Langit tengah memadu malam ketika seorang pria paruh baya memacu motor vespa klasiknya menuju pelosok desa. Jaket kulitnya ia rapatkan agar angin malam tak membuatnya tumbang. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di tujuan; Pesantren. Nama pria itu Mush. Ia datang ke Pesantren ini karena undangan teman karibnya dulu saat masih di Pesantren. Sekaligus menyambung silaturahmi dan diskusi kecil-kecilan.
Sesampainya di parkiran, gawainya nyeletuk, pertanda ada pesan yang masuk.
Langsung masuk aja Mush, tempatnya masih sama.
Bunyi pesan itu.
Mush beranjak masuk, melewati benteng berlumut yang digandeng pagar besi berkarat yang juga sudah mulai dimakan usia. Ia edarkan pandangannya, berdecak kagum. Banyak hal berubah pada tempat ini. Bangunan menjulang tinggi di kanan-kiri tetapi masih mempertahankan tradisi adatnya. Ditambah pendar cahaya lampu yang menerangi gelap yang membekap, membuat sekeliling jadi tampak megah. Tak berlama-lama, Mush melanjutkan langkahnya menuju pusat peradaban yang dikucilkan di pojokan: Perpustakaan.
Letaknya di lantai 2, tepat berada di atas tempat paling hina dan bau, ya, toilet. Sebuah tempat di mana peradaban manusia dibangun terletak di pondasi yang sama dengan tempat tongkrongan tinja. Teman karibnya, Emha, melambai dari kejauhan. Emha kini tengah sibuk menjadi budayawan, sekaligus dosen di Universitas Maiyah. Mush mendekat dan menjabat tangan Emha dengan akrab dan hangat.
“Bagaimana kabarmu Mush? Tambah kurus saja dari zaman mondok dulu ya?” tanya Emha dengan senyumnnya.
“Begitulah Em, aku banyak pikiran di luar. Bagaimana kabarmu sendiri? Tambah banyak pula ubanmu itu tampaknya,” sahut Mush.
“Hahaha iya Mush. Sudah, ayo masuk. Kawan yang lain sudah datang daritadi.”
Mereka berdua masuk, disambut oleh tatapan dan senyum 3 teman lainnya. Di antara mereka, Hadjar yang berkacamata seorang. Umurnya pun lebih tua dari yang lain. Mungkin 60. Namun semangatnya tampak tak kenal usia. Di samping kanannya, duduk pria yang bernama Tan. Umurnya sepantaran dengan Mush, kira-kira 50-an. Tan sendiri menjadi guru di Suliki. Dan di sisinya lagi, Nadiem terduduk. Ia yang paling muda dan menjabat sebagai Kemendikbud. Bisa dibilang, jabatannya paling tinggi diantara yang lain. Setelah bertanya kabar satu sama lain, acara inti pun dimulai. Sebuah diskusi rutin sejak 40 tahun lalu yang mereka selenggarakan setiap hari Sabtu. Bernama Turoban.
Pada kesempatan ini, Mush yang menjadi pemandu. Sebelum diskusi dibuka, mereka kompak membakar sebatang kretek, yang tak lain adalah sumber inspirasi mereka.
“Baiklah untuk memperingati Harlah Turob yang ke-40 tahun, saya akan memandu jalannya diskusi pada malam hari ini. Kita mulai dari pertanyaan: Apakah sistem pendidikan saat ini efektif atau tidak? Silahkan yang ingin menjawab.” Mush membuka diskusi.
“Tentu saja sangat efektif! Di era digital sekarang, para murid tidak perlu ke perpustakaan untuk membaca, tinggal klik-klik saja , selesai. Ditambah kurikulum sekarang yang membuat siswa jadi mempunyai daya berpikir yang kritis, tentu membuat negara ini jadi negara nomor 1 dalam bidang pendidikan,” Nadiem menjawab dengan penuh percaya diri dan lugas.
“Memang benar apa yang kau katakan Nad?” Hadjar bertanya dengan nada ragu.
“Tentu saja benar! Lihat saja nilai raport anak siswa kita sekarang. Rata-rata 90. Universitas kita juga besar-besar,” Jawab Nadiem dengan lebih tegas.
“Menurutku, sistem pendidikan sekarang itu tidak efektif. Para murid hanya diajar (onderwijs), tetapi tidak dididik (opvoeiden). Yang membedakan antara pengajaran dan pendidikan adalah, pengajaran hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, sedangkan pendidikan bertujuan untuk menuntun moral dan karakter siswa agar menjadi baik. Sehingga, yang terjadi, banyak orang berpendidikan tinggi, namun sayangnya tidak bermoral,” Sangkal Hadjar sambil menyulut kreteknya.
Seketika ruangan hening. Hanya ada kepulan asap kretek yang menari di antara mereka.
“Ditambah dengan sistem yang meniru Barat, dengan adanya penilaian raport, membuat siswa menjadi tak tenang dalam proses belajarnya. Mereka selalu dituntut agar mendapat nilai yang bagus di raport, agar bisa masuk ke universitas favorit dan mendapat pekerjaan yang layak, bukan karena kebutuhan jiwa mereka.”
“Tetapi justru Baratlah yang menjadi contoh di mana-mana! Belum lagi sekarang ada Artificial Intelligence yang membuat semua menjadi mudah. Memangnya di zaman engkau sudah ada?” tanya Nadiem menohok.
“Sehingga mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi tak perlu susah-susah menggenggam cangkul dan kepanasan di sawah. Mereka sudah punya kelas sosial yang paling tinggi!” tambah Nadiem.
“Kalau begitu, ganti saja slogan Tut Wuri Handayani itu. Slogan itu saya buat agar mencirikan pendidikan khas Nusantara. Tetapi malah kau campur sana-sini,” Hadjar membalas.
“Benar apa yang dikatakan Hadjar. Dan lagi ungkapanmu terlalu sombong, Nadiem. Bila kaum muda yang telah sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali,” Tan membela Hadjar dan menyudutkan Nadiem.
Ruangan menjadi sepi. Lagi Nadiem pun tak bisa berkutik. Hanya diam yang bisa ia lakukan.. Hanya terdengar krauk-krauk cemilan yang dikunyah dan hisapan kretek. Sampai Mush mengambil alih.
“Baik, saya rasa cukup. Berlanjut ke pertanyaan kedua. Apakah Pesantren sekarang itu masih murni nuansa nusantaranya atau tidak?”
”Tentu saja masih. Karena Pondok Pesantren adalah ciri metode pengajaran dan pendidikan khas Nusantara,” Hadjar menjawab santai.
“Ini pernah saya tulis di buku saya. Judulnya ‘Pendidikan dan Kebudayaan’. Coba kalian baca,” tambah Hadjar.
“Tetapi bagi saya selaku seorang budayawan, Pesantren sekarang itu gak jelas sistemnya. Tradisional ya tidak, modern ya tidak. Jadi gak tentu sistem yang dipakai itu dengan cara militer atau metode baby shark,” Emha akhirnya bersuara. Setelah daritadi hanya menyimak perbincangan.
“Apalagi kalo soal budaya, tambah ruwet! Kalau memang iya Pesantren itu melestarikan budaya, mbok yo jangan hadrohan dong, pakai gamelan sholawatannya. Kalau hadroh dan rebana itu ya dari Arab sana, bukan budaya kita!” Emha menambahkan. Kreteknya ia hisap dalam-dalam. Melepas keresahannya selama ini.
“Betul juga yang kau bilang, Emha. Saya baryu menyadari itu,” sahut Hadjar setuju dengan Emha
Lagi dan lagi, asap kretek menggantikan dialektika mereka. Menari di sekeliling mereka dan berlompatan keluar jendela.
“Baik kita lanjut ke pertanyaan terakhir. Apa solusi dan jalan keluar dari masalah pendidikan yang ada saat ini?” Mush kembali memantik diskusi mereka agar tak padam oleh hembusan angin malam yang menghasut agar mata terpejam dan terbuai.
“Kalau menurut saya, ada baiknya kita perbaiki dulu sistem yang ada. Jangan menjadikan nilai sebagai patokan. Toh pada kenyataannya banyak oknum guru dan murid yang jika dikumpulkan akan terbentuk 1 kabupaten, melakukan suap nilai. Belum lagi keputusan untuk meluluskan peserta didik yang belum mumpuni, dan yang terjadi adalah orang-orang bodoh yang berijazah mengantri untuk melamar kerja,” Saran Hadjar.
“Saran saya perlu adanya pembudayaan yang mengakar pada peserta didik, sehingga budaya kita tak tergerus oleh zaman,” Emha melanjutkan.
“Kalau begitu akan saya kombinasikan dengan teknologi yang ada untuk menyokong saran-saran tadi,” Nadiem menyambung.
“Kalau saran saya, jangan sampai pendidikan hanya menghasilkan kelas sosial yang baru, apalagi bergandengan dengan kapitalis-kapitalis itu. Seorang terpelajar harus merangkul massa si miskin, si lapar, si bodoh agar mencapai kehidupan yang layak,” Tan menutup.
“Baiklah, dari saya sendiri, jadi apapun kita di masyarakat nanti, jangan sampai ilmu yang kita gali membuat kita jadi menimbun uang rakyat. Jadi apapun boleh, asal jangan jadi pejabat korup. Heheheheheee,” Mush mengakhiri dengan tawa sambil melirik ke arah Nadiem.
“Dan yang paling penting, jangan sampai kita salah memilih sekolah pertama untuk anak kita, yang tak lain adalah ibunya, yang tak lain pula adalah istri kita!” lanjut Hadjar
Jleb! Mush seperti tertusuk panah.
“Itu juga pernah saya singgung di buku saya. Al-ummu Madrasatul Ulaa,” tambahnya. Diskusi pun berakhir. Dan dilanjut dengan obrolan ngalor-ngidul serta tawa. Namun tidak dengan Mush. Mush memilih keluar, bersandar pada tembok, dan membakar kreteknya sambil menatap gelap malam dengan lamunan dan khayal.
Mush jadi teringat mendiang istrinya. Sebenarnya ia juga sekaligus menjenguk anak gadisnya di Pesantren ini. Namun setelah mendengar ucapan Hadjar, lamunan itu datang lagi. Sang istri sudah meninggalkannya 4 tahun lalu. Waktu terus berlari, tubuhnya pun juga digerogoti detik, tetapi rasa pada istrinya tak akan berubah sedikit pun. Yang terdengar di telinganya kini hanya suara tawa istrinya, dan sebuah lagu yang mewakili perasaannya..
Ingin punya rumah, tuk tempat bermesra,
Kau dipanggil Ibu sementara aku Ayah.
Bertukar cerita, di ruang keluarga,
Bercengkrama dan menimang buah hati kita.
_ Nanti kita seperti ini_ Batas Senja.
Di saat kawan yang lain kembali pulang untuk meladeni kesibukan masing-masing; Emha mengurus dan merawat tradisi; Tan mengajar di Suliki;Nadiem kembali menjadi menteri; Hadjar menikmati masa senjanya, sedangkan Mush memilih untuk bermalam. Menunggu pagi hari untuk menjenguk anak gadisnya, satu-satunya yang ia miliki.
Dulu, rumah baginya adalah tempat ternyaman untuk pulang. Disambut hangat istri dan anaknya yang masih bayi, bercengkrama, dan bercerita. Namun kini, ia telah kehilangan rumah sebenarnya. Dan tak ada yang tahu kegundahannya kecuali kretek yang selalu ia bisiki dan hembusan angin malam yang menerpa. Kini, hanya sepi yang memeluknya malam ini.[]