Wajah Ganda Perilaku Manusia
Bicara tentang manusia tidak akan ada habisnya, dan itu bukan tebakan, bukan juga teka-teki tapi itulah kebenarannya. Kadang saat melihat orang-orang beraktivitas, ada saja tingkah yang dibuatnya. Fenomena ini paling jelas terekam di lingkungan sekolah. Melihat anak-anak sekolah yang menjahili temannya, menempelkan permen karet ke bangku temannya agar nanti celananya terekat permen karet itu hingga menjadi bahan tertawaan orang-orang, atau mengikatkan tali sepatu pada sepatu yang sebelahnya.
Tujuannya sederhana, malahan terkesan receh kalau dipikirkan oleh beberapa pihak. Namun siapa sangka jika tindakan tersebut sangat merugikan bagi korban yang dijahilin. Bisa jadi nanti dia terjatuh dan tubuhnya luka-luka saat dijahili, atau dalam jangka panjang, dia tidak berani bertemu teman-teman karena trauma mengingat hal tersebut.
Sisi Gelap Keisengan yang Berawal Dari Candaan Menjadi Perundungan
Apa yang sering kali dilabeli sebagai kenakalan remaja biasa atau candaan sesungguhnya adalah akar dari perundungan (bullying). Di Indonesia, fenomena ini bukan lagi sekadar masalah bangku sekolah yang bisa diabaikan. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kasus perundungan di lingkungan pendidikan terus menampilkan angka yang memprihatinkan, di mana kekerasan fisik dan psikologis sering kali bermula dari ejekan atau keisengan yang dianggap remeh oleh pelaku.
Secara umum, perundungan (bullying) tidak dapat dibenarkan. Perundungan adalah tindakan yang sengaja dilakukan untuk menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau mengucilkan seseorang, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun melalui media digital. Namun, penting untuk membedakan antara perundungan dan tindakan lain yang kadang disalahartikan sebagai perundungan.
Kesalahpahaman Mitos Menguji Mental
Mungkin sebagian orang menganggap korban tersebut sangat lemah mentalnya. Keadaan mental seseorang hanya dia yang mengetahui. Muncul sebuah premis di masyarakat bahwa sebagian orang melakukan hal-hal receh agar mental teman tersebut terasah dan dia menjadi berani ketika menghadapi orang-orang di luar sana yang bisa dibilang lebih tidak memanusiakan manusia.
Namun, dari sudut pandang medis dan psikologi anak, premis mengasah mental dengan tekanan ini keliru. Trauma masa kecil akibat perundungan dapat mengubah struktur otak anak yang sedang berkembang, khususnya pada area yang mengatur stres dan emosi (seperti amigdala). Anak-anak yang menjadi korban perundungan memiliki risiko berkali-kali lipat lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Luka emosional ini tidak hilang saat mereka dewasa; ia bertransformasi menjadi krisis kepercayaan diri dan kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.
Jika seseorang merundung orang lain dengan alasan untuk mengasah mental, alasan tersebut tidak otomatis membuat perundungan menjadi benar atau dapat dibenarkan. Mengasah mental biasanya bertujuan membantu seseorang menjadi lebih tangguh. Namun, cara yang sehat untuk melakukannya adalah melalui tantangan, latihan, umpan balik yang membangun, atau pembinaan yang tetap menghormati martabat orang tersebut. Sebaliknya, perundungan melibatkan penghinaan, intimidasi, pelecehan, atau tindakan yang sengaja menyakiti.
Sebagai analogi, seorang pelatih olahraga dapat membuat atlet berlatih sangat keras untuk membangun ketahanan. Tetapi jika pelatih itu terus-menerus menghina, mempermalukan, atau mengintimidasi atlet, banyak orang akan menilai bahwa perilaku tersebut sudah melampaui pembinaan dan masuk ke wilayah perundungan.
Secara logis dan etis, alasan membully untuk menguji mental umumnya tidak dapat dibenarkan karena 5 alasan utama, yaitu:
- Tujuan yang baik tidak otomatis membenarkan cara yang digunakan.
- Tidak ada persetujuan dari orang yang diuji.
- Risiko kerugian lebih besar daripada manfaat yang diklaim.
- Mental yang kuat dapat dibangun dengan cara yang tidak merugikan.
- Alasan tersebut mudah disalahgunakan sebagai tameng legitimasi kekerasan.
Tentu, tidak semua orang seperti itu. Masih banyak orang-orang di luar sana yang sangat menghargai, menghormati, dan suka menolong orang-orang di sekitarnya. Tujuan dan niat untuk menguatkan sesama sebetulnya sangat baik, tapi caranya saja yang kurang tepat. Kita harus sadar bahwa tidak semua orang sesuai dengan perspektif kita. Dengan keberagaman setiap karakter dari raga yang berbeda tentunya memiliki ketahanan yang berbeda juga. Apa yang dianggap candaan keras oleh satu orang bisa menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan bagi orang lain.
Krisis Keteladanan Ketika Orang Tua Kehilangan Wibawa
Melihat keadaan sekarang, distorsi nilai adab tidak hanya terjadi pada generasi muda. Bukan anak-anak saja yang mulai berkurang rasa hormatnya kepada sesama atau yang lebih tua, tetapi orang tua juga kerap memperlihatkan tingkah laku yang kurang pantas kepada anak-anak. Pertanyaannya: bagaimana cara mengajarkan anak-anak tentang adab dan mengingatkan orang tua agar memperlihatkan atau mencontohkan anak-anak cara berakhlakul karimah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi SAW?
Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah (teladan terbaik) yang pondasi dakwahnya adalah kelembutan dan keteladanan fisik (action), bukan sekadar lisan. Dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi generasi muda kami dan tidak menghormati generasi tua kami.”
Kehidupan hari ini sering kali menampilkan kontradiksi. Ketika orang tua hari ini menuntut rasa hormat, namun di saat yang sama memamerkan kekerasan verbal, egoisme di ruang publik, atau bersikap acuh di media sosial, anak-anak sedang merekam pola komunikasi tersebut. Anak adalah peniru yang ulung (excellent imitators). Kita tidak bisa menanam benih duri dan berharap memanen buah anggur.
Strategi Multi-Dimensi Mendidik Sesuai Zaman
Tantangan terbesar mendidik generasi hari ini adalah keberagaman. Kita tidak bisa menyamaratakan metode didik karena setiap anak, keluarga, dan lingkungan memiliki karakter yang berbeda. Pendekatan kaku ala orang tua kelahiran 1900-an yang mengandalkan kepatuhan mutlak dan instruksi satu arah tidak lagi relevan untuk anak zaman sekarang. Jika dipaksakan, yang terjadi adalah benturan mental. Anak-anak era digital bersifat kritis dan membutuhkan penjelasan rasional.
Untuk menjembatani jurang generasi ini dan menanamkan akhlakul karimah, diperlukan penerapan nyata di 3 ranah utama:
1. Pola Asuh Dialogis dalam Keluarga
Otoritas orang tua tidak bisa lagi dipaksakan lewat ketakutan atau bentakan. Pendekatan adab harus berbasis dialog.
Salah satu caranya adalah dengan memvalidasi emosi anak dan dengarkan kecemasan mereka terlebih dahulu, baru masukkan nilai kebaikan. Teladani Rasulullah SAW yang selalu mendengarkan anak-anak dengan penuh perhatian tanpa pernah membentak.
2. Digital Akhlak dalam Sisi Budaya dan Kebiasaan
Bagi Gen Z dan Gen Alpha, lingkungan sosial mereka bukan lagi sekadar tetangga sebelah rumah, melainkan algoritma media sosial. Melarang penggunaan gadget secara total sudah tidak efektif.
Solusinya adalah alihkan fokus pada mengarahkan perilaku digital. Ajarkan sopan santun berkomentar, latih empati agar terhindar dari cyberbullying, serta didik mereka untuk menyaring informasi sebelum merespons.
3. Ekosistem Protektif dalam Sisi Masyarakat
Setiap anak tumbuh di lingkungan yang berbeda (sekolah umum, pesantren, atau perumahan heterogen). Masyarakat dan lembaga pendidikan harus membangun budaya intervensi yang aktif terhadap perilaku negatif.
Ubah stigma maklum seperti kata cuma bercanda menjadi ketegasan bahwa hal tersebut adalah tindakan salah. Hidupkan kembali konsep ta’awun (tolong-menolong) dengan menyediakan wadah yang aman bagi anak-anak agar berani bersuara dan membela temannya yang menjadi korban perundungan.
Kesimpulan
Niat untuk mengasah mental tidak membuat perundungan menjadi dapat dibenarkan. Ketangguhan mental dapat dibangun tanpa merendahkan atau menyakiti orang lain. Mengembalikan marwah adab di era modern membutuhkan kesadaran kolektif, sebuah pemutus rantai kekerasan tersembunyi yang dimulai dari keteladanan nyata orang tua, pola asuh yang dialogis, kecerdasan berakhlak di dunia digital, serta ketegasan lingkungan masyarakat dalam menolak segala bentuk perundungan.