Suara dan Intrik Aizma

Di tengah keramaian Aizma memandang datar orang-orang bersegaram orange dengan wajah dua calon presiden dan wakil presiden X di dadanya. Di punggung kaos tersebut, angka paslon tercetak besar-besar memenuhi ruang kaos. Sekelompok orang itu bukan orang asing, melainkan kerabat dan tetangganya sendiri. Sebagian besar adalah tetangga desa yang ikut andil dalam kampanye. Abangnya, selaku tim sukses, katanya terpilih secara terhormat oleh seorang utusan tim kampanye sebagai ketua umum di kecamatan. Dia berdiri persis di tengah-tengah kelompok tersebut.

“Saudara-saudara yang terhormat, sesuai janjinya, jika terpilih, calon presiden akan membangun jalan raya dan ikut andil mendirikan koperasi serta Bumdes di desa juga kecamatan kita. Karena itu jangan sampai meleset, pilih paslon X! Hidup nomor X!!!”

“Hidup nomor X!!!”

“HIDUP NOMOR X!!!”

Orang-orang itu mulai ramai meneriakkan nomor kebanggan mereka. Suara-suara mereka memenuhi lapangan desa yang becek bekas disiram hujan tadi malam. Membuat kebisingan yang mengganggu.

“Jangan lupa, ya, Ma, kau pilih paslon X seperti Abang,” pinta Abangnya kepada Aizma.

“Terserah Aizma, dong, Bang, mau pilih siapa,” jawab Aizma cuek tanpa menoleh ke Abangnya. Melanjutkan menyetrika.

“Lho, lho, kamu ini dibilangin malah ngeyel. Orang Bapak, Ibu, sama Mbak Iparmu juga pilih Paslon X, kok. Lagipula ya, Ma, dengar, dari 4 paslon, hanya nomor X yang masuk akal! Paslon W itu katanya punya program Indonesia Bergerak. Indonesia Bergerak apa? Orang negara sudah bergerak sejak zaman presiden-presiden sebelumnya. Apa yang dimaksud bergerak itu? Mungkin itu untuk anak-anak milenial angkatanmu yang sukanya rebahan saja!

“Apalagi paslon Y, visi mereka katanya Indonesia Maju. Apa itu Indonesia Maju? Maju macam apa yang akan dia galakkan? Negara maju itu butuh proses, Ma, tidak langsung jadi begitu saja! Omong kosong!

“Siapa pula pilihanmu yang kau ceritakan itu? Paslon Z? Semua masyarakat juga tau kalau dia suka membawa-bawa agama. Jelas sangat diskriminatif dengan agama lain!”

Kakaknya mulai ceramah panjang lebar. Padahal penilaian kakaknya hanya bersifat subjektif semata. Semua paslon memiliki kebebasan dengan visi-misinya, lantas bukan hak kita untuk meralat, mengkritik, atau menilai sesuka hati visi tersebut. Karena kemudian visi serta misi itu, kelak akan dibuktikan jika mereka terpilih. Selain itu, kakaknya tidak patut serta merta mengklaim bahwa paslon pilihannya sangat fanatik terhadap agama. Dia hanya bersikap terus terang dengan identitasnya sebagai seorang muslim dengan menunjukkan kebolehannya yang hafal beberapa ayat al-Qur’an dan hadits menjadi nilai plus calon pemimpin di negara yang mayoritas muslim ini.

Meski tidak tahan dengan tingkah abangnya, nyatanya dia harus bersabar satu bulan lagi sebelum liburan semester habis. Maka, sembari menunggu hari-hari pemilu datang, dia mau tak mau harus ikut membantu abangnya itu menakar beras, mie, dan minyak goreng untuk dibungkus dan kemudian dibagi-bagikan kepada warga.

“Ini itu bantuan dari Paslon X untuk warga, Ma. Abang dipercaya untuk mengordinirnya.”

“Iya, Bang,” Jawab Aizma. Karena terlihat malas menanggapi, abangnya yang tanggap menukas.

“Lho, jangan salah, bantuan ini wajar karena banyak donatur yang mendukung penuh Paslon Y sehingga tidak mungkin uangnya dinikmati sendiri. Tentu dibagi-bagikan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga.”

“Iya, Bang. Terserah abang saja.”

“Tapi, Abang heran kenapa kamu keukeuh memilih paslon itu? Ada gerakan di kampusmu yang juga mendukungnya? Atau arahan dari dosen-dosenmu?”

“Abang jangan su’udzhon begitu, dong. Ini murni pilihanku, kok. Kenapa abang tanya-tanya? Fokus saja sama paslon Abang sendiri. Lagipula, kalo Abang yakin paslon X bakal menang, seharusnya Abang gak perlu khawatir sama satu suara yang gak ada apa-apanya buat paslon Abang. Paling, kalo di quick count, suaraku ini nilainya gak kurang dari 0,0000000000000000001%.”

Abangnya tak menggubris. Memilih diam tak lagi menanggapi. Benar juga.

Dua minggu sebelum pesta demokrasi, Aizma izin keluar kepada Ibunya, bilang hendak bertemu kawan dari kota. Ibunya mengizinkan. Lantas mengantar Aizma sampai masuk ke mobil temannya.

“Kita jangan sampai lengah. Walaupun keluarga, pacar, atau siapapun memaksa kita memilih paslon lain, kita harus teguh dengan paslon Y.”

Seorang perempuan yang menjemput Aizma bersuara. Dia ada dalam lingkaran pertemuan. Azima juga di sana, dengan jilbab birunya. Warna yang menunjukkan dia memihak siapa.

“Kasus kita cukup beragam. 70% tidak dipaksa memilih paslon pilihan keluarga atau siapalah, tapi sisanya, sampai dipaksa sedemikian rupa,” suara lain menimpali.

“Betul, seakan-akan, suaraku ini tidak penting dalam pemilu. Padahal satu suaraku cukup berharga, meski seperti kata Aizma, nilanya tak kurang dari 0,0000000000000000001%,” sontak semua orang tertawa mendengar gurauan itu. Bagaimana tidak, gadis berkerudung hitam itu menyebut dengan rinci angka nolnya. Lengkap 18 angka nol di belakang koma.

Ada 35 orang dalam pertemuan itu. Lumayan banyak. Mereka adalah anggota resmi organisasi rahasia yang didirikan 3 bulan lalu di kampus ternama itu sebagai respon atas peminggiran suara perempuan dalam pemilu. Hampir seluruh anggotanya perempuan, dengan 17 orang laki-laki yang sangat peduli dan mendukung penuh suara perempuan untuk pemilu. Orang-orang itu juga berasal dari latar belakang dan agama yang berbeda.

Organisasi ini dibuat untuk mendukung, memihak, dan memenangkan Paslon Y. Pendirinya, siapa lagi kalau bukan Aizma. Meski demikian, dia menolak mengadakan pemilihan ketua di organisasi.

“Semua adalah ketua bagi diri masing-masing,” katanya saat sambutan peresmian.

Meski 90% anggota adalah orang luar, mereka memiliki 10% anggota yang dekat dengan tim kampanye, tim sukses, orang dalam, pejabat daerah, jurnalis, konten kreator, hingga menteri. Orang-orang tersebut nyatanya cukup membantu pergerakan mereka.

“Temanku sampai putus dengan pacarnya. Yang lebih parah lagi, kerabatku bertengkar dengan istrinya gara-gara memilih paslon Y, bahkan sampai cerai!” Pekik seorang pria bertopi baret, dengan kaos yang dibalut dalam rompi kotak-kotak. Menilik penampilannya, dia pastilah seorang seniman yang umumnya berpikiran terbuka dan idealis.

“Ini sudah sangat di luar batas. Kita harus menggandeng lebih banyak suara untuk paslon Y. Tidak ada waktu lagi. Palson Y berada di urutan ketiga setelah Paslon X dan Z. Kita tidak bisa membiarkan hal ini.” Suara berat lain menimpali. Menyatakan kekhawatiran. Pria berwajah cindo itu menunjukkan seolah-olah besok adalah hari terakhir mereka. Tenggat waktu.

Organisasi rahasia itu meski didirikan dengan sistem bayangan dan anggota acak yang direkrut secara tertutup, tujuannya jelas. Dengan serangkaian rencana dan sistem pemasaran yang tak kalah dari lembaga berlisensi. Mereka membuat akun media sosial, kanal YouTube, bahkan website yang aktif dan diteruskan melalui grup-grup Whatsapp. Mereka juga secara intensif mengirim tulisan eksklusif di berbagai media lokal yang pro dengan Paslon Y. Meski tak jarang juga mengirimnya ke media lawan.

Pertemuan kali ini cukup genting sebab tiba-tiba suara dari paslon mereka turun drastis mencapai 6%. Wajah-wajah berpikir, cemas, dan wajah-wajah khawatir tergambar jelas di ruangan 6×6 meter itu.

Mengapa mereka membanggakan paslon itu, adalah karena paslon itu memang sangat pro terhadap kasus perempuan. Sebelumnya calon adalah Ketua Umum Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Calon juga merupakan anggota Kongres Suara Perempuan Indonesia serta Founder dan CEO dari 3 lembaga nasional maupun lokal yang pro terhadap isu perempuan. Calon juga merupakan donatur utama sebuah lembaga jaringan yang fokus mengembangkan penelitian terhadap kasus-kasus perempuan. Meski memang, calon adalah penganut yang terbilang taat terhadap agamanya, dia tetap bersikap netral. Tidak berniat memihak siapapun. Meski juga, terkadang dalam debatnya dia menyitir beberapa ayat serta hadits, itu semata-mata hanya contoh belaka. Sayang, masyarakat kadung menganggapnya menjual agama.

Dengan pemimpin yang memiliki kriteria di atas, maka sangat mungkin, peradaban perempuan bisa dipertimbangkan dan diperhitungkan sehingga mereka tidak lagi menjadi orang kedua semata. Yang didiskrimiasi, dipinggirkan, dan direnggut suaranya.

“Aku punya ide!” Aizma tiba-tiba mengangkat tangannya. Membuat seluruh anggota refleks menoleh. Tanpa komando, seluruh anggota mengerubungi Aizma. Mendengarkan rencana perempuan agamis yang memang cerdas itu.

Seminggu kemudian, rakyat dihebohkan oleh rilisnya Film Dokumenter Selling Indonesia.

“Bagaimana ini? Karena film itu, paslon Y malah turun drastis mencapai 13%.” Gadis berambut pirang dengan kalung salib menyampaikan kegelisahannya.

“Sabar, ini baru awal-awal. Masih ada sisa 4 hari lagi. Kita tunggu saja,” Aizma menenangkan rekannya itu.

“Setelah ini, kita juga harus ikut terlibat dalam menanggapinya sebagai pihak yang pro. Kita mulai kerahkan tulisan dan konten yang memuat film dokumenter tersebut,” ucap Pria bertopi baret. Yang disetujui oleh seluruh anggota.

Maka, malamnya, seluruh anggota mulai mengontak jaringan rahasia dan mengerjakan tugas yang telah dibagi. Konten, tulisan, video, cuplikan, tanggapan, komentar atau apapun itu, harus dikumpulkan segera lalu dibagikan di grup mereka.

“Film Dokumenter Selling Indonesia Mengungkap dugaan adanya intruksi membungkam demokrasi dengan doktrin agama.”

Begitulah judul yang marak di media sosial maupun konten saat ini.

“Film tersebut bagus untuk edukasi bagi masyarakat.”

“Film itu tidak benar. Kalau memang iya adanya dugaan tersebut, tentunya sudah dilaporkan sejak lama dan juga sertakan kalau memang ada buktinya.”

“Film itu wajar-wajar saja karena memang cukup mencari perhatian, terlebih ini musim pemilu. Siapapun bebas menyuarakan pendapat dan mengkritik setiap calon.”

“Filmnya bagus. Hanya saja menurut kami itu hanya objektivitas dari satu sudut pandang saja, belum melihat sisi yang lain. Jadi masyarakat seharusnya lebih bijak menanggapi.”

Begitulah tanggapan dari perwakilan masing-masing tim kampanye maupun tim sukses keempat paslon.

Meski dalam film dokumenter yang menjelaskan tentang dugaan adanya kasus suap terhadap tokoh-tokoh agama dari keempat paslon tersebut, jelas sekali jika film memang merujuk pada Paslon Y, yang membuat suara paslon Y turun drastis mencapai angka 13% setelah dua hari film itu diunggah. Namun ucapan Aizma benar, hari kelima ketika penayangan mencapai 6 juta penonton, suara Paslon Y naik drastis, mencapai 17,34% suara. Hampir 20 suara dan hampir mengungguli Paslon X.

“Gak tau kenapa, habis nonton film ini aku malah respek sama paslon Y.”

“Awalnya aku cuek bebek aja karena mengira gak akan goyah, tapi karena penasaran akhirnya kutonton juga. Pas liat, malah mewek, salut sama keteguhan paslon Y.”

“Gara-gara film ini, teman-temanku yang tadinya nolak 100% malah mendukung 1000%. Mereka bilang, malah dengan film ini jadi lebih membuktikan kalo Paslon Y lebih tulus dan terbuka.”

Dan berbagai komentar lainnya yang mendengungkan pendapat positif serta tanggapan baik mereka atas Paslon Y. Berkat Film Dokumenter Selling Indonesia tersebut, Paslon Y juga berhasil berada dalam urutan kedua setelah Paslon Z.

“Masyarakat sekarang terkadang lebih mudah digiring opininya dengan membuat sesuatu yang mengejutkan dan berpandangan terbalik dari yang masyarakat ekspektasikan. Dari film yang akan kita garap dadakan nanti, aku yakin, masyarakat malah menjadi lebih penasaran, fokus, dan mendalami lebih jauh paslon Y. Dengan begitu, paslon Y akan lebih menarik perhatian. Saat opini masyarakat terbentuk soal paslon Y dan media lebih memberitakan paslon Y, saat itulah, masyarakat akan menimbang ulang pilihannya,” begitu yang dikatakan Aizma pada saat rapat terakhir, dan dugaannya sukses besar.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pemilu.

“Kita telah berusaha. Angka di lapangan belum tentu sama dengan angka hitung cepat nanti. Bisa jadi di hitung cepat dan hingga putaran terakhir, Paslon Y berada di urutan teratas.” Rekan Aizma di grup menguatkan teman-temannya.

Dan itu benar. Sampai pemutaran terakhir, paslon Y ternyata bisa mengungguli paslon lain. Sampai pengumuman serta keputusan itu dibuat, akhirnya!

“Selamat, kawan, perjuangan kita berhasil 1000000000000000000%. Dengan 18 nol. Tapi tidak di belakang koma.”

Grup dipenuhi emoticon dan stiker tertawa.

Di rumahnya, Aizma merasa puas sekaligus iba dengan kakaknya yang dua hari terakhir berwajah masam dan berambut kusut.

“Mandi sana, Bang.”

“Ah, diam kamu. Puas, kan Paslon abang kalah.”

“Paslon Abang kalah juga, Abang tak kurang apapun, toh? Tak digrebeg aparat atau tim kampanye Abang.”

“Bilang saja kalau kamu mau mengejek Abang. Lagipula, apa bagusnya Paslonmu itu! Sudah jelas-jelas Film Selling Indonesia menguaknya!”

Aizma menggeleng kepala, “Yang penting Paslon Aizma tidak memaksa rakyat. Tidak seperti Paslon Y yang memaksa Bawaslu melakukan investigasi karena menyangka ada kecurangan. Padahal pemilu jelas-jelas diberitakan di mana-mana dengan berbagai saksi. Kalau curang, sejak kemarin pasti tidak jadi terpilih,” Pungkas Aizma, lantas meninggalkan Abangnya yang sekarang bergumam tak jelas setelah berita jadwal pelantikan diumumkan.

Selling Indonesia? Orang film itu buatanku, kok. Hihi…” bisik Aizma. Puas.[

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon