Cirebon: Lilin-lilin kecil menyala di tangan para santriwati, menerangi malam 21 Oktober di area outdoor Gedung SMP Tunas Pertiwi. Dari barisan itu, kalimat Merayakan Hari Santri bersama mengaung ke angkasa, disuarakan dengan semangat membara yang tak kalah dari gema aksi mahasiswa dalam menjaga NKRI.
Malam itu, Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islami menggelar perlombaan untuk menyambut Hari Santri Nasional. Para santriwati duduk rapi sambil memegang lilin, menciptakan pemandangan yang khidmat sekaligus hangat. Acara dibuka dengan Mars Santri Nasional, disusul Mars Pondok Kebon Jambu dengan reff yang disambut tawa.
“Di pesantren, di pesantren, di pesantren aku dapat suami…”
Suasana kian panas setelah lilin ditiup serentak. Tim Hadroh An-Nida bersama para vokalis mempadukan lagu viral “Helikopter Turun ke Padang” menjadi aransemen dengan gaya lantunan selawat. Perpaduan lagu populer dan tradisi bersalawat itu membuat penonton larut dalam kegembiraan. Setelah Tim Hadroh turun panggung, keriuhan berlanjut dengan cek sound dan adu yel-yel antar komplek. Saat pembawa acara menyerukan, “Hai santri Pondok KebonJambuuu!”, jawaban kompak langsung bertaburan menirukan jargon dari Program Bahasa Arab yang sedang berlangsung,”Jayyid, jayyid, mumtaz!”
Di sisi kiri panggung, para pengurus, mahasantri Ma’had Aly, dan para asatiz bahasa Arab menyaksikan jalannya lomba.Diantaranya, Teater Antarkomplek, Fashion Show Antarkamar, dan Supporter Terbaik saling bersaing penuh ketegangan. Komplek Alia memimpin pertunjukan dengan Mars Santri Nasional, disusul sorakan pantang menyerah dari Komplek Salavina.
Teater yang Menggugat
Penampilan pertama langsung mengubah suasana. Teater bertema kritik sosial menghadirkan konflik ibu dan anak yang dipaksa menikah dengan pejabat beristri tiga demi martabat keluarga, bertentangan dengan cita-citanya untuk kuliah. Emosi penonton ikut teraduk ketika puisi dalam pentas itu menyentil nasib perempuan.
“Kesalahan terlahir sebagai perempuan… rumah tangga menjadi dinding antara perempuan dan cita-citanya.” Konflik memuncak saat sebuah suara tegas menentang dogma ketidakadilan dan poligami yang mengkerdilkan agama.
Komplek Salavina tampil dengan nada berbeda. Mereka menyuarakan pesan persatuan lewat kalimat “Mari kita jadi perempuan yang penuh kebebasan.”
Sementara komplek Alia, mereka mengangkat keseharian santri, mulai dari padatnya jadwal salat, mengaji, sekolah, dan piket hingga rasa down dan niat boyong. Pentas ditutup dengan filosofi “Rumah Teratai”, yakni tumbuh indah di tengah lumpur, serta kabar hadirnya program baru Kelas Bahasa Arab. Pesan motivasi dan kebersamaan pun tersampaikan dengan apik/bagus.
Rangkaian teater berakhir dengan adu yel-yel yang gemuruh. Komplek Salavina menyerukan “Kudukung-dukung pahlawanku!”, dibalas Komplek Alia dengan “Kemenangan di depan mata, ini saatnya kita juara!”
Keliling Dunia dalam Satu Panggung
Sesi fashion show mengubah panggung menjadi ruang lintas budaya. Kirani dari perwakilan Kamar Alia 1 dan Alia 3 tampil dengan Sarafan merah khas Rusia, busana tradisional yang sejarahnya bermula sejak abad ke-11. Ia melengkapinya dengan tongkat buatan sendiri, diiringi lagu Marsha and the Bear yang mewakili budaya Rusia tersebut lalu berlanjut dengan pertunjukan bakat menggambar.
Vika dari Kamar Nadhira 1 dan Nadhira 2 mewakili Jerman dengan gaun ikonik berpita, simbol ikatan santri Kebon Jambu, lalu menyempurnakannya dengan pembacaan puisi tentang perempuan. Nisa dari Kamar Salicha 1 dan Salicha 2 membawakan Hanbok putih Korea yang anggun dan melambangkan integritas. Nova dari Kamar Alia 2 mengenakan kostum Noni Belanda putih buatan sendiri yang melambangkan kesucian, sambil menampilkan bakat langka nyindenkidung Leksabumi.
Zahira menampilkan keagungan batik Nusantara lewat tarian jemari yang memukau, hingga menuai pujian hangat dari panggung pengurus. Wida dari Kamar Aula 3 mengajak penonton bergoyang dengan tarian khas India.
Naela mewakili tema Cina dengan pidato kebangsaan yang membakar semangat: “Nasib negara ada di tangan pemuda. Kita adalah ujung tombak masa depan bangsa!” Penutup paling menghibur datang dari Kamar Tsania 1 dan Tsania 2. Mereka mengenakan gaun khas turki buatan sendiri dari rangkaian sendok bekas bercat emas, lalu melontarkan stand-up comedy kocak dengan punchline.
“Walaupun pakaianku kayak gembel, tapi cantiknya mengalahkan Tinkerbell!”
Para Pemenang
Pada Kamis sore, 22 Oktober 2026, para santriwati berkumpul kembali untuk mendengar keputusan dewan juri. Untuk kategori teater, Komplek Alia meraih juara 1 dan Komplek Salavina menyabet juara 2. Pada kategori fashion show, Kamar Alia 1 dan Alia 3 dengan tema Rusia keluar sebagai juara 1, disusul Kamar Tsania 1 dan Tsania 2 dengan tema daur ulang sendok emas dan stand-up comedy sebagai juara 2.
Dari cahaya lilin hingga pengumuman juara, perayaan Hari Santri di Kebon Jambu malam itu menunjukkan bahwa santriwati mampu menggabungkan kekhusyukan, kegembiraan, kritik, dan kreativitas dalam satu panggung.[]