Ibu Nyai Pembuka Mataku

Judul tersebut terlintas saat aku hendak menulis catatan ini, dengan berniat ngalap berkah pada salah satu buku beliau yang berjudul “Akang Di Mataku”, Buku pertama yang ku baca jauh sebelum aku mesantren di Pondok Kebon Jambu. Bapak yang selaku alumni Pondok Kebon Melati, mendapat buku itu dari temannya yang mengabdi di sana, aku membaca dan langsung jatuh cinta pada sosok yang diceritakan pada buku itu, yang setelah berjalannya waktu, seiring kemampuan berpikirku sedikit meningkat, aku baru sadar bahwa tokoh “Akang” yang diceritakan adalah tokoh nyata yang ditulis oleh istrinya sendiri, Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva.

Saat kali pertama mondok, aku belum tahu seberapa terkenalnya Ibu di luar pesantren, hanya informasi tentang buku dan tamu-tamu beliau yang ku dapat dari cerita kang-kang santri seniorku, bahwa bukunya tersebar seantero Indonesia, diterbitkan oleh penerbit ternama setingkat Kompas, tamu-tamunya yang datang dari pelbagai belahan Dunia dan ragam Budaya, dan aku pun menyaksikan kenyataannya tersebut.

Berbaur di lingkungan Kang Santri, aku lebih banyak mengenal pengasuh pondok putra, beliau adalah Yayu Hj. Awanillah Amva, yang sering ku lihat di banyak acara pondok, belum lagi saat awal kedatanganku, pada beliaulah ibu bapak menitipkan dan memasrahkanku untuk belajar di pondok ini. Hanya dari buku-buku yang terpajang rapi di rak kamarku, aku mengenal Ibu Nyai dengan bait-bait puisinya yang ku rasa lebih serupa senandung cinta.

Cintanya kepada pemilik semesta tergambar jelas dalam jerit yang dirajutnya dalam antalogi puisinya. Terkadang karena tak kuasa, aku pernah cepat-cepat menutup buku puisi beliau, yang karena kedangkalan iman dan otakku aku tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya, aku bingung saat beliau lantang berteriak pada puisinya,

“Ya Allah..

Aku tidak punya lelaki,

Lelakiku adalah Engkau,

Kekuatanku adalah Engkau,

Bukankah lelaki dan perempuan sama?

Selama ini para lelaki mau mencari kekuatannya dariMu,

Sedangkan para perempuan,

Betapa bodohnya bila mereka mencarinya dari yang lain.

Ya Allah…

Aku ingin menjadi lelakiMu,

Perempuan hanyalah jenis kelamin,

Bukan bentuk kelemahan,

Lelaki adalah jenis kelamin,

Bukan pula bentuk kekuatan.

Ya Allah…

Sesungguhnya Engkau adalah kekuatan semua Perempuan,

Bukan makhluk lelaki yang menjadi kekuatan mereka.”

Entahlah, aku lebih sering tersesat dalam memahami kata yang ku rasa sudah tak masuk nalar pikirku, semisal saja pada bait, “lelakiku adalah Engkau”, seketika akalku menyangkal, bukankah Allah tidak sama dengan makhluk-Nya, atau pada bait “aku ingin menjadi lelakiMu”, ah, bukankah Ibu seorang perempuan? Pada majaz-majaz semacam itulah aku kebingungan memaknai kata yang tersurat dalam bait-bait puisi beliau.

Menginjak tahun ke-7 mesantrenku, terlebih setelah menjadi mahasantri di Ma’had Aly Kebon Jambu, perguruan tinggi yang lahir dari keputusan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) tahun 2017 itu membekali mahasantrinya dengan pemahaman kesetaraan gender dan keadilan antara laki-laki perempuan, dibimbing oleh dosen-dosen yang hebat dan mumpuni, sedikit banyak aku mulai bisa merenungi maksud karya-karya beliau yang dulu ku rasa sulit dimengerti.

Belum lagi aku yang besar di lingkungan budaya patriarki, di mana sehari-hari perempuan di kampungku tak terlalu dilibatkan dalam banyak urusan, karena stigma masyarakat sekitar memandang perempuan-perempuan itu hanya cukup membantu laki-laki di rumahnya, maka sedari kecil, aku tak pernah melihat perempuan memimpin tahlil, memimpin istighosah, memandu marhabanan, atau berbicara mewakili suatu kelompok rombongan saat silaturahmi, atau juga menjadi mubalig dalam acara PHBI kampung, benar-benar aku tak pernah melihatnya, bahkan sekedar belajar motor saja, ibuku dilarang bapak. Dalam banyak acara perempuan selalu hanya repot di dapur, memasak dan memasak, tidak ikut berbicara, tidak pula masuk rencana.

Tapi setelah mendengar penjelasan yang ku dapat dari guru-guru, entah tentang kesetaraan, ketidakadilan yang banyak dialami terutama perempuan, belum lagi kiprah Ibu dan Yayu pengasuh pondokku yang dalam setiap sambutan dan postingannya menyuarakan gagasan bahwa laki-laki dan perempuan hanya jenis kelamin, bangunan patriarki yang terbangun megah dari pemandangan bertahun-tahun di lingkungan rumahku itu ambruk, hancur dan berserakan.

Mungkin setelah itu aku baru bisa memahami, seperti; oh, ternyata maksud Ibu dalam puisinya tentang “Lelakiku adalah Engkau”, itu karena beliau ingin membongkar pendapat orang kebanyakan yang berpikir bahwa, “Pesantren yang ditinggal kiai (laki-laki) nya pasti bakal bubar”, Ibu menolak dan lebih menyadarkan, bagi Ibu, makmurnya pesantren, seberapa maju dan masyhurnya, itu hanya semata-mata dari Allah, bukan malah dari kiainya, bukankah kiai/laki-laki itu ciptaan Allah belaka? Dalam kata lain, Ibu ingin berbicara “selama masih Ada Allah, pesantren pasti akan terus berjalan!”

Sembari menutup tulisan ini, aku ingin kembali mengingatkan kata-kata Ibu yang mirip dengan pidato Sayyidina Abu Bakar saat Rasulullah wafat, kejadiannya pun hampir sama. Jika saat Rasulullah Wafat banyak sahabat yang murtad dan kembali kufur, di saat Akang Muhammad meninggal, banyak santri yang boyong dan diambil orang tuanya karena pupusnya sosok teladan, disitulah Ibu berpidato, “Kalau kamu mondok karena Akang, Akang sudah meninggal dan dikuburkan, kalau kamu mondok karena Allah, sungguh Allah hidup dan tak akan pernah meninggalkan kalian.”

Itulah Ibu, Pembuka Mataku,

Ahmad Zainul Milah

Santri Kebon Jambu

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon