Ketika Santri Bicara Lantang di Atas Panggung

Ada anggapan lama bahwa santri, terutama santriwati, adalah sosok yang diam, patuh pada jadwal, tunduk pada aturan, dan jarang bersuara tentang hal-hal yang menyakitkan. Malam peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy membuktikan sebaliknya. Di bawah cahaya lilin dan di atas panggung outdoor, para santriwati menunjukkan bahwa mereka punya suara, dan suara itu tajam.

Malam itu dibuka dengan suasana yang khidmat sekaligus riuh. Para santriwati duduk memegang lilin kecil, lalu Mars Santri Nasional dan Mars Pondok Kebon Jambu bergema bergantian. Setelah lilin ditiup serentak, Tim Hadroh An-Nida mengubah lagu viral menjadi lantunan selawat. Perpaduan tradisi dan budaya populer ini sudah menjadi isyarat bahwasantri hari ini tidak harus memilih antara yang lama dan yang baru. Kekhusyukan dan kegembiraan bisa hadir dalam satu ruang yang sama.

Yang paling membekas bagi saya adalah teater bertema kritik sosial. Kisahnya sederhana, tetapi akrab bagi banyak perempuan. Menyakitkan sekali ketika seorang anak dipaksa menikah dengan pejabat beristri tiga demi martabat keluarga, padahal ia bercita-cita kuliah. Salah satu larik puisinya menggugat, “Kesalahan terlahir sebagai perempuan… rumah tangga menjadi dinding antara perempuan dan cita-citanya.”

Pertunjukan memuncak ketika sebuah suara menentang dogma ketidakadilan dan poligami yang mengkerdilkan agama. Kisah ini terasa dekat karena banyak perempuan mengenal tekanan serupa, ketika martabat keluarga ditimbang di atas mimpi seorang anak.

Kalimat terakhir itu penting. Para santriwati tidak sedang menolak agama. Mereka menolak tafsir yang mengkerdilkannya. Ini bentuk moderasi beragama yang sering salah dipahami. Moderasi bukan berarti kompromi pada ketidakadilan, melainkan keberanian membedakan antara ajaran dan praktik yang mengatasnamakan ajaran. Islam yang rahmatan lil ‘alamin tidak mungkin merestui rumah tangga yang menjadi dinding bagi cita-cita seorang anak perempuan. Kritik dari dalam seperti ini justru tanda kecintaan. Orang yang tidak peduli pada agamanya tidak akan repot membelanya dari penafsiran yang menyempitkan.

Teater Komplek Salavina memberi warna lain. Dengan filosofi “Rumah Teratai”, yakni tumbuh indah di tengah lumpur, mereka bicara tentang keseharian santri dengan jadwal yang padat seperti salat, mengaji, sekolah, dan piket. Sesekali timbul rasa downgrade dan niat boyong yang kadang menggiurkan. Mereka mengakui kelelahan itu tanpa malu. Pesantren yang mampu mendengar keluh kesah santrinya adalah pesantren yang sehat. Teratai mengajarkan bahwa keindahan tidak menuntut lingkungan yang sempurna, tetapi ketabahan untuk terus tumbuh. Disinggungnya program baru Kelas Bahasa Arab dalam pentas itu pun mengingatkan bahwa keluhan dan harapan santri bisa berjalan beriringan dengan pembenahan.

Hal serupa tampak di fashion show. Santriwati membawakan busana Rusia, Jerman, Korea, Belanda, India, Cina, hingga batik Nusantara. Ada yang menyertakan puisi tentang perempuan, ada yang berpidato bahwa pemuda adalah “Ujung tombak masa depan bangsa”, ada pula yang tampil dengan gaun dari sendok bekas bercat emas sambil melucu. Di panggung itu, keberagaman budaya dirayakan tanpa rasa takut kehilangan identitas. Santri bisa mengenakan Hanbok dan tetap santri, mengenal tradisi lain dan tetap berpegang pada akidahnya. Setiap kamar menggarap penampilannya dengan sungguh-sungguh, dari tongkat hingga kostum buatan sendiri, lengkap dengan sejarah dan makna di baliknya. Sarafan merah punya sejarah sejak abad ke-11, Hanbok putih melambangkan integritas, dan Noni Belanda melambangkan kesucian. Nilai-nilai itu ternyata akrab dengan nilai yang dipegang pesantren. Sementara itu, batik Nusantara tampil dengan bangga, sehingga cinta tanah air dan keterbukaan pada dunia berjalan beriringan.

Humor pun mendapat tempat. Gaun sendok bekas dan stand-up comedy dari Kamar Tsania mengajarkan bahwa tawa bisa menjadi bentuk ketangguhan, dan kepedulian pada lingkungan bisa lahir dari barang yang nyaris dibuang. Dewan juri kemudian menetapkan Komplek Alia dan Komplek Salavina sebagai juara teater, serta Kamar Alia 1 dan 3 dan Kamar Tsania 1 dan 2 sebagai juara fashion show. Penghargaan itu menyenangkan, tetapi yang lebih penting adalah apa yang dibawa pulang para peserta dan penonton, yakni keberanian untuk tampil, bersuara, dan mengenal yang berbeda.

Bagi saya, inilah pendidikan toleransi yang paling efektif: bukan ceramah, melainkan pengalaman. Santri yang pernah menjadi orang lain di atas panggung akan lebih mudah memahami bahwa perbedaan bukan ancaman. Pesan Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa agar saling mengenal (li-ta’arafu) menjadi hidup di sini. Ayat yang selama ini sering dihafal akhirnya dirasakan.

Tentu satu malam perlombaan tidak mengubah dunia. Tetapi dari panggung ini kita belajar dua hal. Pertama, pesantren bisa menjadi ruang aman untuk bersuara tentang kesetaraan. Kedua, kesetiaan pada tradisi dan keterbukaan pada dunia tidak perlu dipertentangkan. Tugas kita, para pengurus, guru, dan sesama santri, adalah menjaga ruang itu tetap terbuka agar suara-suara lantang ini tidak berhenti di malam perayaan, melainkan terus tumbuh sepanjang tahun. Sebab santri yang berani bersuara hari ini adalah perempuan yang kelak berdiri teguh menjaga agama, keluarga, dan bangsanya.[]

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Ketika Santri Bicara Lantang di ...
Ada anggapan lama bahwa santri, terutama santriwati, adalah so...
Cahaya Lilin, Yel-Yel, dan Kriti...
Cirebon: Lilin-lilin kecil menyala di tangan para santriwati, ...
Makan Siang (yang katanya) Gratis?
Salah seorang yang miris melihat keadaan negara saat ini  *** ...
DISKUSI KECIL
Langit tengah memadu malam ketika seorang pria paruh baya mema...
Ketika Tanah Air Bertanya
“Aku dari Kupang” “Kalau aku Batam” “Gorontalo” “Palemban...
Karhutla dalam Cermin Fiqh al-Bi...
Konon, negeri ini adalah potongan surga yang jatuh ke bumi. La...

Hubungi kami di : +62859-1068-58669

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon