Chumairo Mawon Gusti

Malam itu aku beserta kedua orang ustadz lainnya sedang kebagian tugas menjaga pondok. Kami bertiga sedang duduk santai di atas karpet yang digelar di gerbang utama pondok. Rembulan beserta bintang-gemintang tampak menghiasi langit malam. Hembusan angin pegunungan bertiup dari arah selatan turut menambah dinginnya suasana. Sambil berselimut sarung kami bertiga menghadap perapian yang menyala, demi mengusir hawa dingin yang kian menusuk kulit.

“Tahu nggak ada santri putri baru namanya Chumairo,” ujar Kang Hammar antusias.

Lelaki berpeci miring yang duduk di sebelah Kang Hammar mengerutkan kening. “Gadis asal Bandung itu?” tanyanya.

“Oh, iya, tadi siang aku bertemu dia di jalan, orangnya cantik.” Kang Salamun yang sedang mengawasi api pun ikut nimbrung.

Aku merasa heran kenapa mereka sudah pada tahu mengenai identitas santri putri baru yang hendak aku kenalkan itu. “Mereka tahu dari mana ya kira-kira?” gumamku dalam hati. Padahal diantara kami bertiga hanya aku yang satu kelas dengan perempuan bermata coklat itu.

“Oalah ternyata sudah pada kenal ya,” ucapku sambil terkekeh.

Kang Jaro menantang. “Siapa sih ustadz yang belum kenal sama Chumairo? Halo?”

“Di kantor pusat sudah pada heboh loh Kang, malahan kecantikan Chumairo sudah menjadi buah bibir seantero pesantren ini,” seloroh Kang Salamun.

Memang tidak diragukan lagi kalau kota Bandung menjadi kota penghasil perempuan-perempuan cantik di Jawa Barat. Contohnya saja seperti Chumairo, perempuan cantik berwajah wajik, berkulit putih nan anggun itu.

“Kira-kira Chumairo udah punya pacar belum ya?” tanya Kang Jaro penasaran.

“Ya pasti sudahlah,” jawab Kang Salamun.

“Lah siapa emang pacarnya?”

“Gus Nafis.”

Mendengar jawaban itu Kang Jaro protes, “Loh yang bener toh Kang? Gus Nafis kan masih kuliah di Mesir.”

Aku dan Kang Salamun cuman bisa tertawa, karena berhasil membuat Kang Jaro sedikit kesal. Air yang kami rebus ternyata sudah mendidih, dengan sigap Kang Salamun langsung menyeduh kopi pahit dalam kemasan sashet. Secangkir kopi cukup mampu menghangatkan tubuh dalam obrolan kami malam ini.

“Menurut desas-desus yang aku dengar di kelas sih Chumairo itu belum punya pacar Kang,” ujarku.

“Wah kalau begitu, aku mau lah jadi pacarnya,” celetuk Kang Jaro.

“Lah ya aku juga mau loh Kang.” Kang Salamun tak mau kalah.

Aku pun tak ketinggalan untuk ikut menyerobrot “Kayaknya aku yang lebih cocok menjadi pacarnya Chumairo deh, kan aku yang sekelas dengannya.”

Raut wajah kedua temanku itu langsung cemberut, mereka tak terima dengan apa yang aku katakan barusan. Akhirnya kami bertiga saling berebut untuk menjadi pacarnya Chumairo. Karena sama-sama tidak ada yang mau mengalah, maka kami bertiga membuat perjanjian untuk mendapatkan gadis bermata lentik itu. Kami bertiga pun sepakat untuk taruhan.

“Waktunya satu bulan dari sekarang.”

“Selama satu bulan tidak boleh ada kontak langsung dengan Chumairo.”

“Tidak boleh ngobrol langsung, tidak boleh lewat inbok ataupun chat whatsaap.”

“Kita cuma boleh mendekatinya lewat pelantara orang lain,” tegasku kepada mereka.

“Oke sip setuju.”

Akhirnya kami sepakat untuk taruhan dengan ketentuan-ketentuan yang telah disebutkan tadi. Kami hanya memiliki waktu satu bulan dari sekarang. Siapapun yang menang di antara kami, maka berhak menjadi pacar Chumairo. Sekaligus tangannya berhak dicium bulak-balik sebanyak tujuh kali dari yang kalah setiap kali ketemu.

***

Siang itu aku berangkat kuliah. Kampusku berada di dalam area pesantren tempat aku mondok. Satu ruangan dalam kelasku berisi 29 mahasantri, tiga belas orang berjenis laki-laki dan sisanya perempuan. Tempat duduk kami terbagi menjadi lima baris: dua baris untuk laki-laki dan sisanya untuk perempuan.

“Ra, Zahra,” teriaku pelan kepada Zahra, teman perempuan yang satu bangku dengan Chumairo.

Zahra tidak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas kepadaku.

“Nitip buat Chumairo ya,” kataku pelan sambil memberikan sebuah origami berbentuk perahu.

Zahra sudah paham dengan apa yang aku lakukan. Sehingga tanpa basa-basi ia langsung mengambil sesuatu yang kusodorkan itu.

Diam-diam aku melihat Zahra memberikan origami perahu itu kepada Chumairo. Kemudian mereka bercakap-cakap pelan. Terlihat Zahra memberikan isyarat dengan kepalanya yang seolah-olah kepala itu menunjuk ke arahku. Tak berselang lama Chumairo menolehkan wajahnya.

Wesshh…

Hampir saja jiwaku terbang melayang, karena tak sengaja sepasang mata kami bertemu. Dalam hati kuberdo’a, “Chumairo mawon Gusti.” (Chumairo saja Tuhan)

***

Suasana pondok malam itu terlihat lengang. Sebagian besar santri sudah terlelap. Ada juga satu dua santri yang masih sibuk dengan Al-Fiyyah dan kitabnya, beberapa lagi terlihat masih asik mengobrol.

Diitemani cahaya purnama aku melangkah menuju masjid pondok. Tanganku menggendong sebuah buku hizib yang aku bungkus menggunakan sorban berwarna putih, lengkap dengan misik dan tasbih. Malam ini adalah malam tanggal empat belas Dzulqa’dah. Malam keduaku melaksanakan riyadhah.

Setelah melaksanakan sholat hajat dua rokaat, aku duduk bersila di atas sajadah dengan posisi badan masih menghadap kiblat. Tanganku membuka sorban yang membungkus buku hizib, tak lupa juga misik yang tadi aku bawa kuoleskan pada kedua telapak tangan. Kemudian kuusap-usapkan pada sebuah kertas yang sudah aku rajah. Pada kertas itu sudah tertulis sebuah nama seorang perempuan beserta nama ayahnya: Chumairo binti Husein.  

Aku mulai membaca hizib dengan suara lirih. Tepat pada lafad “Falamma roaynahu akbarnahu wa qattha’na aydiyahunna waqulna khasya lillahi maa hadza basyaran in hadza illa malakun Karim,”  aku mengulanginya sebanyak 119 kali.

Setelah selesai membaca hizib, aku tahan nafas sambil tangan kananku menepak bumi sebanyak tiga kali. Lalu aku mengambil kertas tadi yang terbuka di samping misik dan tasbih, kemudian aku lipat kembali. Setelah terlipat, kertas itu aku tempelkan ke bibir menggunakan kedua tangan sambil kuucap lirih, “Chumairo mawon gusti.” (Chumairo saja Tuhan).

Selesai sudah ritual riyadhahku malam ini. Aku merasa sedikit lega karena hanya butuh satu malam lagi untuk menyempurnakan mahabbah ini. Aku jamin setelah mahabbah telah sempurna, Chumairo langsung terpikat denganku.

***

Kebetulan malam ini adalah malam sabtu, di mana para mahasantri putri diizinkan memainkan androidnya masing-masing. Tak mau melewatkan kesempatan ini, aku mulai mencari nomor Whatsaap Chumairo di grup kelas. Setelah ketemu, aku mencoba menghubunginya lewat chat.

“P balap.” Aku memulai obrolan.

Tak berselang lama Chumairo membalas, “Kah.” (iya)

Aku langsung mengepalkan tangan kanan. Dalam hati bergumam, “Yes..yes.” Sungguh aku bahagia sekali.

Panjang lebar aku mengobrol online dengan Chumairo. Aku merasa kalau Chumairo sudah merasa nyaman denganku. Akhirnya dengan berani dan sedikit malu-malu aku mengungkapkan perasaanku padanya.

“Chumairo bolehkah aku ngomong sesuatu?” tanyaku.

“Boleh.”

“Jujur aku sudah mengagumimu sejak lama, tapi aku malu untuk mengatakan ini.”

Chumairo hanya membaca pesan tersebut. Sepertinya ia masih menunggu kalimat selanjutnya.

“Chumairo aku mau tanya, jika sebuah mobil berjalan dengan kecepatan 80km/jam, kemudian mobil itu melaju ke arah barat selama 45 menit dan berbelok ke arah selatan selama 30 menit, maka maukah engkau menjadi pacarku?”

Aku terus memandangi pesan yang barusan aku kirim. Aku cemas. Apakah Chumairo mau menjadi pacarku? Ada kekhawatiran yang mendadak muncul dari dasar hatiku, mengingat riyadhah mahabbahku batal pada hari terakhir. Ya, pada malam itu aku tak sengaja ketiduran sehingga ritualku harus tertinggal. Apa pun jawaaan dari Chumairo aku harus siap menerimanya. Tiba-tiba pesanku centang biru, di bawah tulisan chumairo terlihat sedang mengetik. Aku makin cemas, menunggu kata apa yang bakal ia balas.

“Iya mau,” balas Chumairo yang membuatku langsung loncat kegirangan.

“Aku mau menjadi pacarmu.” Chumairo kembali menegaskan.

Malam itu aku sangat bahagia karena perempuan yang aku dambakan, sekarang berhasil aku dapatkan. Rasanya tidak sabar ingin mengatakan kabar gembira ini kepada dua sahabat karibku, Kang Jaro dan Kang Salamun. Aku tak bisa membayangkan mereka berdua menyiumi tanganku bulak-balik sebanyak tujuh kali. “Arghhh pasti bakalan seru,” gumamku dalam hati.

***

Sore itu aku ditraktir Kang Jaro untuk makan ke warung Olif. Kami hanya berdua karena Kang Salamun masih sibuk menerima setoran hafalan santri.

Di sela-sela makan malam di warung sederhana itu aku mau langsung bercerita mengenai Chumairo yang sudah menerima cintaku. Namun belum juga aku mengutarakan hal itu, Kang Jaro lebih dulu menyodorkan tangan kananya sambil berkata, “Ayo Kang cium tanganku bulak-balik.”

Keningku mengkerut. Bingung. Dengan terbata-bata aku membalas, “A … Ada apa ini Kang?”.

“Coba lihat ini Kang!” Kang Jaro memperlihatkan android miliknya.

Layar android menunjukan obrolan dirinya dengan Chumairo di whatsaap. Ternyata obrolan itu berisi kalau Chumairo menerima cintanya Kang Jaro.

Aku meneguk ludah dalam-dalam, sedikit tak percaya. “Malam tadi kan Chumairo menerima cintaku. Tapi kenapa …,” gumamku dalam hati.

Maka dengan berat hati aku mencium tangan Kang Jaro bulak-balik, meskipun tanda tanya besar memenuhi kepalaku.

“Owalah siap-siap Kang,” kataku antusias penuh dengan kepura-puraan.

 “Pasti mutihnya manjur ya kang,” ujarku lagi sambil tertawa kecil.

Puasa mutih biasanya dilakukan dalam waktu tiga hari, sesuai namanya puasa ini mengharuskan si pengamalnya untuk memakan makanan yang berwarna putih atau lebih tepatnya cuma makan nasi putih dan air putih saja.

 “Ealah Kang mutihku malah batal,” jawab Kang Jaro.

“Loh kok bisa batal Kang?” tanyaku penasaran.

“Pada hari terakhirnya saja aku dipanggil Pak Yai, Kang. Terus aku disuruh makan di dapur ndalem. Jarang-jarang kan ada santri yang disuruh makan di sana. Ya, karena eman ya … akhirnya aku makan saja, Kang. Hehe.”

Oh, iya, Kang Jaro juga sering menitipkan sesuatu kepada Imeyra untuk diberikan kepada Chumairo. Kata Imeyra sih, “Puisi-puisi cinta dan es krim”.

Imeyra adalah salah satu teman perempuan sekelasku di kampus. Waktu aliyah ia satu kelas dengan Kang Jaro. Jadi wajar saja kalau Kang Jaro suka meminta bantuan kepada gadis tinggi semampai itu dalam hal mendekati Chumairo.

***

Malam ini aku berada di warung makan Sedap Malam. Entah rezeki apa yang Kang Salamun dapatkan hari ini, sampai-sampai mau mentraktirku makan malam di luar pondok. Dísela-sela makan itu Kang Salamun tiba-tiba memberitahuku sesuatu.

“Coba lihat!” pinta Kang Salamun.

Tangannya menyodorkan android miliknya, persis seperti yang dilakukan Kang Jaro tadi siang.

“Owalah karena ini sampean mentraktirku makan Kang?” jawabku tersenyum kecut.

Aku merasa tak percaya kok bisa-bisanya Chumairo menerima cintanya Kang Salamun juga. Bukan karena aku tak percaya isi obrolan itu, tetapi aku tak percaya mengenai sikap Chumairo yang mudah sekali mencintai laki-laki.

Keraguanku mengenai desas-desus di kelas perihal Chumairo yang sedang dekat dengan banyak laki-laki mulai terjawab. Awalnya aku merasa kalau kabar burung itu hoax, ternyata sekarang menjadi masuk akal. Aku merasa aneh dengan Chumairo yang menerima cinta dari tiga laki-laki secara bersamaan.  Dalam hati aku bergumam, “Bangsat! Semua laki-laki masa di embat.”

Untuk mengurangi rasa kecewaku terhadap Chumairo, aku juga iseng bertanya kepada Kang Salamun.

“Pasti Jangjawoknya manjur ya kang?”

Aku tahu Kang Salamun pasti mengamalkan Jangjawoknya untuk mendapatkan Chumairo. Soalnya beberapa hari kebelakang aku melihat lelaki berkumis tipis itu jarang makan dan tidur malam.

“Batal Kang,” jawab Kang Salamun sambil terkekeh.

Jangjawokan ialah sejenis mantra-mantra sunda buhun yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, salah satunya pengasihan. Aku sebenarnya tidak tau persis apa itu jangjawokan, hanya saja aku pernah diceritakan mantra ini oleh Kang Salamun satu tahun yang lalu.

Mengamalkan mantra jangjawok tersebut harus melakukan “Kuru cileuh kentel peujit”. Kurang lebihnya selama tujuh hari berturut-turut. Aku pun tidak tahu persis Kang Salamun mendapatkan mantra itu dari mana. yang jelas aku tahu kalau Kang Salamun berasal dari daerah sunda yang masih kental dengan ajaran leluhurnya.

“Loh kok bisa batal, Kang?” jawabku penasaran.

Aku melihat raut muka Kang Salamun sedikit mesem-mesem, sambil malu-malu Kang Salamun menjawab, “Waktu hari terakhir pengamalan, aku lupa ngga baca mantranya Kang.”

 Aku dan Kang Salamun cuman bisa tertawa lepas.

Kang Salamun juga sering menitipkan sesuatu kepada Ayya, teman satu kelasku juga. Kang Salamun dan Ayya itu masih ada hubungan saudara. Aku juga tidak tahu persis apa yang Kang Salamun titipkan ke ayya. Kata Ayya sih berupa buku-buku cinta.

***

Suasana kelas sedikit gaduh dikarenakan teman-teman perempuan menyoraki Imron yang telah membuat Zahra menangis. Waktu itu Zahra dan Chumairo pergi ke wc. Melihat bangku Zahra kosong, Imron mendatangi meja tersebut. Imron yang sudah lama menyukai Zahra seperti mendapatkan kesempatan emas. Ia pun iseng menulis sesuatu di buku milik Zahra.

Tak berselang lama Zahra masuk sendirian. Melihat bukunya dicoret-coret oleh Imron, gadis beralis tebal itu langsung mendekati Imron yang tidak tahu kalau yang punya buku datang.

Brakk!

 Zahra memukul meja dengan keras. Imron terkejut. Ia langsung balik ke bangkunya sendiri. Kemudian aku melihat Zahra langsung membaca apa yang Imron tulis di bukunya. Entah kenapa ia langsung menangis sesenggukan.

Endah ceg Imron Zahra e nangis.” (hayo Imron Zahranya jadi Nangis).

Wehh Imron, ika Zahra e nangis.” (Wey Imran, itu Zahranya menangis).

Beberapa teman perempuan berteriak menyalahkan Imron. Ada juga yang menghampiri Zahra untuk menenangkannya. Dari arah pintu Chumairo berjalan masuk. Raut mukanya terlihat kaget melihat sahabatnya itu menangis. Ia langsung bertanya kepada Zahra, “Ada apa ra?” Zahra tak menjawab.

“Zahra menangis karena Imron,” kata Ayya.

Chumairo terlihat marah. Ia tidak terima sahabatnya itu dibuat menangis begitu. Pandangannya berhasil menemukan Imron dan ia berkata dengan marah, “Woy Imron, dinaonkeun yeu si Zahra?” (Wey Imran, Zahra kamu apakan?)

Suasana kelas yang tadi gaduh mendadak senyap, terbius oleh gertakan Chumairo kepada Imron.

Maneh wani-wanina nyieun si Zahra ceurik.” (kamu berani-beraninya membuat Zahra menangis).

Anjing maneh, setan, waninan ka awewe.” (anjing kamu, setan, beraninya ke perempuan).

Hayu lamun tek geluti jeung urang. urang mah teu sieun.” (ayo kalau mau berantem sama saya. saya tidak takut).

Aku kaget mendengar apa yang Chumairo ucapkan. Kata-kata kotor yang ia ucapkan membuatku tak percaya. Perempuan yang terlihat lemah lembut mendadak galak seperti orang kesurupan.

“Anjing,” umpat chumairo Sambil melemparkan buku ke arah Imron.

Tidak berhenti disitu, tiba-tiba terdengar suara, “Brakk!” Chumairo menendang meja. “Hayu gelut jeung urang.” (ayo berantem sama saya).

Aku semakin dibuat tak percaya oleh tingkah Chumairo siang ini. Hilang sudah keinginanku untuk menjadikannya pacar.

Imron cuman bisa cengengesan di tempatnya. Aku melihat Imron seperti menahan amarahnya. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Chumairo.

***

Semenjak kejadian siang itu, sekuat tenaga aku berusaha menghilangkan rasa cintaku kepada Chumairo. Namun malam-malamku masih diisi dengan do’a yang sama yaitu “Chumairo mawon gusti.” (Chumairo saja Tuhan).

Siang ini semua teman-temanku sedang fokus mengikuti setiap keterangan yang disampaikan oleh Ibu dosen. Hanya aku yang pikirannya melayang pada kejadian siang itu. Ibu dosen kembali duduk di tempatnya, tangannya membuka sebuah absensi yang berada di atas meja.

Dari arah pintu terlihat seorang perempuan berjalan masuk, seorang perempuan yang tak asing lagi bagiku: Chumairo. Baru kali ini aku mendapati dirinya terlambat masuk kelas. Ia masuk ke kelas tanpa permisi. Melihat hal itu Ibu dosen memanggil dirinya untuk maju dan menghadap dirinya.

“Chumairo kenapa kamu telat masuk kelas?” tanya Ibu dosen dengan lembut.

Ibu dosen seolah tak terlalu tertarik dengan sikap Chumairo yang masuk kelas tanpa permisi. Ia lebih memilih menanyakan alasan apa yang membuatnya terlambat.

“Baru selesai mandi, Bu,” jawab Chumairo santai.

Aku melihat Chumairo menampakkan sikap tak sopan kepada Dosen tersebut. Ia juga menepuk-nepukan kaki kanannya ke lantai.

“20 menit lagi mata kuliah Ibu selesai. Kamu telat 25 menit.”

“Kalau kamu mau absensimu Ibu tulis hadir, kamu harus menulis apa yang sudah Ibu tulis di papan tulis”.

“Banyak banget, Bu,” celetuk Chumairo.

“Kalau nggak mau ya sudah Ibu alpakan saja absensimu,” gertak Ibu Dosen.

Terlihat Chumairo memandangi tulisan yang ada di papan tulis, gelagatnya seperti orang yang tak peduli.

Chumairo mendecak. Ia berucap, “Alpakan sajalah, Bu.” Ia melenggang pergi begitu saja keluar kelas.

Semua orang yang berada di kelas menampakan wajah tak percaya, tak terkecuali aku. Aku merasa heran dengan sikap chumairo seperti itu. Aku merasa kesal ketika ada seseorang yang tak mau menghormati seorang guru.

***

Setelah banyak peristiwa yang memperlihatkan keburukan Chumairo, keputusanku untuk menjauhi Chumairo semakin mantap. Chumairo memang cantik, namun aku pikir, “Cantik aja nggak cukup.”

Suara gaduh para santri sudah tenggelam oleh malam yang semakin larut. Seperti biasanya malam ini aku bermunajat kepada Tuhan. Dengan perasaan mantap dan ikhlas, aku mau menghapus nama yang dulu selalu aku sebut dalam do’a-do’aku. Malam ini aku mau mengembalikan Chumairo kepada Tuhanku.

“Ya Allah, aku kembalikan Chumairo kepada-Mu. aku nggak jadi meminta Chumairo.”

“Lupakan saja do’a-do’aku yang lalu. Sekarang aku manut dalane panjenengan mawon. Yang penting jangan Chumairo.”

***

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Mengenal Pendidikan Diniyah Form...
Kemarin (20/07), di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy baru saja dib...
Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon