MENJAGA TRADISI, MENGADAPTASI INOVASI: SANTRI DAN AI

Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Beberapa aktivitas mulai dari pendidikan, komunikasi, hingga mencari informasi, semakin mudah dilakukan dengan bantuan AI.  Lalu, bagaimana nilai-nilai kepesantrenan dapat diintegrasikan dengan teknologi AI, tanpa menghilangkan identitas dan otentitas pesantren?

Sementara itu, tradisi kepesantrenan identik dengan pengajaran kitab-kitab turast (kitab kuning) klasik yang diwariskan para ulama terdahulu. Dalam konteks ini, peran santri muncul untuk menghadapi tantangan zaman dalam beradaptasi ditengah arus modernitas. Oleh karena itu, diperlukan menjaga keseimbangan antara melestarikan tradisi kepesantrenan dan mengadaptasi inovasi digital berbasis AI. 

AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Tradisi

Menolak perkembangan teknologi sepenuhnya bukan menjadi solusi. Kehadiran AI tidak bisa dihindari begitu saja, sebab teknologi telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat modern. Dalam konteks ini, santri perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan arah. Teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti nilai dan tradisi keilmuan Islam. 

Manfaat AI sangat terasa bagi santri dalam dunia pendidikan pesantren khususnya mahasantri. Kolaborasi antara penelusuran berbagai situs rujukan dengan bantuan AI untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang merujuk pada kitab turats adalah kombinasi yang sangat pas. Beberapa aplikasi seperti Google Lens atau Microsoft Dictate yang mampu membantu membaca teks Arab atau mengubah suara menjadi teks maupun  sebaliknya. 

Adaptasi teknologi termasuk AI, bukan berarti larut dalam arus modenisasi secara membabi buta. Justru, santri mampu menyaring setiap perkembangan dengan kacamata nila-nilai Islam dan kepesantrenan. Teknologi harus dijadikan alat dakwah dan penguatan nilai-nilai keilmuan, bukan menjadi ancaman terhadap keaslian tradisi pesantren. Dengan cara mempertahankan pengajaran kita turats, tetapi juga memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan pengetahuan tersebut.

Perpaduan antar kitab turast dan teknologi digital harus menjadi kekuatan baru dalam mencetak generasi santri yang tidak hanya paham secara keilmuan agama, tetapi juga adaptif terhadap tantangan global.

Sanad Keilmuan Di Tengah Era Kecerdasan Buatan

Penggunaan AI dalam bidang keagamaan juga memerlukan kehati-hatian. Tidak semua jawaban yang diberikan AI dapat dijadikan rujukan agama secara mutlak. Dalam Islam, ilmu tidak hanya dinilai dari isi, tetapi juga sanad dan kredibilitas guru yang menyampaikan. Misalnya, menjadikan AI sebagai pedoman hukum agama tidak diperbolehkan, karena rujukan agama harus diambil dari sumber-sumber yang sah.

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhazdzab berkata:

 ولايَأْخُذُ الْعِلْمَ إلَّا مِمَّنْ كَمُلَتْ أَهْلِيَّتُهُ وَظَهَرَتْ دِيَانَتُهُ وَتَحَقَّقَتْ مَعْرِفَتُهُ وَاشْتَهَرَتْ صِيَانَتُهُ وَسِيَادَتُهُ: فَقَدْ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ وَمَالِكٌ وَخَلَائِقُ مِنْ السَّلَفِ هَذَا الْعِلْمُ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُ

Artinya: “ Janganlah orang megambil ilmu kecuali dari orang yang sempurna keahliannya, terlihat jelas keteguhan agamanya, luas pengetahuannya dan masyhur  kredibilitasnya. Ibnu Sirin Imam Malik, dan ulama salaf berkata: Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab)

Karena itu, AI tidak boleh menggantikan peran ulama atau guru dalam memahami agama. Santri tetap harus menjadikan kiai dan kitab turast sebagai rujukan utama, sedangkan AI cukup dijadikan sarana pendukung pembelajaran.

Peran Santri Dalam Membangun Ekosistem Dakwah Digital

Kehadiran santri juga membawa tantangan lain, terutama maraknya informasi keagamaan yang tidak jelas sumbernya di media sosial. Saat ini, banyak masyarakat lebih mudah percaya pada potongan video atau jawaban singkat di internet tanpa memeriksa validitasnya.

“sungguh miris sekali ketika saya mencoba mencari hukum “ziaroh kubu” yang kuncul justru hukumnya itu haram” ujar KH. Aziz Hakim Syaerozie S.Fil, selaku ketua PCNU Cirebon Dalam kegiatan Madrasah Jurnalensa tahun 2025, di BLKK PCNU kabupaten Cirebon. Akibatnya, tidak sedikit muncul pemahaman agama yang keliru, provokatif bahkan menyesatkan. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pesantren.

Dalam situasi seperti ini, kontribusi santri menjadi sangat penting. Tidak cukup hanya memahami kitab, tetapi juga perlu mampu berdakwah di ruang digital. Media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan Islam yang ramah, moderat dan berlandaskan keilmuan yang jelas.

Santri perlu hadir untuk mengimbangi konten-konten keagamaan yang tidak bertanggung jawab. Dengan bekal ilmu agama dan kemampuan teknologi, santri dapat menjadi jemabatan anatara tradiri pesantren dan masyarakat digital.

Meski demikian, pemanfaatan teknologi tetap harus dibatasi oleh etika. Kemudahan akses informasi sering membuat manusia terlalu bergantung pada teknologi hingga melupakan interaksi langsung. Padahal, dalam tradisi pesantren, keberkahan ilmu tidak hanya diperoleh dari membaca, tetapi juga melalui adab, keteladanan guru, dan kedekatan spiritual. Karena itu, pesantren perlu membangun keseimbangan antara menjaga tradisi dan menerima inovasi. Dalam hal ini, santri dan pesantren perlu memegang prinsip 

                             “المحافظة على القديم الصالح، والأخذ بالجديد الأصلح”

“Menjaga sesuatu yang baik, dan mengambil sesuatu yang lebih baik.”

Pada akhirnya, masa depan pesantren tidak terletak pada penolakan terhadap teknologi, tetapi pada kemampuan santri dalam mengendalikannya dengan nilai-nilai Islam. Dengan berpandu kepada kedalaman ilmu agama dan kemampuan adaptasi digital.

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

MENJAGA TRADISI, MENGADAPTASI IN...
Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar teknologi...
Matangkan Rencana Program Agustu...
CIREBON, kebonjambu.ponpes.id Tim Jurnalis Pondok Pesantren Ke...
Mengapa Antre Menjadi Bagian dar...
Selama ini, tidak sedikit orang memandang pesantren sebatas in...
Rahasia (dan) Tuhan
Telah kau jadikan jiwaku terikatmu Dengan simpul mati itu Pega...
Letak Maju Mundurnya Bangsa Ada ...
Era globalisasi merupakan era yang sudah maju dan modern denga...
Pesantren Menjawab Tantangan Bon...
Indonesia sedang memasuki salah satu fase paling menentukan da...

Hubungi kami di : +62859-1068-58669

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon