ia merasakan getaran aneh di dada. Rasanya seperti baru pertama kali mendengar konser orkestra. “Ini collectiv effervescence,” kata Raisya usai sholat, mengutip Durkheim “Energi bersama yang mengubah ritual jadi makna.”

Sarapan pagi menjadi ujian terbesar Lala. Di dapur, seorang Santri dengan sarung basah sedang memeras santan untuk kolak. “Itu Alya. Dia mondok sambil mengurus Ibu lumpuhnya,” kata Raisya. Tiba-tiba Bu Nyai mendekat, mengambil sendok dari tangan Alya, menyicip kolak lalu menyuapkannya ke mulut Santri Itu.

Tafa’ulan” jelas Raisya, “Kami percaya bahwa berkah do’a bisa berpindah melalui gestur.”

Lala melihat keduanya mengangguk tersenyum mendandakan kolak itu enak. Lalu mulut Iby Nyai seperti sedang membacakan doa dan mengelus kepala Alya.

Lala tiba-tiba teringat teori mirror neurons yang pernah di pelajarinya di kelas pisikologi. Otak memang di rancang untuk meniru-tapi di sini, yang ditiru bukanlah kesombongan, melainkan kerendahan hati.

Hari terakhir Lala di pesantren di warnai hujan gerimis. Di ruang tamu, Ibu Nyai sedang membaca surat Yusuf. Tiba-tiba Lala bersin, dengan refleks Ibu Nyai mengusap punggungnya sambil berbisik “Yahdikumullaah.” Sentuhan itu hangat, persis seperti Ibunya dulu.

“Feodal itu hierarki paksa,” kata Raisya pada malam itu sambil menatap langit. “Tapi di sini, rasa hormat tumbuh seperti padi. Dari bawah, bukan di tanam paksa.”

Ia membuka buku catatan kuning. Di halaman pertama tertulis Sungkem adalah Geometri rasa; membungkuk agar hati tak menjulang.

Di Stasiun Purwakarta, Lala memeluk erat Raisya. “Aku sekarang faham. Kalian tidak menyembah Guru. Kalian sedang melatih muscle memory untuk menghargai sebuah ilmu.

Kereta membawa Lala pulang dengan membawa sebotol air zam-zam pemberian Ibu Nyai. Di botol itu terdapat sticky note bertuliskan: “Airku adalah pemberian, dari do’a tak pernah kadaluarsa.”

“Selesai..”

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

SISTEM PESANTREN BUKAN FEODALISME
Raisya menatap kaca spion mobil. Jilbab creamnya sedikit berge...
Merefleksikan 81 Tahun Kemerdeka...
Pagi perlahan menghangat di halaman Kebon Jambu al-Islamy, Sen...
Di Sudut Pondok Pesantren 
Di sudut pondok pesantren, ada banyak cerita yang mungkin tida...
Di Pondok, Merah Putih Tetap Ber...
Bulan Agustus selalu membawa suasana yang berbeda. Di berbagai...
Memaknai Film Teach You a Lesson...
Bagaimana jika negara ini tidak hanya memastikan anak-anak men...
MENJAGA TRADISI, MENGADAPTASI IN...
Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar teknologi...

Hubungi kami di : +62859-1068-58669

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon