Salah seorang yang miris melihat keadaan negara saat ini
***
Sebuah cerita yang diambil dari kisah nyata
“Baik anak-anak, pelajaran hari ini kita tutup. Jangan lupa kerjakan PR kalian!”
“Baik Bu.”
Siang ini, Pras dan teman-temannya telah menyelesaikan pelajaran Bahasa Indonesia. Sebelum bel pulang berbunyi, Bu Heni memberikan tugas kepada para siswa kelas 6 untuk membuat cerita tentang kehidupan masing-masing. Sebuah biografi singkat tentang diri pribadi.
Pras merupakan siswa kelas 6 di sebuah sekolah yang terletak di kaki pegunungan. Sekolah yang jauh dari perkotaan ini menjadi satu-satunya sekolah yang tetap berdiri meskipun jauh dari perhatian pemerintah kabupaten. Bangunannya sudah tampak kumuh karena tidak pernah direnovasi sejak awal berdirinya. Jangankan untuk merenovasi, para guru yang mengajar pun tidak sama sekali diberi gaji. Untungnya ada beberapa orang tua siswa yang berinisiatif urunan setiap bulan untuk memberikan intensif pada guru.
“Katanya sih minggu depan.” Keluar dari kelas, Pras berbincang dengan Anto teman sebangkunya.
“Wah sepertinya enak ya, setiap hari kita dikasih makan gratis. Ga perlu jajan deh.” Timpal Ubis yang masih teman bermainnya.
“Nanti kita bisa menabung, banyak uang deh. Kaya kita.” Seloroh Pras disusul dengan tawa kedua temannya.
Saat di kelas tadi, Bu Heni menceritakan kalau sekolah mereka akan mendapatkan program makan siang gratis. Program dari pemerintah pusat ini sebenarnya sudah ramai diperbincangkan sejak dua bulan lalu. Namun baru mendapat kabar baik hari ini. Katanya akan didistribusikan ke sekolah mereka minggu depan.
“Aku duluan ya.”
Setiba di gerbang sekolah, Pras berbelok. Tidak langsung pulang bersama teman-temannya. Ia menuju ke sebuah warung yang terletak di samping sekolah. Masih di dalam lingkungan sekolah, satu-satunya warung yang kerap didatangi oleh para siswa pada jam istirahat.
“Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikumsalam. Pras. Gimana pelajaran di sekolah hari ini?”
“Seru Bu, tadi Bu Heni memberikan kami tugas menulis biografi diri sendiri. Tapi Pras bingung mau nulis apa?” Pras menceritakan tentang sekolahnya hari ini kepada pemilik warung sekolah yang ternyata adalah ibunya.
“Ah gampang, kamu ceritakan saja pengalaman hidup kamu. Entah itu pengalaman senang maupun sedih. Beres.” Ibu Pras memberikan saran.
“Pengalaman apa ya, Pras ga punya pengalaman menarik untuk diceritakan Bu.” Jawab Pras sambil memegang dagu dan memandang jajanan yang tergantung di warung.
“Ya sudah, nanti juga ketemu sendiri. Sekarang makan dulu, setelah itu bantu ibu beres-beres.”
Pras tinggal berdua bersama ibunya. Ayahnya telah meninggal saat ia masih kelas dua SD. Pras tumbuh menjadi anak yang tangguh dan bertanggung jawab. Selalu membantu serta patuh terhadap perintah ibunya.
Rumah Pras tidak jauh dari sekolah, mungkin hanya selemparan batu. Terpisah oleh tiga rumah. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Pras dan ibunya menyiapkan semua keperluan jualan di warung. Sengaja datang lebih awal dibanding teman-temannya yang lain.
Warung Ibu Pras tidak hanya menjual jajanan atau makanan ringan, melainkan nasi dan juga makanan berat yang lain. Menjadi tempat langganan para siswa saat perut lapar. Termasuk Anto dan Ubis.
“Kapan program makan siang gratis itu dimulai Pras.” Sambil membereskan makanan di warung, Ibunya bertanya.
“Katanya sih minggu depan. Entahlah.”
Ketika Semuanya Bermula
“Buah apa yang paling manis?”
“Buahahahaha...”
Pras, Anto, dan Ubis siang itu sedang asyik mengobrol. Setelah menghabiskan jatah makannya masing-masing.
Sejak jam istirahat tadi, para siswa sudah tidak sabar menunggu mobil pengantar makan siang gratis. Gerbang sekolah dipenuhi anak-anak yang sudah keluar kelas. Mereka yang masih di kelas sudah tidak sabar melihat teman yang lain sudah keluar. Takut tidak kebagian kalau ternyata makan siang gratisnya datang.
Tuuuuut tuutttt tuttttt…
Mobil yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sontak saja para siswa bertambah heboh. Beberapa bahkan ada yang menyanyikan lagu hits tentang makan siang gratis ini.
Kabar baiknya, kekhawatiran siswa yang takut tidak kebagian itu tidak terjadi. Semuanya mendapatkan makan siang gratis.
“Pras, ke warung ibumu yuk, mau jajan nih.” Ajak Ubis.
“Gassin.” Jawab Pras dan Anto kompak.
Sesampainya di sana, tidak banyak siswa yang jajan. Biasanya pada jam istirahat seperti ini banyak siswa yang makan atau hanya sekedar jajan makanan ringan. Termasuk Anto dan Ubis yang menjadi pelanggan tetap nasi kuning ibu Pras.
“Ubis, Anto, makan seperti biasanya?”
Melihat Pras dan kedua temannya mendekat ke warung, Ibu Pras langsung menyambut.
“Engga dulu bu, sudah makan tadi. Kan hari ini sudah dibagikan makan siang gratis. Hehe.” Timpal Anto sekaligus mewakili Ubis.
“Kami pesan minum aja bu, es teh manis dua yaa.” Seru Ubis seolah mengerti isi hati kawan dekatnya.
Pras langsung cekatan membantu ibunya menyiapkan pesanan. Tiga es teh manis, dua untuk kawannya, dan satu untuk dirinya sendiri.
Setelah mengantarkan pesanan dan kembali ke dalam warung, Ibu Pras merenung melihat jualannya yang masih tersisa banyak, terutama nasi dan lauk pauk. Padahal biasanya banyak yang tidak kebagian karena kehabisan. Di satu sisi, ia merasa senang melihat para siswa riang mendapatkan makan siang gratis. Di sisi lain, sedih melihat jualannya yang masih tersisa banyak.
Hari ini, hanya sepertiga jualan yang laku. Terpaksa sisa makanan yang tidak terjual harus dibawa pulang lagi. Lalu dibagikan kepada tetangga rumahnya, daripada nantinya basi tidak termakan.
Secercah Harapan
Dua bulan sejak pertama kali program makan siang gratis dibagikan. Tidak ada yang berubah, bangunan sekolah masih jauh dari definisi indah. Gaji guru yang belum saja menunjukkan tanda-tanda akan diberikan oleh pemerintah. Hanya kondisi warung ibu Pras yang mengalami perubahan berarti. Sudah dua bulan ini juga warungnya sepi.
Satu minggu setelah makan siang gratis dibagikan, ada himbauan dari pihak sekolah – yang katanya arahan dari badan penyelenggara makan siang gratis – agar para siswa membawa minum sendiri dari rumah. Membawa wadah ramah lingkungan guna mengurangi sampah plastik – katanya.
Bukannya bertambah laku, warung milik ibu Pras justru semakin terpuruk. Hanya lima persen dari pendapatan sebelum-sebelumnya, saat anak-anak masih mampir ke warungnya saat jam istirahat. Terpaksa Pras tidak diberikan uang jajan. Jangankan buat jajan, iuran untuk guru saja belum dibayar selama satu bulan ini.
Pagi itu, seperti biasa, Pras dan ibunya berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Sebelum anak-anak yang lain berdatangan. Tidak seperti sebelumnya, barang dagangan yang dibawa hari ini tidak bergitu banyak. Khawatirnya akan tersisa lagi.
“My Little Bolu Ketan.”
Anak-anak mulai berdatangan tidak lama kemudian. Ada yang sambil menyanyikan lagu hits itu.
“Hai Pras, sudah datang?”
“Seperti biasa, saat matahari masih terlelap pun aku sudah datang.” Jawab Pras saat berpapasan dengan Anton di lorong kelas.
“Hari ini menunya apa ya?” Ubis yang tidak sengaja berpapasan juga ikut nimbrung.
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak, mereka akan menebak-nebak menu makan siang gratis. Dia yang menebak dengan tepat biasanya tersenyum bangga, seolah-olah dia seorang dukun yang bisa meramal masa depan.
Namun, pertanyaan Ubis tidak juga terjawab hingga bel pulang berbunyi.
Pasalnya, hari itu mobil yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Beberapa siswa padahal sudah ada yang menunggu di gerbang sekolah, bersiap menyambut kedatangan mobil penghantar. Semuanya jelas saat Bu Heni mengumumkan lewat pengeras suara, bahwa hari ini makan siang gratis diliburkan.
Banyak yang berseru kecewa. Dengan kondisi perut lapar, pikiran pusing setelah belajar di kelas tadi, ditambah putusnya harapan mendapatkan makan siang gratis. Akhirnya, mereka beramai-ramai menuju warung ibu Pras.
Ibu Pras yang sedang duduk dan merapihkan jajanan, terheran-heran melihat banyak anak-anak yang mulai berdatangan ke warungnya. Ada yang hanya sekedar membeli makanan ringan, es cekek, dan tidak sedikit yang memesan makanan berat. Karena hari itu hanya membawa sedikit nasi dan laukan, banyak siswa yang tidak kebagian.
***
“Alhamdulillah Pras, hari ini jualan kita laris.” Sambil membereskan warung, ibu Pras menyampaikan kabar baik. Pras baru keluar dari kelas.
“Syukurlah, tadi teman-teman Pras juga banyak yang mengeluh tidak kebagian, Bu.”
Saat di kelas tadi banyak anak-anak yang mengeluh karena makan siang gratis hari ini diliburkan, beberapa ada yang mengaku lebih menyesal karena tidak juga kebagian makan di warung.
“Hehehe.. Ya sudah sekarang bantu ibu beres-beres. Kita makan di rumah saja. Ibu akan memasak makanan spesial hari ini.”
“Yeeeeeeh...”
Makan siang gratis ternyata diliburkan juga keesokan harinya. Hingga dua minggu ke depan. Menurut kabar burung yang beredar, ada kendala mengenai pendataan di dapur masaknya. Tidak sesuai dengan standar dari pusat. Jadi operasionalnya terpaksa diberhentikan.
Situasi ini justru menjadi kabar baik bagi Pras dan Ibunya. Jualannya selalu laris. Kembali menjadi tempat favorit jajan anak-anak saat jam istirahat. Dengan demikian, Pras kembali diberi uang jajan dan iuran untuk guru sekolahnya.
Selama dua minggu itu keluarga Pras kembali merasakan kehidupan yang lebih sejahtera. Kebutuhan pokok serta perlengkapan rumah yang sebelumnya sulit terpenuhi sekarang bisa dibeli kembali. Secercah harapan itu muncul setelah dua bulan bergulat dengan kenyataan pahit. Bagi keluarga Pras yang hanya bergantung kepada usaha warung di sekolah, sangat kesusahan saat ada program pemerintah yang justru memonopoli penjualan makanan di sekolah. Warung yang sempat kehilangan pembeli, sementara kebutuhan hidup selalu berdatangan tanpa mengenal kompromi.
Bagi Pras dan ibunya, dua minggu ini terasa bagaikan kejutan di tengah perjuangan selama dua bulan sebelumnya. Ada sedikit kelegaan, ada setitik harapan yang kembali tumbuh. Harapan agar ekonomi keluarganya kembali seperti dulu. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Pras masih mencemaskan sesuatu. Ia sadar, keadaan selama dua minggu ini memang mengubah kehidupan keluarganya. Namun ia tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Bisa jadi program makan siang gratis itu kembali beroperasi.
Pras tidak hanya mencemaskan pendapatan keluarganya yang berkurang, atau kebutuhan pokok rumahnya yang tidak dapat terpenuhi. Lebih dari itu, ia sedang mengahadapi kenyataan bahwa kebijakan yang semestinya bermanfaat bagi banyak orang, justru dapat menyulitkan bagi mereka yang bergantung pada usaha kecil.
***
Tuuuuut tuutttt tuttttt…
Sesuatu yang ditakutkan Pras dan ibunya pun pada akhirnya terjadi. Siang itu mobil penghantar makan siang gratis memasuki gerbang sekolah. Anak-anak menyambut dengan riang. Tidak dengan seorang wanita penjaga warung di samping sekolah. Melihat dengan tatapan yang memilukan.
“Hmmm…”
Pras Setiawanto
Tugas Bahasa Indonesia