Indonesia adalah negara yang sempurna. Bayangkan saja kekayaan alam yang begitu melimpah. Kita punya segalanya, tanah subur yang mampu ditanami berbagai tumbuhan (bahkan di Papua, katanya akan ditanami sawit). Kekayaan nabati kita memang keren. Pra -kemerdekaan rempah-rempah kita menjadi harta karun luar biasa bagi para pelancong Eropa dan sekitarnya.
Hewan-hewan di Indonesia pun tidak kalah keren. Banyak hewan eksotis Asia Tenggara yang sangat menawan bahkan langka di dunia.
Tidak berhenti sampai situ. Adat-istiadat, budaya, bahasa, dan tradisi setiap suku menjadi destinasi tersendiri bagi para turis. Mereka datang jauh-jauh dari negara masing-masing untuk melihat tari Kecak di Bali, Sopan santun Jawa dan bangunan-bangunan unik setiap daerah di Kalimantan dan Sulawesi (Bahkan katanya di Sumatera masih ada dinosaurus). Dan itu sangat keren!
“Ya… Setidaknya, itulah yang dikatakan suara dari video pembelajaran itu.”
Kelas kami sedang belajar menggunakan video edukatif dengan materi nasionalisme (katanya ini model belajar yang lebih modern dan praktis di pondok kami. Dan dianggap lebih efektif).
Dalam ruangan yang gelap ini, mataku terbuka tapi tidak melihat apapun. Hanya kosong. Juga tidak mendengar apapun. Suara video yang penuh omong-kosong itu! Ah! Di mana letak keren itu?
Jika sawit ada di mana-mana bahkan harus menggundulkan satu hutan adat, maka apa kerennya? Jika hutan itu sudah habis dan banyak hewan eksotis pada akhirnya kehilangan habitatnya dan mati, maka apa kerennya? Jika semua budaya itu hanya menjadi seonggok materi pembelajaran di sekolah tanpa ada toleransi antar suku, ras, perundungan tetap ada, bullying masih terjadi, maka apa? apa kerennya? APA SEMPURNANYA?!
“Eit.., Kalau berpikir terlalu jauh, Asep.” Bambang, laki-laki berkaca mata, teman sekolahku berkata demikian.
Kami berada di kamar sekarang. Ada empat orang di sini. Aku, Asep yang sedang berdiri dan berceloteh tentang video tadi. Bambang, laki-laki berkaca mata yang duduk membaca buku (dia yang paling pintar di antara kami). Ada Jupri yang selalu sibuk memakai dan merapikan sarung di setiap saat dan tempat (bahkan sekarang sedang merapikan sarungnya). Dan Gembul yang juga sibuk dengan makanan di pojok kamar (masih ada satu kresek yang belum dia buka).
“Benar kata Bambang. Menurutku Indonesia baik-baik saja, kok,” kata Jupri, masih dengan sarung yang belum selesai dipakai dan dirapikan.
Di luar matahari bersinar semestinya. Memberikan hangat dan sinarnya kepada bumi dan Indonesia di beberapa tempat, panasnya tidak main-main tapi sudahlah kita sedang tidak membahas matahari. Angin berembus mencoba menyaingi panas dan menggoyangkan pohon besar itu. Cuaca yang normal setidaknya begitulah yang terjadi sampai video edukatif itu datang (yang harus aku katakan: banyak bohongnya!).
“Tck, Kalian semua gak mengerti. Nih, aku atau kasih tahu ya.” Aku buka cemilan. Memakannya sambil berdiri, menjelaskan:
“Video edukatif tdpi tidak menunjukkan apapun pada realitanya. Banyak orang jahat yang punya sifat buruk mengurus negara ini.” Aku buang sampah cemilannya (yang masih ada sedikit isinya ke lantai, sembarangan).
“Mau dibawa kemana coba negara ini dengan pemerintah yang kayak begitu?” Aku berjalan, mengambil air di lemari, meminumnya sambil berdiri, menenggak habis dan membuangnya ke pojok kamar. Bersendawa.
“Intinya begitu: Indonesia ini gak sempurna. Bahkan lihat ini!” Aku berjalan mendekati kalender, menunjuk tanggal 17 Agustus. “Bahkan tanggal ini gak lebih dari sekadar tanggal merah biasa. Sudah kehilangan esensi perjuangannya. Nasionalisme dan patriotisme pahlawan masa lalu sudah gak terasa”. Aku berjalan mendekati Gembul. Mengambil makanannya. Memakannya sampai habis, tidak ada sisa kecuali wajah kecewa Gembul. Bersendawa.
“Anak muda gak punya rasa cinta terhadap negaranya sendiri. Dan ini terjadi gara-gara pemerintahnya yang gak becus! Percuma saja punya alam yang keren, tapi pemerintahnya fokus pada sawit. Percuma saja semua hewan eksotis itu, pada akhirnya tidak lebih dari bangkai yang mati gara-gara kehilangan habitatnya. Percuma saja dengan budaya yang melimpah, bahasa khas daerah, tradisi, dan segala macamnya hanya memperburuk segala. Dan ini gara-gara pemerintah! Sekali lagi, gara-gara pemerintah!” Aku mengacungkan jari ke atas seperti mahasiswa pendemo.
Lengang. Hening.
Aku duduk.
Jupri menghentikan gerakan merapikan sarungnya (dari tadi belum selesai). Gembul di pojok mengeluarkan sedikit air mata. Bambang, menarik napas panjang. Menutup bukunya.
“Indonesia begini bukan hanya gara-gara pemerintah, Asep.”
Lengang lagi di antara kami. Kalimat Bambang itu membawa kamar ke dalam suatu hening yang berbeda dari sebelumnya. Aku melengkapi hening itu dengan diam. Menatap Bambang. Jupri tetap berdiri dengan sarung yang masih sedang dibenarkan. Gembul… Ntahlah aku tidak sempat memperhatikan. Mata Bambang menatap dari balik kaca matanya.
“Indonesia berhenti di sini juga gara-gara kita, rakyatnya, yang juga sama jahatnya dengan pemerintah. Kita tidak pernah menyadarinya karena kita memang tidak pernah benar-benar peduli. Tentang alam. Sudah berapa kali Pandawara membersihkan sungai yang kotor? Apa yang berubah? Tidak ada. Malah masyarakat lebih semangat mengotori. Ada berapa anak muda yang tidak malu untuk bekerja menjadi petani? Sangat sedikit. Semua hidup dalam kungkungan rasa malu dan gengsi. Percuma.”
“Tapi, Bambang. Pemerintahnya salah. Kamu malah membela mereka. Kamu buzzer? Lihat Kalimantan. Berapa kali banjir bandang terjadi setelah penanaman sawit? Berapa kali pemadaman listrik?” Kataku.
“Itu sama sekali tidak menutup fakta kalau kita juga ikut bersalah, Asep.”
“Salah apa? Salah memilih pres—”
“Salah bertingkah.”
Bambang berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan,
“Bahkan kitanya juga Asep. Kita santrinya juga tidak pernah benar-benar baik dalam bertingkah. Kamu makan dan minum sambil berdiri. Membuang sampah di situ seolah itu hal biasa, bahkan masih ada sisanya meski sedikit. Dan meminta makanan Gembul tanpa izin sama sekali. Maka apa bedanya dengan pemerintah?”
“17 Agustus kehilangan makna karena kita yang tidak pernah benar-benar ingin berkontribusi dan melestarikan perjuangan para pahlawan.” Suara Bambang parau.
“Kita juga… Salah dalam hal ini.”
– – –
Indonesia adalah negara yang sempurna. Apakah ada kekurangan di sini? Tanah subur. Hutan hijau melimpah. Spesies fauna yang tidak sedikit. Dan budaya yang tidak terhitung.
Apa yang kurang? Apa yang tidak kita punya dibanding negara lain?
Kualitas personal.
Hari ini tanggal 17 Agustus, hari merdeka untuk negara.
Kami berempat duduk di bawah pohon besar. Merasakan angin, memainkan anak rambut, menggoyangkan dedaunan. Beberapa jatuh berserakan.
Aku berdiri. Memunguti beberapa.
“Hei, anak muda.” Kataku menunjuk Bambang, Jupri dan Gembul. “Kalian cinta tanah air tidak? Kalau cinta, cepat bantu aku memunguti dedaunan ini. Jangan biarkan Indonesia kotor gara-gara kita tidak peduli padanya.”
Bambang tersenyum. “Baiklah Kapten! Kita tunjukkan rasa cinta kita, para santri kepada tanah air.” Diakhiri tawa. Berdiri, mulai memunguti daun.
“Gembul menyusul, berdiri. Juga Jupri, dia berdiri bukan untuk memunguti daun, tapi untuk merapikan sarungnya.
Kami bertiga tertawa melihat Jupri.
Jupri bingung melihat kami tertawa. Tapi kemudian ikut tertawa.
Ya, itu benar. Indonesia adalah negara yang sempurna. Negara kami. Dan kami mencintainya. Jika tidak bisa membenahi pemerintahnya, maka benahi saja dulu diri sendiri.
Dengan cara masing-masing.
Karena cinta bisa berbentuk apapun.