Dul Muin; “Amalan Bisa Membuatku Kaya”

Waktu menjelang senja seperti ini memang enaknya duduk di kursi depan rumah. Didukung oleh suasana sejuk selepas hujan, bau petrikor, dedaunan membasah. Ah, betapa nikmatnya bersantai sambil menyesap sebatang rokok Gudang Garam Merah. Sesekali kuseruput secangkir kopi Kapal Api yang masih mengepul.

Suasana nikmat seperti ini rupanya tidak berselang lama. Sebab tak jauh dari tempatku bersantai, Ibuku malah merusak dengan cerocosannya yang amat membosankan.

Sambil menyuapi makan dua bocah kembar berumur 2 tahunan. Ibu mengomel, “Nang, mana gah gulati pegawean, rewangana Bapak bari Emak.”

Aku tidak peduli, masih sIbuk menyesap pelan sebatang rokok yang tinggal setengahnya, lantas menghembuskan asap itu ke udara.

Ibu masih saja mengomel, “Bapane ira lagi kangelan gulati kerja, Emak ya ning umah bae ngurusi kembar.”

Ira kuh wis lulus sekolahe, wis duwe ijazah, bokat bae ira mah gampang olih kerjane.”

Ika lah batur-bature ira ws pada menggawe, ws pada mupai ng Wong tua.

Bapak karo Emak wis akeh utange, ning sedulur kien uwis ning sedulur kaen uwis, warung kien uwis warung kaen uwis, ko esuk gah keder arep utang ning sapa maning. Adine ira wis manjing smp, jajane nambah akeh. Si kembar rong dina sepisan kudu tuku susu bari popok, ira masih jaluki duit bae nganggo tuku udud bari kuota, duit sing endi nang? Mader bapane ira dadak luruh.”

Kulirik sekilas dengan muka sebal. Rupanya sejak tadi Ibu berbicara panjang kali lembar sambil memasang wajah lesu bercampur marah.

Aku mendecak.Ngomong bae, ya, Mak, balasku singkat.

Kupalingkan wajah seraya meneruskan balasanku. Bli weruh ana wong nyantai. Tenang bae sih,Mak, reang kih lagi ngamalaken hizib alam nasyroh. Ko gah duite teka dewek,” selorohku santai.

Uwis nang, nganggo apa amalan-amalan mengkonon kuh. Kerja bae kerja sing karuan ana duite, timpal Emak bernada marah.

Mendengar Emak ngomong begitu, aku sedikit tersinggung. Ihh, Mak, amalan kuh bisa nganggo apa bae, kita pengen sugih? Ya ana amalane. Kita pengen akeh sing demen? Ya ana amalane. Kita pengen apa bae? Ya ana amalane, Mak, jawabku dengan nada tinggi.

Dengan raut wajah kecewa Ibu pergi meninggalkan si kembar yang sedang bermain mobil-mobilan.

***

Malam ini aku masih belum bisa tidur, karena Bapak dan Emak sedang rIbut soal duit. Telingaku sudah terbiasa mendengar kerIbutan mereka, hampir setiap malam mereka pasti rIbut. Masalahnya, ya, cuman satu, yaitu duit.

O, esuke pengen mangan apa? Beras wis garep entok, lawuhan durung ana, gelem mangane bari uyah bae kuh?” tanya Emak.

“Kari utang bae dikit, jawab Bapak santai.

Utang ning sapa maning? Kita kuh wis isin kang. Ning kana kene wis diutangi kabeh.

Bapak cuman bisa diam, setiap kali mendengar keluhan yang keluar dari mulut Emak.

Ika kah dul muin e kon menggawe, aja ngurusi amalan bae, laka duite.

Emak masih terus menumpahkan semua keluh kesahnya. Emak mengatakan kalau ia selalu kebingungan untuk mengatur uang yang diberikan oleh Bapak. Jumlah yang tak seberapa harus dibagi-bagi sedemikian rupa. Membeli susu dan popok, uang jajan buat anak-anaknya, belum lagi membeli kebutuhan dapur yang sekarang harganya sedang pada naik. Ia juga harus membayar utang pada bank keliling setiap hari, sedangkan uang yang diberikan Bapak selalu tak mencukupi semua kebutuhan tadi.

Malam semakin larut, Bapak dan Emak masih saja rIbut. Perdebatan itu akan berakhir jika salah satu adik kembarku ada yang menangis. Aku yang sudah terbiasa mendengar kerIbutan antara Bapak dan Emak cuman bisa diam sambil rebahan. Sedangkan Bapak dan Emak masih rIbut, aku akan memakai earphone dan menonton youtube. Video yang biasa aku tonton yaitu mengenai dunia praktisi, kadang melihat bagaimana praktisi melawan dukun santet, kadang melihat para praktisi menjelajahi tempat-tempat angker dan sesekali para praktisi itu akan membagikan amalan-amalannya. Bagian ini yang paling aku sukai, karena aku akan mencatat kemudian mengamalkannya.

***

“Tolong, Pak, Atun kesurupan,” kata tetanggaku kepada Bapak.

Bapak, Ibu dan aku buru-buru menuju rumah Atun. Atun merupakan saudara sepupuku, rumahnya persis berada di depan rumahku. Ia tinggal bersama Ibu dan bibinya. Ayahnya sedang pergi merantau, jadi di rumah Atun tidak ada seorang lelaki pun.

Sesampainya di rumah Atun, aku melihat Ibunya Atun sedang memegangi anaknya itu sendirian. Ibuku langsung sigap ikut membantu memegangi remaja SMP itu.

Awasi Atun, kita pengen nyusul pak ustadz. Bapakku berpesan kepada kami semua, kemudian ia pergi sendirian naik motor.

“Wah, ada kesempatan nih,” gumamku dalam hati.

Aku mau membuktikan kepada Ibu kalau amalan juga bisa menyadarkan kembali orang yang kesurupan. Aku langsung searching di youtube “amalan untuk menyadarkan orang yang kesurupan”. Setelah itu aku pilih mana yang cocok dan gampang. Aku mulai menghapal tutorial yang aku tonton. Setelah hafal bacaan dan tau tata caranya, dengan yakinnya aku mulai mendekati atun. Lalu kumulai membaca ayat kursi satu kali, kemudian mengulangi akhir ayatnya sebanyak tiga kali dengan suara sedikit keras, sesuai dari tutorial yang aku tonton barusan.

“Wala yauduhu hifduhuma wahuwal aliyul ‘adhim,”  ucapku sambil meniup telinga atun yang sebelah kanan. “Waduh kok tidak ada reaksi apa-apa, ya.”

Aku membathin sendiri. “Kayaknya tadi kurang keras, coba sekali lagi, Ah.” Aku masih membathin dalam hati. Setelah aku tiupkan lagi, ternyata masih belum ada reaksi apa-apa.

“Oh, mungkin niupnya ditelinga yang sebelah kiri, coba lagi ah.”

Tiupan yang ketiga juga masih belum ada reaksi. Orang-orang pada memperhatikan apa yang sedang aku lakukan, wajah mereka kelihatan bingung.

“Oh, mungkin gerakannya harus kaya praktisi-praktisi yang di youtube.”

Akhirnya aku maju ke depan atun, aku mulai memperagakan bagaimana praktisi yang aku lihat di yotube menyembuhkan orang kesurupan. Kaki yang sebelah kiri aku majukan ke depan, tangan kananku aku tempelkan di leher atun. Kemudian aku mulai merapal ayat kursi seperti tadi. Setelah selesai membaca ayat kursi, aku pura-pura menarik sesuatu dari tubuhnya atun ke atas.

“Allahu Akbar, teriakku kencang. Dan …

Tidak ada reaksi sama sekali.

Orang-orang langsung menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Setane wis metu tah?”

Ira lagi apa, In?”

Priwe Priwe, In?”

Aku yang terlanjur malu cuma bisa menggelengkan kepala dengan pelan. Malam ini aku gagal meyakinkan Ibu untuk percaya dengan amalan-amalan. Tidak lama dari itu Bapak datang bersama pak ustadz, Atun berhasil disadarkan oleh Pak Ustadz. Aku langsung pulang duluan ke rumah.

***

Malam itu Bapakku jatuh sakit, tubuhnya demam tinggi. Karena tidak punya uang, Bapak cuman bisa dirawat di rumah. Setiap satu jam sekali, Ibu mengganti kompresan Bapak. Setelah mengganti kompresan Bapak, Ibu mendekat ke arahku yang sedang meerokok di depan rumah.

Nang mana gah menggawe, sekien bapa sakit. Sapa maning sing luruh duit?. Ira kan anak pertama, wis duwe ijazah, wong mah aja meneng bae ning umah. Kali ini Ibu ngomong dengan isak tangis.

Tenang mak, amalane reang delat maning gah dadi. Lagi-lagi aku menjawabnya dengan santai dan percaya diri.

Ko esuk Emak pengen nganter Bapak ning puskesmas, mongmongen adine ira. Ibu mencoba menengakan dirinya dengan mengalihkan pembahasan.

Bapane ora usah digawa ning kesmas maning mak, ko tek gawekena banyu donga ning reang. Ko gah waras mak.

Mungkin karena Ibu tidak mempunyai duit, Ibu langsung mengiyakan apa yang aku katakan.

Tidak lama setelah Ibu masuk, aku langsung buka youtube. Mencari amalan untuk membuat air do’a yang akan kuberikan ke Bapak. Setelah menemukan tutorial yang cocok dan mudah untuk diamalkan, akhirnya aku masuk dan memulai ritual tersebut.

***

“Wis telung dina nang bapane durung waras bae, kata Ibu kepadaku.

“Jare kah telung dina gah jeh waras, lanjut Ibu.

Aku hanya bisa diam, tak bisa beralasan apa-apa lagi. Karena setelah satu hari Bapak minum air do’a dariku, Emak sudah menagih kesembuhan Bapak. Pada waktu itu aku beralasan kalau nanti setelah tiga hari airnya baru bereaksi. Dan sekarang Ibu kembali menagih janji untuk kesembuhan Bapak, aku cuman bisa Diam.

Mongmongen kembare, ko awane Emak pengen nganter Bapak berobat. Ibu melanjutkan ucapannya, karena Ibu tau kalau air do’a dariku tidak bereaksi apa-apa.

Iya, Mak.

***

Menikmati teh pada sore hari memang nikmat, apalagi ditemani sebatang Gudang Garam Merah, weuh nikmat pol. Sambil memandangi matahari yang sebentar lagi tenggelam, gerombolan burung yang hendak pulang ke sarangnya masing-masing turut serta menghiasi keindahan langit pada sore hari. Seperti biasanya aku sedang duduk santai di depan rumah.

Pegaweane sebal sebul udud bae ya nang, teriak Ibu

Wis rong tahun sira luh lulus sekolah, kon menggawe bli gelem bae. Pengene apa sih ira kuh?” tantang Ibu.

Tidak seperti biasanya Emak berbicara seperti itu dan disertai dengan nada bicara yang tinggi.

“Reang sih mak ora menggawe gah duite teka dewek, jawabku santai.

“Teka dewek teka dewek endase ira kerowak, seloroh Ibu.

Temenan mak, reang kuh amalane akeh. Aku mencoba membela diri.

“Sing mau geger amalan-amalan bae bocah kih,

“Amalan kuh bisa gawe sugih mak.

“Endi buktine hah?” Ibu kembali menantang.

Kali ini Emak benar benar marah kepadaku. Terbukti tangan kanan Emak merebut rokok dari tanganku, dengan keras rokok itu ia lempar ke arahku.

Jeduk!

Suara sarungku yang terkena lemparan rokok dari Emak. Aku yang panik langsung berdiri dan mengibas-ngibaskan sarungku agar rokok itu jatuh ke lantai.

“Apa sih mak, suaraku membentak Emak dengan emosi.

“Wong jeh lagi enak-enak e malah diganggu.

Dengan marah aku tendang kursi disampingku.

Bruak!

Kursi itu mengenai meja disebelahnya mengakibatkan gelas yang berisi teh jatuh ke lantai. Trang, gelas itu pecah berserakan. Tanpa memperdulikan Ibu aku langsung melenggang pergi dari rumah.

***

Aku duduk di serambi masjid desa tetangga, merenung sendirian. Pikiranku masih kacau tak karuan, aku masih marah sama Emak yang tadi sore melempar rokok kepadaku. Aku berencana kabur dari rumah, entah sampai kapan aku bakal balik lagi ke rumah.

Aku melamun ke masa 5 tahun yang lalu, saat diriku masih di pesantren. Aku dulu pernah mesantren, tapi cuman 3 tahun saja. Yaitu waktu aku sekolah Mts. Lulus dari Mts aku boyong dan melanjutkan sekolah smk di rumah. Aku masih ingat waktu itu ada seorang ustadz yang kalau ngajar ngaji selalu membahas amalan, namanya Kang dulyani.

“Kalian ngga usah cape-cape kerja buat jadi kaya, kalian tinggal mengamalkan wirid saja pasti bisa kaya tanpa bekerja.”

“Ada juga amalan biar pintar, jika kalian mengamalkan amalan ini maka kalian tidak usah lama-lama belajar.”

“Ada juga amalan biar cepet menghafal, kalau kalian mengamalkan ini maka kalian tidak usah capek-capek menghapal.”

“Kalian mau apa? Mau disukai sama santri-santri putri? Mau jadi juara kelas? Mau musuh takut sama kalian? Semuanya ada amalannya.”

Kurang lebihnya kata-kata itu yang sering kang dulyani sampaikan ketika mengajar, mau ngaji nahwu, mau ngaji shorof, fikih atau ilmu yang lain. Kang dulyani pasti neranginnya amalan. Padahal pondok tempat aku mesantren adalah pondok yang membahas ilmu keagamaan, tidak ada amalan-amalan yang diijazahkan sembarangan seperti yang dilakukan oleh Kang Dulyani. Ada juga nanti kalau mesantrennya sudah lama, baru abah yai sendiri yang akan mengijazahkan wadzifah-wadzifah khusus ke santri senior.

Karena terobsesi dari apa yang disampaikan oleh kang dulyani, aku memilih boyong diusia mondokku yang baru 3 tahun. Padahal 3 tahun belum bisa dapat izin boyong dari abah yai. Karena terobsesi dari penyampaian Kang dulyani juga, aku engga mau repot-repot mencari kerja. Karena aku pikir amalan yang sedang aku lakukan bisa mendatangkan uang kepadaku tanpa harus capek-capek kerja.

***

Jam di masjid menunjukan waktu tengah malam, aku masih terjaga. Perutku yang keroncongan ditambah hawa dingin yang menembus kulit, membuatku susah untuk memejamkan mata. Aku merasa seperti orang yang tak berguna, aku kehilangan keyakinan terhadap apa yang sedang aku amalkan. Malam ini aku putuskan untuk mengancam Tuhan, aku mau menuntut atas apa-apa yang telah aku amalakan. Dalam do’aku, aku bermunajat pelan kepada Tuhan;

“Ya Allah … Kata seorang ustadz yang aku tonton di youtub, kalau aku mengamalkan sholat dhuha dan membaca surat waqiah rezekiku akan lancar.”

“Ya Allah … Kata seorang ustadz yang aku tonton di youtube, kalau aku rajin membaca istighfar maka rezekiku akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.”

“Ya Allah … Aku sudah 2 tahun lebih sholat dhuha 4 rokaat dan dibarengi membaca surat al-Waqiah, lidahku juga tak putus-putus membaca istighfar, setiap pagi dan petang aku juga istiqomah membaca hizib alam nasyrah.”

“ya Allah … Kata Kang dulyani kalau kita punya amalan, maka kita bisa menjadi kaya walapun tidak bekerja.”

“ya Allah … Sekarang aku tidak bekerja tetapi aku mau kaya dengan amalan-amalanku tadi ya Allah.”

 “Ya Allah … Pokoknya sekarang aku mau menjadi kaya, untuk caranya aku serahkan kepadamu ya Allah.”

Setelah berdo’a, aku merebahkan tubuhku yang lelah ini. Aku mencoba memejamkan kedua mataku yang sudah mulai mengantuk. Tapi sial, perutku yang lapar tidak bisa dikompromi lagi. Dengan malu-malu aku meminjam uang kepada pengurus DKM, setelah dipinjami duit aku langsung keluar mencari makanan. “makan nasi goreng enak nih” gumamku dalam hati, kebetulan di seberang jalan ada penjual nasi goreng. Akhirnya aku menyeberang menuju tukang nasi goreng tersebut.

Bruak!

Suasana berubah menjadi gelap.

***

“Mak, kita kuh kenang apa?” Dengan susah payah aku bertanya kepada Emak yang berada di sebelah kiriku.

Selang menempel ditangan sebelah kananku, kepalaku juga dibalut perban. Aku merasakan sakit disekujur tubuhku, tapi aku tidak ingat. Kejadian apa yang membuatku dibawa ke rumah sakit.

Aku melihat raut wajah Emak yang habis menangis. Emak tidak menjawab pertanyaanku, ia cuman sesenggukan menahan tangis.

“Mak, kita kuh nang apa?” Aku mengulangi pertanyaan.

Sambil menangis Emak menjawab, Ketabrak nang.

Aku mencoba mengingat-ingat kapan aku tertabrak, oh iya aku ingat. Pada malam itu aku nyeberang tanpa menengok kanan-kiri, kemudian dari arah timur sebuah mobil melaju kencang. Aku terpental, kemudian setelah itu suasana gelap dan aku tak sadarkan diri.

“Sing nabrake wong wadon nang, kayane wong sugih pisan.” Emak kembali berbicara

“Endi mak wong sing nabrak kitae?” tanyaku penasaran.

“Wonge wis mangkat meng Jakarta, buru buru jeh nang” jawab Emak.

“Anune mah wonge wis tanggung jawab, biaya rumah sakit wis ditanggung kabeh ning wong kuene. Terus kuh nang wong kuen kuh mai duit 100 juta kanggo senang.

Aku terperangah mendengar uang 100 juta. Akeh nemen mak?”

Jare wong kuene, itung-itung jaluk maaf karena wis ngilangaken sikil kiwene senang.

Aku lebih terperangah dan tak percaya mendengar ucapan Emak barusan, aku langsung melihat kaki kiriku yang ternyata sudah tidak ada. Aku menjerit dengan kencang dan menangis.

“Argh … Bukan begini juga caranya.”

***

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon