KETIKA SENIORITAS MENGALAHKAN SOLIDARITAS: MENGURAI BUDAYA PERUNDUNGAN DI PESANTREN

Pesantren adalah rumah kedua. Di dalamnya kita tidak hanya belajar isi kitab, tetapi juga belajar hidup Bersama. Di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, kita merasakan itu setiap hari. Belajar tidak hanya di kelas madrasah, tetapi juga lewat lalaran hafalan di komplek, setoran qobliyahan, dan sholat berjamaah. Di sela-sela itulah kita belajar hidup bersama. Kita belajar tentang antri, berbagi, mengalah, dan menghormati yang lebih dahulu datang.

Sebagai pesantren yang dipimpin oleh perempuan, Kebon Jambu mengajarkan keibuan dalam mendidik. Ketegasannya ada, tapi dibungkus kelembutan. Nilai inilah yang menjadi dasar senioritas kita.

Pada dasarnya, senioritas bukanlah masalah. Ia adalah sistem dan bahkan ia adalah adab. Di Kebon Jambu, ada tingkatan yang dihitung dari siapa yang lebih dulu masuk. Santri yang lebih awal masuk tentu lebih paham alur pondok, dari adab dalam keseharian, kerutinan kegiatan madrasah hingga tradisi lalaran. Maka wajar jika ia membimbing adik-adiknya yang baru datang. Dalam tradisi pesantren, ini disebut  ri’ayah, yaitu semangat untuk mengasuh. Kakak mengasuh adik, bukan menguasai adik.

Persoalan muncul ketika makna mengasuh itu bergeser menjadi keinginan untuk menundukkan. Ketika rasa hormat yang seharusnya tumbuh karena keteladanan, justru diminta secara paksa. Pada titik inilah, terkadang senioritas terasa mengalahkan solidaritas.

Membedakan Senioritas Angkatan dan Ketegasan Pengurus

Agar adil, kita perlu membedakan dua hal yang sering dianggap sama, padahal sangat berbeda.

Pertama, Senioritas Angkatan. Ini adalah hubungan kakak dan adik karena tingkatan tahun masuk. Hubungan ini idealnya didasari kasih sayang. Seorang kakak angkatan tidak memiliki kewenangan struktural untuk menghukum. Misalnya, ketika adik terlambat lalaran atau qobliyahan, tugas kakak adalah mengingatkan dengan lembut, bukan merendahkan harga diri. Jika teguran sudah bersifat pribadi dan merendahkan, maka itu sudah keluar dari makna senioritas itu sendiri.

Kedua, Ketegasan Pengurus Pondok. Ini sangat berbeda. Pengurus pondok, seperti pendidikan, peribadatan, keamanan, dan pengurus komplek, adalah santri yang diberi amanah resmi oleh pimpinan pondok untuk menegakkan tata tertib dan tradisi keilmuan pesantren.

Tugas mereka memang menuntut ketegasan, bahkan terkadang harus keras. Mereka harus membangunkan yang kesiangan jamaah, menertibkan madrasah, dan mengingatkan yang melanggar peraturan-peraturan. Hal ini wajar, karena yang dihadapi adalah ratusan santri dengan karakter beragam. Tanpa pengurus yang tegas, kegiatan harian seperti madrasah, lalaran, dan qobliyahan akan sulit berjalan tertib.

Selama ketegasan itu dilakukan dalam koridor tugas, sesuai aturan pesantren, tidak disertai kekerasan fisik yang menyakiti, tidak dengan kata-kata yang merendahkan, dan diniatkan untuk mendidik bukan karena emosi pribadi, maka ketegasan itu bukanlah perundungan. Ketegasan itu adalah bagian dari pendidikan dan harus kita dukung.

Dari sini terlihat jika ada perbedaan yang jelas. Jika pengurus menindak karena aturan pondok dilanggar, itu adalah pembinaan. Jika kakak angkatan menekan adik karena urusan pribadi, itu adalah perilaku yang perlu kita luruskan bersama.

 Mengembalikan Senioritas Pada Fitrahnya

Senioritas yang sehat terlihat dari caranya. Misalnya kakak yang berkata lembut, “Dek, lalarannya belum lancar, ya? Sini mbak simakin dulu.” Di sana ada transfer ilmu yang dibungkus kasih sayang, persis seperti didikan keibuan yang menjadi ruh Kebon Jambu.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan semua senior. Justru sebaliknya, mayoritas senior di Kebon Jambu adalah pribadi yang sangat baik dan tulus. Mereka yang sabar menyimak lalaran adiknya sampai malam dan rela berbagi catatan madrasah adalah pahlawan tanpa nama di pesantren. Karenanya, tulisan ini hadir untuk menjaga kemuliaan mereka.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?

1. Dukung peran pengurus. Pandang ketegasan mereka sebagai kasih sayang dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah kiai.

2. Berani memutus rantai. Jika kita pernah merasakan perlakuan yang kurang baik, biarlah hal itu berhenti di kita. Jangan teruskan kepada adik di bawah kita.

3. Utamakan solidaritas. Senior yang hebat bukanlah yang paling ditakuti, melainkan yang paling dirindukan ketika sudah boyong.

Pesantren mampu bertahan karena seimbangnya dua hal. Pertama karena adanya pengurus yang tegas menjaga aturan, kedua karena adanya solidaritas persaudaraan yang menghangatkan.

Senioritas bukanlah masalah selama digunakan untuk membimbing. Ketegasan pengurus pun bukan masalah selama digunakan untuk mendidik. Tugas kita adalah memastikan di setiap bilik pesantren, yang tumbuh bukanlah rasa takut, melainkan rasa cinta kepada saudara.[]

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

KETIKA SENIORITAS MENGALAHKAN SO...
Pesantren adalah rumah kedua. Di dalamnya kita tidak hanya bel...
Ketika Santri Bicara Lantang di ...
Ada anggapan lama bahwa santri, terutama santriwati, adalah so...
Cahaya Lilin, Yel-Yel, dan Kriti...
Cirebon: Lilin-lilin kecil menyala di tangan para santriwati, ...
Makan Siang (yang katanya) Gratis?
Salah seorang yang miris melihat keadaan negara saat ini  *** ...
DISKUSI KECIL
Langit tengah memadu malam ketika seorang pria paruh baya mema...
Ketika Tanah Air Bertanya
“Aku dari Kupang” “Kalau aku Batam” “Gorontalo” “Palemban...

Hubungi kami di : +62859-1068-58669

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon