PANGGIL AKU “KANG” SAJA : SEBUAH STUDI SOSIAL-BUDAYA PESANTREN BABAKAN CIWARINGIN CIREBON

Gus atau Ning merupakan sebuah panggilan populer dalam budaya pesantren yang diberikan khusus kepada seorang anak kyai, ulama atau orang yang dihormati.

Gus adalah panggilan penghormatan bagi anak laki-laki, sedangkan Ning adalah panggilan penghormatan bagi anak perempuan.

Asal kata Gus dan Ning

Kata Gus berasal dari kata “Bagus” atau “Cah Bagus”, yang memiliki arti baik atau anak baik. Sedangkan kata Ning, dilansir dari siskesakti.com berasal dari kata bahasa Jawa yang memiliki arti “Nona” atau “Nona Muda”.

Tujuan penyematan panggilan Gus atau Ning di dunia pesantren ini tidak hanya berfungsi sebagai panggilan penghormatan, akan tetapi sebagai bentuk doa dan harapan baik, semoga orang yang dipanggil dengan nama tersebut memiliki akhlak dan perilaku yang baik, serta mampu melanjutkan dakwah ilmu agamanya kepada masyarakat.

Jadi, panggilan Gus atau Ning tidak hanya sebatas panggilan penghormatan, sebab di balik penyematannya terdapat tanggung jawab besar yang ditanggung oleh si mpunya.

Tempat asal panggilan Gus dan Ning

Panggilan Gus atau Ning ini sendiri dipopulerkan oleh keluarga pesantren daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, hal ini dibuktikan oleh beberapa tokoh ulama sana yang terkenal dengan panggilan tersebut, seperti Alm Gus Dur (KH Abdurrohman Wahid), Gus Mus (KH. Musthofa Bisri), Gus Baha (KH. Muhammad Bahauddin Nur Salim), Ning Sheila Hasina, Ning Imaz Fatimatuzzahara, dsb. Namun tentu saja panggilan Gus dan Ning ini adalah sebuah budaya dari suatu daerah.

Ulama di Pesantren Babakan Tidak Usah Dipanggil Gus atau Ning

Ada cerita unik perihal panggilan Gus dan Ning. Kisah ini berasal dari Komplek Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, yang mana di komplek tersebut terdapat lebih dari 40 pesantren. Dan, tentu saja terdapat lebih dari 40 ulama di dalamnya. Akan tetapi, dari sekian banyaknya ulama tersebut, tidak ada satu pun yang dipanggil Gus atau Ning.

Kenapa ini bisa terjadi?

Kisah ini diceritakan oleh Yayu Awa – pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy- saat penulis sowan kepada beliau. Yayu Awa bercerita bahwa dulu ketika ayah beliau, Almaghfurlah KH. Amrin Hannan masih hidup, beliau pernah bertanya kepada ayahnya, kenapa di Pesantren Babakan itu ulamanya enggan untuk dipanggil dengan panggilan Gus atau Ning, berbeda dengan Pesantren Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Kemudian Almaghfurlah KH. Amrin Hannan menceritakan alasan kenapa di Pesantren Babakan ulamanya enggan untuk dipanggil Gus atau Ning. Beliau berpendapat bahwa hal ini disebabkan karena di Cirebon terdapat tokoh Wali Songo, Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang dimakamkan di komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati Desa Astana Kec. Gunung Jati Kab. Cirebon. 

Loh, lantas apa bedanya dengan daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur? Bukankah di sana juga terdapat banyak tokoh Wali Songo?

Almaghfurlah KH. Amrin pun menambahkan, kenapa terdapat perbedaan, adalah karena Sunan Gunung Jati itu merupakan Sulthanul Auliya atau Pemimpin para wali dari kesembilan Wali Songo tersebut, sehingga bisa dibilang kedudukannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tokoh Wali Songo yang lain.

Maka, para ulama Pesantren Babakan merasa kurang pantas jika harus menyandang panggilan mulia Gus atau Ning, karena kewibawaan mereka tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Sunan Gunung Jati.

Panggil Aku “Kang” Saja

Karena panggilan Gus atau Ning itu dirasa terlalu berat, maka pada akhirnya ulama di Pesantren Babakan bersepakat bahwa mereka tidak perlu dipanggil dengan panggilan Gus atau Ning, sebagai penggantinya cukup dengan panggilan “Kang” yang memiliki arti Kakak atau seseorang yang lebih senior. Senior di sini bisa berarti senior dalam usia maupun keilmuan.

Panggilan “Kang” ini berlaku baik untuk ulama laki-laki maupun perempuan, jadi jangan aneh ketika ada seorang tokoh ulama perempuan di Babakan tapi dipanggil dengan panggilan “Kang”.

Jadi, sama seperti halnya Kartini yang enggan dipanggil dengan tambahan nama Raden Ajeng, begitupun para ulama Pesantren Babakan yang enggan dipanggil Gus atau Ning.

Ketawadhuan Para Ulama Pesantren Babakan

Selain budaya panggilan “Kang”, di Pesantren Bakakan juga terdapat budaya unik yang lain, yaitu budaya enggan untuk duduk di kursi terhormat ketika diundang pada acara-acara tertentu, ulama Babakan seringkali lebih memilih untuk duduk bareng bersama para masyarakat pada umumnya. 

Budaya ini tidak lain adalah sebagai bentuk ketawadhuan mereka. Masih ada orang yang mungkin lebih pantas untuk duduk di kursi kehormatan tersebut.

Wallahu ‘A’lam

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

PANGGIL AKU “KANG” SAJA : SEBUAH...
Gus atau Ning merupakan sebuah panggilan populer dalam budaya ...
CELAH TUK MENYERAH
          &n...
MENCINTAI LINGKUNGAN ADALAH SALA...
“Cahaya matahari kini sudah menyinari bumi yang paling kita ci...
SISTEM PESANTREN BUKAN FEODALISME
Raisya menatap kaca spion mobil. Jilbab creamnya sedikit berge...
Merefleksikan 81 Tahun Kemerdeka...
Pagi perlahan menghangat di halaman Kebon Jambu al-Islamy, Sen...
Di Sudut Pondok Pesantren 
Di sudut pondok pesantren, ada banyak cerita yang mungkin tida...

Hubungi kami di : +62859-1068-58669

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon