MENCINTAI LINGKUNGAN ADALAH SALAH SATU CARA KITA UNTUK MENCINTAI TANAH AIR TERCINTA

“Cahaya matahari kini sudah menyinari bumi yang paling kita cintai, bahayanya sangat cerah,” dengan dihiasi oleh awan-awan berwarna putih.
Beberapa santri berlalu-lalang, ada yang sedang mengantri jajanan yang sangat ramai, ya walaupun di sini ada begitu banyak jajanan, mau sebanyak apa pun, semuanya dijamin habis, karena di sini ada ribuan santri. Ada juga yang sedang mengikuti workout untuk mengobati keluarga di rumah.
Di antara banyaknya santri yang sedang fokus pada aktivitasnya masing-masing, ada satu santri yang sedang duduk menyendiri di tangga depan YAPOS. Dia adalah Crisha, salah satu santri lama di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, yang duduk dengan ditemani buku diary serta penanya.
“Tujuh belas nanti mau bikin dekor apa ya buat kelas?” gumamnya. Kedua matanya menatap ke depan untuk mencari imajinasi dan jari telunjuknya mengetuk buku diary-nya berkali-kali dengan pena.
Saat sedang memikirkan dekor untuk tujuh belas, kedua bola matanya membulat melihat seorang santri yang membuang sampah bekas makanannya tidak sesuai tempat. Dengan cepat, ia menghampiri santri tersebut yang tengah berjalan menuju jemuran.
“Eh, neng, Neng, itu yang mau ke jemuran, Ji?” santri tersebut yang merasa bahwa hanya dirinya yang berjalan ke jemuran akhirnya menoleh.
“Aku, mbak?” tanyanya memastikan.
“Iya kamu, kamu kalau buang sampah yang benar ya. Masa buang sampah ditaruh di atas tutup sampahnya,” ujar Crisha.
Santri tersebut tertekan mendengarnya. “Males, Mbak, buka-bukanya.”
Crisha menggeleng. “Gak boleh gitu. Kalau nutup ya dibuka tutupnya, jangan kayak gitu.”
Sambil menunjuk ke arah tong sampah, Crisha menunduk.
“Masa cuma dibuka doang males sih?! Kalau nutup kayak tadi dibuang, gak papa nanti ditutup lagi juga. Yang penting udah dibuang, ngerti??” ucap Crisha memberi tahu letak kesalahan yang baru saja dia lakukan.
Hanya sebuah anggukan yang Crisha terima.
“Coba sini ikut aku. Crisha mengajak santri tersebut untuk mengikutinya.”
Tepat di depan tong sampah mereka berdiri. Crisha mengambil sampah yang ada di atas tutup tong sampah yang baru dibuang oleh santri di depannya.
Sampah yang baru dibuang adalah satu cup es teh yang kosong, satu wadah baso yang bersama styrofoam dengan sisa kuah baso di dalamnya, dan juga satu plastik bekas makanan.
“Ini sampah kamu kan?” tanya Crisha sambil menunjuk sampah tadi pada santri di depannya.
Santri tersebut mengangguk. Crisha merogoh kembali sampah tersebut. Ia mengambil sampah cup.
“Ini tuh gak sampah apa?” tanyanya yang dibalas anggukan.
“Sampah apa coba?” tanyanya lagi.
“Sampah organik, kan?” Crisha mengangguk.
“Terus kenapa kamu malah buang di sini?” hanya sebuah cengiran yang terlihat di wajahnya.
Crisha menggelengkan kepalanya. “Nih aku kasih tahu deh cara yang lebih benarnya gimana.”
“Ini sampah cup kamu buang di ranjang, itu tuh,” santri tersebut mengangguk lalu ia mengambil cup yang ada di tangan Crisha untuk menaruhnya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Crisha.
Ia mengambil cup yang ada di tangan Crisha untuk menaruhnya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Crisha.
Setelah sudah dilakukan, Crisha mengambil sampah styrofoam baso yang masih berkuah.
“Kalau yang ini, kan ini ada airnya, sebisa mungkin airnya jangan dibiarin kayak gini.”
Crisha mengambil plastik yang sudah basah karena kuah baso.
“Nih, ini plastik masih benar, ada lubangnya. Mending kamu tuangin dulu baso yang kamu buang ke dalam plastik ini, seperti itu. Harusnya begitu, Mbak.” tanyanya bingung.
Crisha tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari santri di depannya.
“Menurut aku, Mbak, harus, biar air ini gak ke mana-mana. Kan siapa tahu tong sampahnya bocor, terus airnya ke mana-mana. Kalau airnya tumpah ke mana-mana kan najis, jadinya orang dan sampah. Kasihan nanti yang mau bersih-bersihnya jadi kena najis.”
Santri tersebut mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Crisha.
“Sekarang kamu pegang plastiknya, terus buka ini.”
Santri itu mengangguk lalu merenggangkan plastik dengan membuka lebarnya lubang. Sedangkan Crisha menuangkan kuah baso ke dalam plastik yang dipegang oleh santri tersebut.
“Kalau udah, styrofoam bekas baso ini dibuang ke sini. Ingat ya, dibuka dulu, baru dibuang,” ucap Crisha sambil membuka tutup sampah di depannya lalu membuang styrofoam di tangannya.
“Itu kok ini di gimana-in, Mbak?” bingungnya sambil memperlihatkan plastik berisi kuah baso di tangannya.
“Kalau ini di [—] dulu sebelum dibuangnya, biar airnya gak tumpah-tumpah,” ucap Crisha.
Santri tersebut mengangguk lalu segera menuju [—]. Setelah itu hingga buang ke sini, ucap Crisha lagi dengan senyuman saat santri di depannya sudah membuangnya.
“Mbak, kalau plastiknya bolong atau gak ada gimana?” sedangkan sampah kita ada airnya? tanyanya.
Crisha tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Kalau plastiknya bolong atau gak ada, kita buang ke tanah aja airnya, terus baru buang ke tempat sampah sesuai sampah yang kita buang,” jawab Crisha.
“Oh, makasih ya, Mbak. Udah ngingetin sekaligus ngajarin cara buang sampah yang benar.”
Crisha mengangguk dengan senyuman.
“Iya sama-sama. Nanti kamu juga harus kasih tahu teman-teman kamu yang belum tahu ya.”
Santri itu mengangguk.
“Mbak, mau nanya, kamu cinta tanah air?”
Crisha memegang pundak bagian kanan santri itu. Dia mengangguk.
“Kalau kamu cinta tanah air, dengan kamu buang sampah kaya yang mbak ajarin tadi, kamu baru benar-benar cinta tanah air, karena udah menjaga lingkungan,” ujar Crisha.
“Oh, iya Mbak. Yaudah kalau gitu aku pamit mau ke jemuran ya, Mbak.”
Pamitya yang dibalas anggukan oleh Crisha.
Crisha tersenyum melihat kebanggaan santri yang baru saja diajarnya untuk membuang sampah dengan benar.
Membuang sampah dengan benar.
Perlu diingatkan kembali pada semua santri yang merasa buang sampahnya kaya tadi, asal buang, itu salah ya teman-teman. Kalau kita buang sampah kaya tadi, nanti sampahnya berceceran ke mana-mana hingga menimbulkan najis.
Jadi kawan harus ingat cara yang baru saja aku jelaskan, karena jika lingkungan kita bersih, buang sampahnya sudah pada tempatnya, itu namanya kalian sudah mencintai lingkungan.
“Cintai lingkungan di sekitar kita, karena itu adalah salah satu cara kita mencintai tanah air tercinta, yaitu Indonesia.”

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

MENCINTAI LINGKUNGAN ADALAH SALA...
“Cahaya matahari kini sudah menyinari bumi yang paling kita ci...
SISTEM PESANTREN BUKAN FEODALISME
Raisya menatap kaca spion mobil. Jilbab creamnya sedikit berge...
Merefleksikan 81 Tahun Kemerdeka...
Pagi perlahan menghangat di halaman Kebon Jambu al-Islamy, Sen...
Di Sudut Pondok Pesantren 
Di sudut pondok pesantren, ada banyak cerita yang mungkin tida...
Di Pondok, Merah Putih Tetap Ber...
Bulan Agustus selalu membawa suasana yang berbeda. Di berbagai...
Memaknai Film Teach You a Lesson...
Bagaimana jika negara ini tidak hanya memastikan anak-anak men...

Hubungi kami di : +62859-1068-58669

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon