Aroma bubuk kopi robusta Pupuan menguar pekat dari dapur rumah Nyoman. Pagi itu, lantai keras dari semen kasar masih terasa dingin di telapak kakinya. Nyoman menyeruput pelan kopinya yang masih mengepul, lalu menatap lembaran kain pendek yang tersampir di amben. Hari sudah terang, tapi udara dingin sisa hujan semalam masih menempel di kulit.
Di berugak seberang halaman, bapaknya sibuk meraut bilah bambu. Suara sretet-sretet yang berirama mengisi keheningan pagi desa di kaki bukit Tabanan itu. Suara lolongan anjing dari kejauhan dan kokok ayam jantan bersahutan, menandakan aktivitas warga mulai hidup.
Pilihan yang Tertunda
“Kapan kepastian ke Denpasar, Man?” tanya bapak tanpa mengalihkan pandangan dari bilah bambu di tangannya.
Nyoman menaruh cangkir gerabah di atas meja kayu. Tenggorokannya mendadak keluh. Tawaran bekerja di sebuah galeri seni kawasan Ubud sudah datang sejak minggu lalu. Gajinya lumayan untuk ukuran pemuda desa sepertinya. Tapi, ada rasa berat yang menahan langkah kakinya setiap kali ia memandang pelataran merajan sanggah, tempat abu luhurnya dijaga.
“Belum tahu, pak. Masih dipikirkan,” jawab Nyoman singkat.
Bapak berhenti meraut. Ia menaruh bambu itu, lalu meraih sebatang rokok kretek, asap tipis mengepul di udara pagi. “Hidup itu bukan cuma soal tempat di mana kamu dapat uang banyak, Man. Tapi tentang siapa yang menyiram kembang di halaman rumah saat sore hari.”
Aroma Dupa dan Keputusan
Siang menjelang, gerimis kecil turun tiba-tiba — orang Bali sering bilang ini suryan atau hujan gerimis di tengah terik tipis. Nyoman berjalan ke pelataran pura kecil di sudut pekarangan, bau wangi dupa basah bercampur dengan aroma tanah basah sehabis air langit menyapa bumi.
Ia melihat ibunya sedang menaruh canang sari di atas pepatran. Ibu menoleh, tersenyum ramah tanpa banyak kata. Di situlah Nyoman sadar, gemerlap lampu kota dan ramainya turis di Bali selatan tidak pernah bisa menggantikan tenang suara gesekan daun kelapa di kampung halaman.
Nyoman mengambil ponsel di saku celananya. Ia mengetik pesan singkat pada pemilik galeri di Ubud: Menolak tawaran itu dengan alus. Ia memilih tetap tinggal, merawat kebun kopi milik keluarganya, dan melanjutkan hidup di tanah tempat pusarnya ditanam.