Telah kau jadikan jiwaku terikatmu
Dengan simpul mati itu
Pegang, peganglah
Kemudian rasakan jantungku
Yang berdebur atasmu
Dari setiap ritmik
Dari setiap titik
***
Aku menghela napas kasar. Mencoba merefleksikan mengapa hidup terus berjalan begini-begini saja. Aku tidak mengerti. Apa yang harus kulanjutkan dalam diri ini. Kehidupanku disini monoton. Ini diluar kehendakku. Aku sama sekali tidak memegang kendali atas pilihan ini. Mungkin orang tuaku memang lebih berhak atas aku.
Ya, di sini. Di pondok pesantren yang menjemukan. Ya Allah. Mengapa aku harus tetap berada disini jika aku sama sekali tidak mengerti apa esensi Tuhan dalam hidup. Lalu mengapa mengucap asma-Nya ketika sudah pasrah dan berada di ujung tanduk? Apakah Ia adalah pelampiasan dalam lisan? Aku pun tak mengerti.
Aku tidak peduli jika ada yang berkata aku nyeleneh dan pikiranku menyeleweng. Memang benar adanya. Aku tidak mengelak. Mengapa aku harus melanjutkan hidup di “pesantren” ini jika aku sendiri tidak mengetahui apa maksud dan tujuanku melangkah.
Puk.
Seseorang menepuk pundakku pelan. Membuyarkan lamunanku.
“Pengajian sudah selesai,” Ia menolehkan kepalanya ke arah pintu kelas pengajian. “Ayo pulang.”
Setelah mengajakku pulang, ia berdiri dan beranjak keluar.
Aku mengangguk-angguk tidak jelas. Mengikuti saja apa yang temanku ajak.
***
Namanya Eduard. Eduard Douwes Dekker. Diambil dari nama lahir Multatuli, pengarang buku Maax Havelaar. Bagi yang mengetahui tidak hanya sekedar menganggap namanya unik. Menurutku ia misterius. Hidupnya lurus dan tertutup. Ia tidak mengikuti apa kata orang lain. Hanya mengikuti aturan dan berjalan seperti apa yang ia mau. Otaknya encer maksimal. Tapi terkadang pura-pura bodoh agar tidak mendapat peringkat kelas.
Ah, aku pun bingung. Tapi hanya ia teman yang benar-benar “teman”. Pemikirannya out of the box dan seringkali membuatku tergugah.
Di persimpangan jalan menuju asrama, Eduard merentangkan tangan kanannya, membuatku terhenti. Aku terheran dan baru saja ingin bertanya galak, sebelum kalimat Eduard keluar.
“Kau ikut aku.” Eduard mendengakkan kepalanya ke arah ruas jalan sebelah kiri. Dan tanpa aba-aba mendahuluiku.
Aku nurut saja berhubung aku memang sedang melongo melulu. Lima tahun aku di pondok pesantren ini, belum kutemukan arti Tuhan dan mengapa aku harus terus menuruti perintah-Nya.
Pondok pesantren ini luas sekali. Asrama-asrama serta rumah para pengasuh memenuhi beberapa hektar wilayah pesantren ini. Aku pun belum sepenuhnya menjelajah kesana-kemari, jadi yah, aku awam ke mana jalan ini bermuara. Tapi pernah beberapa kali kudengar cerita-cerita creepy dan sadis tentang jalan ini. Tak tahu lah.
Pohon mangga memenuhi kanan dan kiri sempitnya jalan setapak. Sekitar tiga ratus meter dengan kebun mangga, jalanan menyempit dan beberapa rumah.
Wow! Artistik! Rumah rumah klasik seperti rumah yang disediakan BUMN untuk para masinis KAI selama masa bekerja berderet rapi disini.
Setelah pemukiman yang terurus tapi tak berpenghuni itu membuatku bertanya-tanya mengapa bisa seperti itu habis, kami diperlihatkan kebun apel. Perkebunan apel yang, mengapa tiba-tiba saja ada kebun apel di sini? Hal itu membuat alisku bertaut, aneh.
Aku menarik lengan Eduard, ingin menuntut penjelasan darinya yang sedari tadi dengan hening memimpin jalan. Tetapi ia lebih dulu menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkan “sssh”. Jadi aku menarik lenganku kembali. Meneruskan berjalan kaki di kebun apel.
Aku dibuat menganga tak percaya. Masyaallah, selepas perkebunan apel tadi, terdapat danau dengan air terbiru yang pernah kulihat dengan mata kepala sendiri. Aku tak bohong, airnya biru sekali! Ikan-ikan berenang bebas hilir-mudik, kesana-kemari.
Nah, kali ini Eduard berbalik arah. Masih dengan posisi berdiri di perjalanan yang terhenti, Eduard bersedekap. Wajahnya memuakkan seperti sipir. “Kau lagi kenapa?”
“Kepo.” Aku menjulurkan lidah. Membalas tingkah menyebalkan sok kesipirannya itu.
“Aaah, salah memang bertanya pada anak spesial.” Wajah Eduard mengkerut. Kesal. Kedua lengannya ia silangkan ke belakang kepala. Bersantai saja.
“Duduk di pinggir danau. Aku tahu pikiranmu sedang kacau.” Eduard mendahului lanjut melangkah ke pinggir danau. Kemudian duduk di rerumputan empuk.
Aku mengikuti saja apa yang sudah ia lakukan lebih dahulu. Sementara ia masih membisu, aku mencelupkan sepasang kakiku kedalam danau. Di antara ikan-ikan gemuk. Geli.
“Jadi kau mengajakku kemari untuk healing?”
Senyum jahilnya terpampang. “Malah aku ingin memperumit hidupmu. Aku tahu kau sedang bertanya-tanya kepada kehidupan, kan?”
Kepalaku tertunduk lesu, “Aku mau keluar pesantren, Eduard. Aku tak lagi merasa cocok di sini.” aku menggeleng rapuh.
Tawa ringan Eduard terdengar. “Hahaha. Memangnya kau pernah merasa cocok?”
Benar juga ujarnya. Aku memang tak pernah merasa cocok disini.
Eduard mendekat ke arahku. Tangan kanannya terkepal dan dibuka perlahan di hadapan dadanya.
HAH?! APA ITU?!
Mataku membelalak. Saat ia membuka telapak tangannya, merekah tiga elemen-elemen kecil berukuran dua setengah sentimeter mengambang dan berputar-putar pelan di atasnya. Bersimbol buku, padi, dan tanda seru. Keajaiban apa yang Eduard simpan dalam tangannya selama ini?
Hap.
Tangan kanannya ditutup kembali. Ia bersedekap dan tersenyum simpul. Apa-apaan itu tadi?!
“Kau tahu apa asal-usul namaku, Jasper?”
Aku mengangguk yakin. “Multatuli.”
Eduard tersenyum. “Multatuli artinya aku telah banyak menderita.”
Aku mengernyit, “Menderita apanya? Hidupmu lurus. Kau berkecukupan. Eh, omong-omong tadi apa yang ada di telapak tanganmu?”
Eduard tersenyum lebih aneh. “Bukan sulap bukan sihir,”
Wajahku berubah datar. “Apa maksudmu, Sipir?”
Wajah tergelak Eduard menghiasi pandanganku. “HAHAHA. Iya. Begini, begini, kawan. Kau tahu? Aku tidak dilahirkan yatim piatu tetapi ayahku membunuh ibuku di depan mataku sendiri saat umurku lima tahun. Aku terlalu pintar untuk tidak mengetahui apa itu akibat dari ayah merobek nadi ibu hingga darahnya abis. Ibu terkulai lemah. Ternyata ayah mabuk. Saat sadar dari mabuknya, ayah berteriak karena telah membunuh ibu, lalu memukul kepalanya dengan tongkat bisbol. Ayah meninggal. Kontan. Aku terlalu cool untuk menangis,”
“HUEEKKKKK” Aku muntah palsu mendengar Eduard meng-cool-kan dirinya.
“Lah, stres. Aku memang ditakdirkan untuk menderita seperti namaku, kawan. Orang tuaku mungkin menginginkan pikiranku kritis seperti Multatuli. Namun tak ayal aku pun menderita seperti arti namanya. Saat aku masih terpana dengan apa yang terjadi terhadap kedua orang tuaku, sepasang suami istri bermata biru menghampiriku. Membisikkan tepat di telingaku dengan lembut, ‘Vis par que tu vis.’ Sembari mengusap telapak tangan kananku. Tersenyum lembut lalu pergi bersama suaminya begitu saja. Mereka memberikanku ini, Triseva. Tiga pengingat hidup yang melekat dalam diriku. Seperti kata wanita itu, aku akan menjalani hidup karena aku hidup.”
Eduard membuka lagi telapak tangannya. Tiga elemen itu kembali mengambang dan berputar-putar perlahan. “Triseva ini terdiri dari tiga. Yang pertama, buku. Hidup ini tentunya berisi pelajaran, Jasper. Kita sebagai manusia harus selalu belajar dalam setiap langkah. Memang kewajiban kita sebagai makhluk yang ‘hidup’. Pelajaran ada dalam sadar atau tidak sadarnya kita. Yang kedua, ada padi. Padi ini artinya pengabdian. Pengabdian akan selalu menjadi poin penting dalam hidup. Karenanya, kita masih tetap diberi kasih sayang-Nya. Dan yang terakhir, tanda seru. Tuhan. Tuhan takkan pernah luput dalam diri kita. Tuhan sama pentingnya dengan penggunaan tanda seru. Tuhan harus selalu berada dalam seruan kita, baik menyebut atau tidak, karena Tuhan berada, bukan di-ada-kan. Ia bersemayam dalam senyap, dalam gejolak, dan dalam segala tindak-tanduk manusia. Tiga elemen ini akan terus terikat, sama kuatnya. Tidak condong lebih kemana pun. Karena ada Tuhan yang melandaskan semuanya.”
Aku melongo hebat. Lebih ke merana mendengar cerita tragis hidup Eduard dan keajaiban yang ia miliki. Serius ini ada di dunia nyata? Bukan sulap bukan sihir…
Plak.
Eduard menepak mulutku yang ternganga.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan, wajahku merengut, merasa kesal.
Kami hanya bergeming. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Akhirnya aku mengawali pembicaraan. “Maafkan aku, kawan. Aku tidak tahu hidupmu ternyata semenyedihkan itu.”
Eduard memasang wajah nyolot dan konyol. “Menyedihkan dari mana? Lebih kasihan denganmu saat menelepon bapakmu.” Raut wajahnya menjadi menyebalkan sekali. Aku hanya terkekeh ringan.
“Apakah berada di pesantren yang memuakkan ini adalah bentuk pengabdian kita?”
Eduard tersenyum lembut, mengangkat pecinya lalu menggesernya sedikit ke belakang rambut. “Bisa iya, bisa tidak. Dalam kacamata kita sebagai santri, berada di pondok pesantren dan menuruti semua aturannya mungkin bisa dianggap mengabdi. Bertahan itu pun sudah bisa dianggap demikian. Sampai nanti kau akan menemukan maknanya sendiri.” Eduard menggeleng. Paras tampannya tambah berkharisma saja ketika menjadi sebijak itu.
“Lalu bagaimana jika aku belum menemukan Tuhan?” aku menjejali Eduard dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benakku belakangan ini.
“Barangkali, Tuhan ada tetapi kau yang menolak keberadaannya. Manusia sering salah jalan, namun menyalahkan jarak,” senyum kembali terulas di wajah Eduard.
Kalimatnya menghunjam dadaku. Serius.
Eduard mengambil kerikil lalu melemparnya ke danau, membuat riak, memecah biru.
“Kemana pun, sejauh apa pun aku melangkah, aku akan pulang. Karena ada Triseva yang mengantarku pulang pada Tuhan.”
Aku terkesima dengan penjelasan berat Eduard. Imanku terdorong.
Terdengar adzan berkumandang dari jauh.
Eduard melambaikan tangan. “Ashar. Tuhanku menelepon. Tuhanmu juga, bukan?”
Aku memukul bahunya. “Ya iya, lah, Bambang.” Kocak.
Eduard hanya terkekeh. “Ayo, pulang. Kau sudah bermain terlalu jauh, kawan.” Eduard berdiri, mengulurkan tangan kepadaku.
Aku melihat cahaya di matanya. Senyumnya yang tulus lagi misterius menghiasi wajah sempurna kawanku satu ini. Aku meraih uluran tangannya. Mengangguk kuat-kuat.
Kami berjalan kembali menyusuri kebun apel, rumah-rumah klasik terawat tak berpenghuni, dan terakhir kebun manga, beberapa menit kemudian persimpangan asrama pesantren kami terlihat.
“Tadi tempat apa, sih, Bro?” tanyaku bingung pada Eduard. Ia tidak menjawab. Saat ku balikkan kepala ke belakang, mencoba melihat deretan rumah-rumah klasik tadi, rumah-rumah itu hilang! Hanya ada sawah sejauh mata memandang jika dilihat dari tengah-tengah kebun manga ini.
Hei?! Ke mana perginya ruas jalan setapak menuju danau tadi?!
Eduard hanya tersenyum lebih misterius lagi. Mungkin tempat itu hanya untuk orang yang bisa melihat tempat itu saja.
***