Rodhiyah Mardhiyyah

Keterang ini saya dapatkan dari pengajian bersama Yayu Awa (Nyai Hj. Awanillah Amva) pada suatu kesempatan.

Suatu hari, Sufyan Ats-Tsauri berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ridhoi hamba, ridhoi hamba…” ucapnya dalam doanya.

Namun saat mendengar doa tersebut, Robi’ah Adawiyah malah tertawa. Melihat tingkah Robi’ah, Sufyan pun bertanya, “Mengapa kau tertawa, Robiah?”

Robi’ah lalu menjawab, “Apakah kamu tidak malu kepada Allah dengan doa seperti itu jika perasaanmu masih berbeda saat Allah memberimu musibah dan anugerah, Sufyan?” Ucap Robi’ah.

Perasaan yang berbeda tentu sering kita rasakan saat diberikan anugerah dan musibah oleh Allah SWT. Saat diberi anugerah kita merasa senang, gembira dan mudah sekali untuk bersyukur. Namun saat diberi musibah, kita merasa sedih, nelangsa dan sulit sekali untuk bersyukur. Jika kita merasakan perasaan yang berbeda saat merespon anugerah dan musibah dari Allah SWT artinya kita belum ridho dengan apa yang Allah SWT tetapkan. Jika kita masih belum ridho terhadap ketetapan Allah, pantaskah kita meminta Allah SWT meridhoi kita?

Dalam Al-Qur’an pun kata راضية (orang yang ridho) terletak sebelum kata مرضية (yang diridhoi) (ارجعي إلى ربك راضية مرضية). Urutan kata tersebut seharusnya menjadi ketertiban yang harus kita patuhi. Artinya sebelum kita meminta Allah SWT untuk meridhoi kita, sebaiknya kita introspeksi dulu, apakah kita sudah bisa ridho dengan apapun yang Allah SWT berikan dan Allah SWT tetapkan.

Seseorang dapat dikatakan ridho terhadap ketetapan Allah jika ia mampu merasakan hal yang sama saat Allah memberinya anugerah dan musibah. Wujudnya dapat terlihat dari stabil atau tidaknya keadaan seseorang ketika diberikan anugerah dan musibah oleh Allah; tidak terlalu gembira, tidak terlalu bersedih dan mampu untuk mensyukuri segala keadaan.

Kita dapat menjadikan Rasullah saw sebagai teladan dalam hal ini. Dulu, Rasulullah saw kerap kali diludahi oleh seseorang. Namun saat suatu hari orang tersebur tidak meludahinya, beliau malah mencarinya. Bahkan saat mendapat kabar bahwa orang itu sedang sakit, Rasulullah saw malah menjenguknya, padahal orang itu adalah orang yang menghinanya setiap hari.

Semua yang dilakukan Rasulullah saw sepanjang hidupnya adalah tentang rasa. Bagaimana perasaan beliau saat harus menjadi yatim sejak masih dalam kandungan, bagaimana perasaan beliau saat orang-orang yang beliau cintai satu persatu meninggalkan beliau, bagaimana perasaan beliau saat menghadapi umatnya, bagaimana perasaan beliau saat menang atau kalah dalam peperangan dan bagaimana perasaan beliau saat akan wafat meninggalkan umatnya, itu semua soal rasa. Soal bagaimana Rasulullah mengolah rasa agar apapun yang Allah tetapkan kepadanya ia terima dengan lapang dada, seharusnya dapat kita tiru.

Ridho dan tidak ridho pun adalah soal rasa, bisa disiasati, bisa diolah dan bisa diatur jika kita diberikan kemampuan oleh Allah SWT untuk mengaturnya. Karena itu, jika kita belum bisa menjadi orang yang ridho, alangkah baiknya kita tidak hanya meminta ridho kepada Allah, namun juga meminta agar Allah menjadikan kita hamba yang ridho atas segala ketetapanNya.

Wallahu A’lam

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon