Menjadi Ayah yang Open Minded Seperti Nabi Ibrahim

Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau meledeknya, terkadang juga menenangkannya. Saat kakak menangis, sebagai adik terkadang kau hanya bisa mengelus bahunya sekedar menemani dalam dilemanya. Ketika ibumu menangis, seisi rumah seakan dilanda panik. Tapi, saat sang ayah menangis, mengapa orang-orang rumah justru bersikap seolah tak tahu. Meski nurani terkadang ingin mendekat dan duduk si samping ayah, namun logika justru lebih dituruti karena berpikir, “Biarlah, mungkin ayah ada masalah. Kalau kuganggu, ayah akan merasa malu sebab dia selalu ingin terlihat kuat sebagai kepala rumah tangga.”

Tapi memang begitulah seorang ayah. Sebagai seorang anak adakalanya kita tidak bisa ikut campur begitu saja, tapi bagaimana jika hal itu menyangkut kehidupan kita? Akankah kita terlampau menuruti semua hal yang diinginkan ayah atau ibu? Kadangkala iya, kadangkala juga tidak. Sebab, sebagai seorang anak, tentunya ada saja beberapa hal yang terkadang kita harus bersuara dalam keputusan tersebut. Adakalanya kita bersikap patuh, adakalanya juga kita merasa ingin ikut menyuarakan sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan atau masa depan kita.

Sebelum itu, mari kita kilas balik akan suatu kisah kenabian. Tersebutlah Nabi Ibrahim, Abu al-Anbiya yang kisahnya telah masyhur termasuk sejarah kurban pada hari Raya Idul Adha. Kala itu Nabi Ibrahim yang telah bersiap menyembelih leher putranya, Ismail, tiba-tiba merasa kebingungan lantaran pedang yang tak jua menggores leher Ismail.

Nabi Ibrahim menceritakan kepada Ismail terkait mimpinya bahwa dia diperintah untuk menyembelih putranya. Meski pahit, Nabi Ibrahim mencoba merundingkan hal tersebut dengan Ismail. Dengan ini, pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa sebagai seorang ayah, di mana pun dan kapanpun, ketika akan mengambil keputusan yang berkaitan dengan anaknya harus dirundingkan dulu dengan anak yang bersangkutan agar kelak sang anak tidak merasa diatur sedemikian rupa oleh orang tuanya, merasa dilibatkan sebagai anak, dan tidak lantas menjadi pribadi yang terlalu penurut. Sebab adakalanya, terlalu nurut juga tidak begitu baik.

“Orang-orang yang sering diberi arahan akan jadi bebek. Dan orang-orang yang sering diberi intruksi akan jadi besi.”

Kira-kira begitulah pepatahnya.

Jikalau bukan ayah yang terbuka, Nabi Ibrahim tentu tidak akan pernah tega memberitahukan terlebih dahulu perintah Allah kepada Ismail untuk menyembelihnya. Namun dengan keterbukaannya, Nabi Ibrahim memberitahu Ismail, tentang mimpinya yang diperintah menyembelih putranya tersebut.

Jikalau bukan karena ketakwaannya pun, Nabi Ismail tidak akan rela disembelih Ayahnya sendiri. Namun, dengan tegar dia pun menyampaikan pada Ayahnya, bahwa dia ikhlas untuk dikorbankan. Ismail berharap agar mendapat keridhoan dan dijadikan termasuk hamba-hamba yang bersabar.

قالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ…

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. ash-Shaffat [37]: 102).

Dalam tafsir at-Tahlili mengemukakan bahwa usia Ismail pada saat itu adalah 13 tahun. Ibrahim dengan hati yang sedih memberitahukan kepada Ismail tentang perintah Tuhan yang disampaikan kepadanya melalui mimpi. Dia meminta pendapat anaknya mengenai perintah itu. Perintah Tuhan itu berkenaan dengan penyembelihan diri anaknya sendiri, yang merupakan cobaan yang besar bagi orang tua dan anak. Sesudah mendengarkan perintah Tuhan itu, Ismail dengan segala kerendahan hati berkata kepada ayahnya agar melaksanakan segala apa yang diperintahkan kepadanya. Dia akan taat, rela, dan ikhlas menerima ketentuan Tuhan serta menjunjung tinggi segala perintah-Nya dan pasrah kepada-Nya. Ismail yang masih sangat muda itu mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia tidak akan gentar menghadapi cobaan itu, tidak akan ragu menerima qada dan qadar Tuhan. Dia dengan tabah dan sabar akan menahan derita penyembelihan itu. Sikap Ismail sangat dipuji oleh Allah dalam firman-Nya:

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِسْمٰعِيْلَۖ اِنَّهٗ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّاۚ

“Ceritakanlah (Nabi Muhammad kisah) Ismail di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang benar janjinya, Rasul, dan Nabi.” (QS. Maryam [19]: 54).

Sebagai umat manusia yang selalu sigap meneladani kisah-kisah Islami dari Para Nabi, maka sikap terbuka antara ayah dan anak, antara Nabi Ibrahim dan Ismail ini penting ditiru.

Seringkali seorang ayah menjadi pihak yang harus terlihat tabah dan tegar. Hal ini terjadi karena ayah adalah tonggak, tiang, dan penopang hidup keluarganya. Tak sedikit para ayah di dunia ini bersikap tertutup akan terjadinya kepedihan atau sesuatu hal buruk yang akan datang. Mereka berusaha menyembunyikannya dari istri dan anaknya. Berpikir agar rasa pahit dan kepedihan itu hanya di hatinya sembari meyakinkan diri bahwa dia bisa mengatasinya sendirian. Sang Ayah merasa bisa menanggung masalah keluarganya. Namun dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, kita diajarkan agar bisa berusaha untuk menjadi kepala rumah tangga yang mencoba untuk terbuka. Kita diajarkan untuk selalu melibatkan anak, atau siapapun dalam pengambilan keputusan yang menyakut kehidupan seseorang tersebut, seperti merundingkan pendidikan, kuliah, pernikahan dan lain sebagainya. Karena hal-hal semacam itu merupakan bentuk komunikasi dan bentuk interaksi yang dapat memperkokoh hubungan kekeluargaan.

Setelah mencoba menggores leher anaknya yang ternyata tidak bisa, Nabi Ismail meminta ayahnya agar menelungkupkannya. Tujuannya supaya sang ayah tidak merasa iba lantaran melihat pancaran keikhlasan di wajah Ismail yang membuatnya merasa sedih. Tentunya Ismail mengetehaui kesedihan mendalam pada diri ayahnya.

Dari Nabi Ibrahim kita juga belajar bahwa seorang ayah, adakalanya tidak masalah ketika memperlihatkan kesedihannya. Sebab kesedihan itu bukanlah kesalahan bagi seorang pria terebih seorang ayah. Ketika kesedihan seorang ayah terlihat oleh anaknya maka dengan itu sang anak pun akan paham bahwa seorang ayah tak selalu kuat. Dari hal ini anak pun akan mulai berpikir untuk tidak terlalu membuat sang Ayah sedih dengan pembangkangannya atau kenakalannya.

Dari lembaran di atas, marilah kita belajar terbuka, entah sebagai ayah atau sebagia anak. Terlebih mereka yang tidak dekat dengan ayahnya, semoga sikap keterbukaan ini bisa mencairkan suasana dalam bingkai keluarga. Amin.[]

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon