Mengapa Antre Menjadi Bagian dari Pendidikan Pesantren?

Selama ini, tidak sedikit orang memandang pesantren sebatas institusi pendidikan agama. Padahal, pesantren sesungguhnya menciptakan pendidikan yang jauh lebih luas daripada itu. Selain mengajarkan ilmu melalui kitab-kitab yang dipelajari, pesantren juga merupakan ruang pembentukan karakter santri melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dijalani setiap hari. Rutinitas keseharian yang tampak sederhana bahkan kerap dipersepsikan sebagai aktivitas tanpa makna dan membosankan, padahal sejatinya menyimpan nilai-nilai pendidikan yang sering kali tidak disadari.

Salah satu kebiasaan yang hampir selalu dijumpai dalam kehidupan pesantren adalah budaya antre. Lalu, mengapa antre disebut sebagai bagian dari pendidikan? Bagi sebagian orang, antre mungkin hanya dipahami sebagai kegiatan menunggu giliran seperti mengantre menggunakan kamar mandi, berwudu, membeli makanan, maupun menunggu giliran mengaji. Padahal, kebiasaan sederhana tersebut merepresentasikan nilai-nilai pendidikan seperti belajar menghargai hak orang lain, melatih kesabaran, mengendalikan ego, serta membiasakan diri hidup tertib dalam kehidupan bersama.

Dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim, Syekh al-Zarnūjī menukil sebuah nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang enam syarat utama dalam menuntut ilmu. Nasihat tersebut kemudian populer dalam bentuk syair:

اَلَا  لَا تَنَالُ الْعِلْمَ اِلَّا بِسِتَّةٍ# سَأُنْبِيْكَ عَن مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ  # وَاِرْشَادِ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Syair tersebut menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak dapat diraih tanpa enam syarat, yaitu ذَكَاء  (kecerdasan), حِرْص  (kesungguhan), اصْطِبَار  (kesabaran),بُلْغَة  (bekal yang memadai), إِرْشَادِ أُسْتَاذٍ  (bimbingan seorang guru), dan  طُولِ زَمَانٍ  (waktu yang panjang).

Dari keenam syarat tersebut, اصْطِبَار  (kesabaran) merupakan salah satu unsur yang menentukan keberhasilan dalam menuntut ilmu. Dalam tradisi pesantren, kesabaran tidak hanya diukur dari kemampuan bertahan menghadapi materi pembelajaran, tetapi juga dari kesiapan menjalani berbagai proses dan kebiasaan yang membentuk karakter. Budaya antre merupakan salah satu manifestasinya.

Kesabaran bukan hanya menjadi salah satu syarat dalam menuntut ilmu, tetapi juga menjadi ruh yang mengiringi seluruh prosesnya. Karena itu, Syekh al-Zarnuji juga mengatakan bahwa:

وَاعْلَمْ بِأَنَّ الصَّبْرَ وَالثَّبَاتَ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ

“Ketahuilah, Sabar dan tabah itu pokok yang paling utama dalam segala hal”

Selain untuk melatih sabar, antre memiliki makna yang jauh melampaui persoalan urutan, akan tetapi cara paling sederhana untuk membiasakan seseorang hidup dalam keteraturan bersama.

Ketika ratusan santri hidup dalam ruang, waktu, dan fasilitas yang sama, ketertiban tidak mungkin hanya bergantung pada aturan yang tertulis. Ia harus tumbuh menjadi kesadaran. Di sinilah antre bekerja sebagai media pendidikan. Santri belajar bahwa haknya dibatasi oleh hak orang lain, dan kepentingannya tidak selalu harus didahulukan. Kesediaan menunggu giliran pada akhirnya bukan sekadar soal kesabaran, melainkan kemampuan menempatkan diri secara proporsional di tengah kehidupan bersama.

Barangkali pembentukan karakter tidak selalu lahir dari peristiwa-peristiwa besar. Ia justru tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang hingga menjadi bagian dari diri seseorang. Menghargai hak orang lain dan membiasakan hidup tertib adalah salah satunya. Nilai tersebut sejalan dengan kaidah fikih yang dijelaskan oleh Syekh Walīd bin Rāsyid as-Sa’īdān dalam Talqīh al-Afhām al-‘Aliyyah bi Syarh al-Qawā’id al-Fiqhiyyah, yaitu:

كُلُّ مَنْ سَبَقَ إِلَى مُبَاحٍ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

Siapa saja lebih dahulu menemukan / mendapatkan  yang mubahat maka dia yang lebih berhak atas perkara tersebut.

Di balik redaksinya yang singkat, kaidah ini memberikan gambaran sederhana tentang bagaimana Islam memandang hak seseorang. Kalau dalam perkara yang belum menjadi milik siapa pun saja Islam mengajarkan agar hak orang yang datang lebih dahulu dihormati, apalagi dalam relasi kehidupan bersama yang setiap harinya bersinggungan dengan hak orang lain.

Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang memilih tetap berada di barisan antre. Tidak ada pula penghargaan khusus bagi mereka yang rela menunggu gilirannya. Tetapi di situlah letak proses pendidikannya. Bukan pada antreannya, melainkan pada kebiasaan menahan diri untuk tidak selalu ingin didahulukan. Perlahan, santri belajar mengelola ego, menghargai giliran, dan menyadari bahwa hidup bersama dapat berjalan jika setiap orang mau saling menghormati.

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Mengapa Antre Menjadi Bagian dar...
Selama ini, tidak sedikit orang memandang pesantren sebatas in...
Rahasia (dan) Tuhan
Telah kau jadikan jiwaku terikatmu Dengan simpul mati itu Pega...
Letak Maju Mundurnya Bangsa Ada ...
Era globalisasi merupakan era yang sudah maju dan modern denga...
Pesantren Menjawab Tantangan Bon...
Indonesia sedang memasuki salah satu fase paling menentukan da...
KAJIAN KITAB MATAN RIYADUL BADI’AH
MAJELIS KAJIAN KITAB KUNING KEBON JAMBU KITAB AT-THAHARAH Hari...
Yang Terkadang Luput
Rembulan malam ini terlihat sempurna. Besar, bulat, dan bersin...

Hubungi kami di : +62859-1068-58669

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon