Kala itu, bahana sinar mentari turut menyuram. Tersaput iringan awan berarak. Kelabu memenuhi cakrawala. Daun-daun tua berguguran, terhembus semilir angin. Katak-katak berloncat ria. Sahut-menyahut suara mereka terdengar. Bak orkestra, mencipta harmoni bersama derik serangga. Pertanda musim hujan lekas tiba. Sesekali petir bergemuruh, pekak telinga dibuatnya. Tak jauh beda dengan antariksa hati Azam. Dengan nanar, ia tatap secarik kertas dalam genggamannya.
- Menjawat Ketua OSIS SMP (X)
- Juarawan 1 UN Tingkat Nasional (X)
- Diterima SMA Impian (X)
Segenap kemampuan yang ia kerahkan; Setiap do’a ia lesat tinggi-tinggi; Segala harap ia bubuh dalam benak dengan angan menjelma nyata, kandas seketika. Ratusan, bahkan ribuan tanya riuh di kepala. Tidakkah ia lekas bersua dengan apa maunya. Ia alihkan ratap keluar kobong. Di luar, rinai hujan mulai membasahi bumi pesantren Daar Al-Hikmah, tempatnya kini menimba ilmu- Setelah ditolak SMA Impian. Harum petrichor sedikit membuatnya tenang. Selalu menyenangkan menghirup wanginya yang menguar. Baiklah, dirinya membatin. Barangkali di sinilah pertunjukkan impiannya menjelma nyata. Kini, kembali ia terpekur. Bukan untuk mengulang ratap, melainkan ia bangun semua mimpi itu dengan megah. Rebuild. Tak akan ada lagi aral melintang di hadapannya. Semoga.
Waktu terus melesat cepat. Tak peduli apapun yang terjadi, waktu tak akan mengingkar janji. Minggu demi minggu merajut bulan. Bulan demi bulan menenun tahun. Kini genap sudah dua tahun Azam memijak Pesantren Daar Al-Hikmah. Sayang, waktu tak selalu berbaik hati membasuh pilu dalam sekejap.
BUK! BUK!
Layangan kepalan itu telak mengenai lelaki di depannya. Terpelanting lima langkah, untuk kemudian luruh seketika. Wah, Wah. Ternyata tak lebih dari sehelai kapas, Azam membatin. Saat lelaki di depannya terkapar tak berdaya; saat Azam kembali hendak melancarkan aksinya, datang dua kepengurusan dari Mahkamah Pesantren. Melerai. Azam meraung, tak terima tangannya terkekang.
“GERANGAN APA KEHENDAKMU?! PINGSAN SUDAH IA OLEHMU”, Gerung satu dari kepengurusan itu tak kalah berang. Sedang satu yang lain sigap memapah lelaki yang terkulai. Sebagai jawaban, Azam hanya mendengus kasar.
“Baik, siapkan alibimu. Rampung sholat isya, lekas temui aku di Mahkamah Pesantren”. Seru satu dari kepengurusan itu.
Usai sudah tunai janji mentari hari ini. Semburat lembayung jingga menawan seisi cakrawala. Dari pada itu, lekaslah Rembulan beranjak menduduki singgasananya. Memancarkan cahaya anggun hasil kongsi bersama surya. Sempurna meraga bulat, tanpa awan sudi menyaput. Barangkali karena iringan awan itu tengah terpendam pada antariksa hati Azam. Buruk sekali mood-nya hari ini. Kembali ia keluarkan carik kertas pusakanya.
- Menjadi jawara pencak silat (X)
- Menjadi Paskibraka Nasional (X)
- Menjadi Ketua Asrama
Saat Azam hendak menoreh tanda silang berikutnya, bahunya tetiba ditepuk. Telah duduk menjeplak di sampingnya satu karibnya, Shodiq.
“Usahlah kau kembali murung. Bertambah pula jelekmu adanya. Buruk sudah rupanya persidangan tadi?” Shodiq mencoba memecah sunyi. Azam hanya menyeringai tipis.
“Tahu nian aku akan tabiatmu, Zam. Tindak kau tadi tidak lain karena laku pongah Pemuda yang terpilih menjadi Jawara, kan. Sudahlah kau renungi apa yang berlalu. Bilamana kau perlu tahu, takjub aku dibuatmu. Sekian rembulan menjadi saksi atas jatuh bangun usahamu itu. Janganlah kau pudarkan takjubku ini, Zam. Bolehlah kau gagal satu-dua, atau bahkan ribuan sekalipun jumlahnya, tetapi tak elok bila kau terpuruk sedemikian rupa. Jangan sekali-kali kau enyahkan harap dari benakmu. Ingat, Kehilangan angan jauh lebih berbahaya ketimbang kehilangan alat persenjatan perang.” Papar Shodiq sedemikian tulus.
Azam mengangguk kecil. Tak terbayangkan bila ia tak pernah bersua dengan karibnya yang satu ini. Berkat persahabatan dengannya, semua pemahaman-pemahaman baik atas hidup turut ia jumpa. Rendah hati. Saling menghormati. Serta banyak yang lain.
Terik mentari begitu ganas. Memanggang setiap apa yang dikehendakinya. Peluh sebesar biji jagung mengalir deras dari pelipis Azam. Antara sebentar, ia seka dengan lengan kausnya. Kembalilah ia cangkul gundukan tanah di hadapannya, hukuman atas apa yang telah lalu. Dahinya mengernyit, seperti ada yang berlarian ke arahnya dari kejauhan. Rupanya sahabatnya itu. Dengan wajah berseri, Shodiq berseru riang,” Bersiaplah kau, Zam. Sekejap lagi rindu kan menggugu dirimu”. Seakan mengerti dengan kernyitan dahi Azam yang makin dalam, ia lanjut memapar,”Esok lusa aku duluan, Zam. Lirboyo, Pesantren impian kita telah berseru memanggilku. Abah Hasan telah memberi restu. Kau susul nanti, ya. Aku tunggu.”. Mulut azam lebar menganga. Tak percaya dengan apa yang terjadi pada karibnya yang satu ini.
“Baik. Tak kubiarkan kau sendirian di sana. Usah kau risaukan diriku. Lekasku mantapkan lagi Nahwu beserta pasanganya, Shorof.”. serunya tak kalah riang.
“Azam. Lekas kemari, Cung”. Seru Abah Hasan- Pimpinan Pesantren Daar Al-Hikmah. Kala itu, Azam tengah membersihkan deretan kitab-kitab klasik milik Pimpinan Pesantrennya. Segera ia letakkan kemonceng di atas meja. Kemudian segera memenuhi panggilannya.
“Mari, Cung. Aku dikte surat untuk anakku, Ridwan, di Tanah Arab sana. Tulis dengan baik, ya.” Abah Hasan berkata lembut. Azam mengangguk mantap.
Walau di tengah gempuran teknologi yang menawarkan pelbagai jenis komunikasi secara instan, Abah Hasan memang acap kali saling surat-menyurat dengan anaknya, Ridwan. Tradisi dari bapaknya dulu, saat ia masih memijak Tanah Arab untuk menimba ilmu. Repot memang. Tapi percayalah, akan berbeda rasanya dengan fitur chatting yang kerap merusak tatanan kebahasaan dengan kebiasaan menyingkat kata yang semestinya. Apalagi ketika menunggu balasan. Raga dideru rasa antusias yang sangat. Hati berdebar. Setelah menerimanya, lekas membacanya dengan riang, untuk kemudian terburu untuk menorehkan balasannya kembali. Tentu dengan menjaga kaidah kebahasaan dengan cermat.
Setelah selesai mendikte surat, Azam teringat sesuatu. Ia hendak mengutarakan sesuatu. Tapi bibirnya selalu kelu saat hendak mengucapkannya. Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian, ia berkata, “ Abah, saat menulis surat untuk Gus Ridwan, kula tetiba teringat Shodiq, Bah. Ingin hati menyusulnya, Bah. Alhamdulillah. Kemarin rampung sudah Al-Fiyyah dipelajari. Sekarang Azam hendak berkelana ke Lirboyo sana. Mencari ilmu baru.”. mendengar hal demikian, Abah Hasan hanya tersenyum tipis.
“Apa bedanya, Cung. Ilmune pada, ngafsahinepun pada. Kalau mau, cari sana di Mesir atau Tanah Arab tempat anakku berada.”. Ungkap Abah Hasan. Seketika Azam tertunduk lesu, kemudian undur diri hendak mengantarkan surat untuk Gus Ridwan ke Kantor Pos.
Melihat respon Azam, Abah Hasan tertawa pelan. Muridnya yang satu ini memang unik. Kembali ia mengatakan mafhum yang sebenarnya.
“Untuk apa, Cung. Usahlah kau repot-repot beranjak ke Kantor Pos. Kau sendiri yang akan mengantarkan surat ini kepada Ridwan. Tepat di Tanah Arab sana.”.
Termangulah Azam seketika. Terpana dengan seruan Pimpinan Pesantrennya. Segera ia mengangguk mantap. Yang satu ini juga impiannya sejak dulu. Akhirnya dari sekian banyak proses jatuh bangun untuk berusaha menjadikan harapannya meraga nyata, tibalah ia.
- Menjawat Ketua OSIS SMP (X) Tetap menjawat sebagai Wakil Ketua, dengan beban kerja yang lebih mudah
- Juarawan 1 UN Tingkat Nasional (X)Jadi belajar lebih giat
- Diterima SMA Impian (X)Muhasabah di Pesantren Daar Al-Hikmah
- Menjadi Jawara Pencak Silat (X)Menjadi tidak sombong
- Menjadi Paskibraka Nasional (X)Tetap menjadi paskibraka di Pesantren
- Menjadi Ketua Asrama (X)Menjadi Tangan Kanan Abah Hasan
- Mesantren di Lirboyo (X)Belajar makin tekun guna diterima di Universitas Arab
- Hijrah ke Tanah Arab (X)
Demikianlah sepak terjang usaha Azam tuk meraih apa angannya. Dengan menjadi Tangan Kanan Abah, ia sadar. Pemahaman dan prinsip terbaik atas hidup kembali bersua dengannya. Kini, ia mampu untuk memeluk semuanya dengan tenang. Berdamai. Sungguh, laksana karang yang ribuan kali tertampik debur ombak, pada akhirnya terkikis juga oleh waktu. Sebenarnya, saat menghadapi ujian SNBP, Azam tak terlena dengan soal Nahwu-Shorof, akan tetapi ketika tes Quran menghadangnya, Azam gegalapan. Ia hanya hafal Juz Amma, itupun jarang ia muroja’ah kembali. Tapi terlepas dari semua itu, kini Azam bangun kembali istana harapnya dengan lebih megah. Ia tulis besar-besar.
- MENJADI HAFIZ AL-QUR’AN