Rembulan malam ini terlihat sempurna. Besar, bulat, dan bersinar. Cukup untuk membuat malam kali ini tidak segelap biasanya. Jam dinding di salah satu sisi menunjukan pukul dua belas kurang lima belas menit, suasana terasa sunyi, hanya beberapa yang masih terjaga untuk melakukan satu dua aktivitas, seperti tugas jaga malam yang rutin dilakukan para santri dari Pesantren Bayt Al-Hikmah secara bergilir.
Ditemani secangkir kopi hangat dan sebuah kitab kecil, seorang pemuda bersurai coklat menuntun langkahnya menuju salah satu sudut serambi masjid. Langkahnya terhenti ketika netranya menangkap sebuah poster yang melekat di dinding. Ia membaca tulisan itu lamat lamat.
PENDAFTARAN KHOTMIL ALFIYAH. Judul itu tertera di atas kertas yang kini menjadi atensinya, lengkap dengan tenggat waktu dan tempat pendaftaran.
“Dua minggu lagi.” Gumamnya.
Bokongnya mendarat diatas lantai yang terasa dingin, angin sejuk berhembus seolah menyapanya. Tangannya bergerak membuka kitab kecil yang ia bawa, sekaligus yang menjadi alasan utama mengapa ia rela terjaga sampai selarut ini. Halaman kitab kecil itu menampakkan huruf-huruf berbahasa arab yang kemudian dibacanya sambil berusaha melekatkan ke dalam memori.
“Kepada seluruh santri tingkat lima, ditunggu kedatangannya di halaman kantor sekarang juga.” Pengumuman yang tersiar lewat pengeras suara beberapa menit yang lalu membuat halaman kantor penuh sesak. Atensi mereka tertuju pada satu hal yang sama.
“Hanya untuk mengingatkan, pendaftaran akan saya tutup dua minggu dari sekarang. Dimohon kepada semuanya agar lebih bersungguh-sungguh dan semangat dari sebelumnya.”
Setelah pengumuman selesai, kerumunan bubar, menyisakan lenggang. “Harits, kamu ikut khotmil, kan?”
Senyum kecut terbit dari bibir sang pemuda ketika mengingat kejadian siang tadi. Harits bukanlah santri yang bebal ataupun bodoh, bahkan ia termasuk kedalam kategori santri teladan. Kitab yang ia hafal sudah tak terhitung, perlombaan yang ia ikuti tak bisa dibilang sedikit, pun penghargaan yang berhasil ia peroleh. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini otaknya seolah berhenti berproses. Ngadat, mogok berjalan. Nadzhom yang ia hafal tak berhasil bertahan, sedangkan hafalan sebelumnya beterbangan meninggalkannya.
Lima tahun sudah ia habiskan di pesantren, tapi belum pernah ada hambatan yang semengganggu ini. Batas pendaftaran khotmil bisa dihitung jari, sedangkan hafalannya berantakan. Sangat berantakan.
Ia melanjutkan kegiatannya setelah menenggak sepertiga isi cangkir.
Kicau burung hantu saling bersahutan dengan derik jangkrik di ujung sana. Malam semakin larut. Harits semakin kuat melakukan perlawanan dengan rasa kantuknya.
OOO
Instrumen bernada tenang memenuhi seluruh ruangan, menyapa samar rungu Harits, mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang. Netranya mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk. Pemuda itu mendudukkan dirinya, menyempurnakan kesadaran.
Sembari bangkit berdiri, ia menatap heran sekeliling. Lantai yang ia pijak dilapisi karpet bulu berwarna merah gelap berhias emas terbentang luas, tak berujung. Dinding yang seolah terbuat dari rak berisi buku-buku yang tersusun rapi menjulang tinggi, pun tampak tak berujung. Ruang ini seperti lorong panjang yang tidak memiliki ujung, tertutup kabut.
Dimanakah ini? Apakah dirinya sedang bermimpi? Pakaian yang dipakainya masih sama. Sarung hitam dengan kemeja coklat yang melekat di tubuhnya serta peci hitam yang tak pernah luput. Instrumen yang terasa sedikit familiar menyedot atensinya. Apa ini? Piano? atau mungkin biola?
Harits menuntun langkahnya menyusuri lorong itu, netranya bergerilya, berusaha menemukan sesuatu yang mungkin saja bisa membantunya. Kegiatannya terintrupsi ketika desing samar menyapa rungu. Ia memutar badan, mencari sumber suara. Tatapan kagum tertuju pada sebuah buku tebal yang terdorong keluar, memisahkan diri dari kelompok. Seolah ada tangan tak kasat mata yang menariknya. Tanpa sempat berpikir, pemuda itu menariknya keluar. Membolak-balikan benda itu sambil mencari petunjuk.
Netranya terkunci pada sebuah pembatas buku berwarna hitam yang menyembul keluar. Spontan, ia menariknya. Diatas kertas, sebuah tulisan rapi seolah ditulis tangan berbunyi; Apakah kamu yakin dirimu siap?
Hening berlalu sesaat. Harits mengangguk tegas. “Ya, saya siap!”
Desing yang sama kembali terdengar. Tepat diseberangnya, salah satu rak terdorong, lalu bergeser. Menciptakan “pintu masuk” untuknya. Harits segera mengembalikan buku yang ia pegang dan bergegas melintasi “pintu masuk” itu, khawatir rak-nya akan kembali semula jika ia mengedipkan mata.
OOO
Ruangan yang menyambutnya persis seperti sebelumnya. Hanya sedikit lebih kecil. Sebuah podium kayu dengan ukiran kuno yang indah berdiri gagah di tengah ruang. Dengan langkah pelan, pemuda itu menghampiri podium yang diatasnya teronggok sebuah buku tebal tak berbeda jauh dengan yang tadi ia pegang.
Tepat ketika tubuhnya berhadapan dengan podium, buku itu terbuka, membalikkan halamannya sendiri. Disana, dengan gaya tulisan yang sama dengan yang tadi ia lihat, tercetak serangkaian huruf.
“Bacakanlah kalimat tahlil”
Senyum lega terbit. Soal ini tak begitu sulit untuk ia jawab, bahkan terlampau mudah. Harits melafalkan kalimat yang sudah dihafalnya jauh sebelum tingkat lima itu dengan mudah. Sama sekali tanpa hambatan.
Srek…
Buku itu membalik kertasnya, berganti halaman. Pertanyaan kali ini sedikit panjang. Ketentuan zakat mal beserta pertanyaan cerita yang menunggu untuk diselesaikan. Pertanyaan kali ini tak bisa disebut mudah. Membutuhkan skill menghitung serta ketelitian. Desing samar terdengar, sebuah pena bulu lengkap dengan tinta celupnya keluar dari dalam podium. Harits semakin lama terbiasa dengan kejutan kejutan kecil ini.
Waktu begulir dengan cepat, butiran kristal menghiasi dahi Harits. Pemuda itu membaca kembali apa yang sudah ia tulis dengan ragu. Setelah merasa cukup, ia menaruh kembali pulpen bulu itu ketempatnya. Hening sejenak, Harits menatap buku itu harap harap cemas. Sudah lama ia tak membaca kembali bagian zakat, sedikit meragukan kemampuan dirinya.
Srek…
Buku itu kembali membalik, berganti pertanyaan. Kali ini pertanyaannya pendek, hanya empat kalimat. “Praktikan cara mengurus jenazah”.
Desing pelan kembali terdengar. Sebuah benda keluar dari balik karpet bulu tak jauh dari podium. Harits menyipitkan matanya, berusaha menatap benda itu dengan jelas. la menuntun langkahnya mendekati benda berukuran cukup panjang itu. Sebuah boneka, atau mungkin manekin teronggok disana. Kenyitan di keningnya timbul. Apa yang harus ia lakukan dengan boneka ini?
la menatap buku itu dan boneka secara bergantian. Berusaha menarik benang merah. Ah, apa ia harus mempraktikannya pada boneka ini? Harits menghela napasnya gusar. Sial, ia tak ingat apa saja yang harus dilakukan. Mengafaninya dulu kah? atau mungkin menyolatkannya?
Erangan kesal lolos dari bibirnya, ia merutuki diri sendiri. Untuk apa piala dan sertifikat yang berjejer di dinding kamar jika soal seremeh ini saja ia kesulitan untuk menjawabnya. Menit berlalu cepat, pemuda itu menggali memori otaknya, berusaha menemukan setidaknya satu dua ingatan yang dibutuhkan.
Kecerahan ruangan meredup tanpa aba-aba. Ia diserang panik. Bagaimana ini?
“Jangan pernah lupa bersholawat, Rits”
Harits termenung. Suara gurunya terngiang di benak. Pemuda itu melafalkan shalawat didalam hati, berharap setidaknya Allah membawakan keajaiban. Kecerahan ruangan kembali meredup. Harits terenyuh. Ini dia yang ia cari dari tadi.
Benaknya terisi oleh benda-benda yang ia butuhkan. Seolah terkoneksi, benda-benda itu menyembul keluar dari balik karpet bulu. Harits tersenyum puas, ia tahu apa yang harus ia lakukan.
OOO
Srek…
Halaman kembali berganti. Kali ini pena bulu serta tinta kembali keluar dari podium. Tulisan berbeda kembali menyambutnya. Apa yang sebenarnya kamu tuju dari menghafal alfiyah?
Harits termenung, ia merasa tersindir. Dirinya menyadari hal itu, niat yang dimilikinya selama ini salah. Bukan untuk mencari ridha Allah, tapi hanya sebatas mengikuti khotmil yang diadakan tiap tahun. Lafal istighfar terucap, terus terulang dalam hati. Ia salah, salah besar. Padahal kitab yang terdiri dari seribu dua nadzam itu telah menegaskan sendiri dalam salah satu bait-nya bahwa ia menuntut ridha tanpa kebencian dari orang yang ingin mempelajarinya, terlebih orang yang menghafalnya.
Senyum tipis terbit dari bibir sang pemuda. Ia mengucap basmallah, meluruskan niatnya yang semula rusak dan nyaris membuatnya tersesat jauh. Pena bulu itu terangkat, goresan tinta mulai mencetah beberapa huruf yang tersusun menjadi kata-kata.
Mencari ridha Allah.
Hening cukup lama. Halamannya tak kunjung berganti, menimbulkan rasa gusar di hati Harits.
Srek
Akhirnya ia bisa bernapas lega. Pertanyaan terakhir muncul. Ya, ia harap begitu. Netranya menatap susunan kata itu lamat-lamat. Apa saja yang sudah kamu dapat selama lima tahun terakhir? Apa itu cukup untuk berkecimpung di masyarakat nanti?
Deg
la terenyak. Dadanya nyeri, sebuah belati seolah menusuknya tepat di jantung. Dalam, terlalu dalam. Ya, apa yang sudah ia peroleh dari menyantri di sini selama lima tahun? Apakah sertifikat dan piala yang terpajang di kamarnya bisa menentukan langkah apa yang seharusnya ia ambil jika bertemu dengan kesulitan? Apakah hafalan alfiyah-nya bisa membantunya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan masyarakat kepadanya?
Kilas balik berputar bak kaset rusak di kepalanya. Kitab-kitab yang sudah ia hafal, kejuaraan-kejuaraan yang telah ia raih, pun pelajaran-pelajaran yang beterbangan meninggalkannya.
Dengungan keras memenuhi ruangan, memulihkan kembali kesadarannya yang sempat tersedot hilang. Ia menatap heran sekeliling. Cahaya terus meredup, bunyi barang berjatuhan terdengar samar, menyelinap diantara dengungan. la tak mengerti apa yang sedang terjadi. Sama sekali tak memiliki ide tentang kejadian yang tengah berlangsung.
Buku-buku berjatuhan dari langit langit ruangan. Baik yang besar, yang kecil yang tipis, yang tebal, semuanya berhamburan, menutupi karpet bulu bak lautan.
Duk
Rasa nyeri menhampirinya tanpa aba-aba. Pandangannya memudar. Perlahan, semuanya berubah menjadi gelap.
OOO
Deru napasnya memburu. Harits menatap skeliling. Tunggu, dimana ini? la masih berada di serambi masjid, dengan kitab alfiyah-nya yang masih berada di genggaman. Beribu istighfar ia rapalkan dalam hati. Tanpa pikir panjang, ia melangkah tergesa menuju keran air, mengambil wudhu. Sholat dua rakaat segera ia dirikan.
Sholat taubat.
OOO
Tiga puluh empat orang berdiri rapi di atas panggung megah akhirussannah. Dua pertiga dari jumlah santri tingkat lima, dan Harits tidak termasuk salah satunya. Senyum tipis terus membingkai di wajahnya. la tidak menyesal karena telah mengurungkan niatnya untuk mengikuti khotmil alfiyah. Hafalannya kini lancar, tak ada hambatan yang berarti.
“Ah, gampang nderes mah, biasanya juga sekali baca langsung hafal.”
Ia malu jika mengingat betapa sombong dirinya waktu itu. Terlalu menggampangkan. Terlalu menyepelekan. Kini niatnya kembali lurus. Bukan untuk mengikuti khotmil, bukan untuk pamer, pun bukan untuk sombong. Hanya untuk mencari ridha Allah, itu saja.
Dan itu lebih dari cukup.
OOO
Riuh suara debat menguasai ruangan. Sang moderator akhirnya angkat suara untuk menenangkan. Keadaan kembali hening, fokus kembali kumpul.
“Baik, kali ini pertanyaan akan saya sampaikan kepada saudara Harits” setelah mendapat anggukan setuju, moderator kembali bersuara. “Apa saja hal penting yang sering luput saat menuntut ilmu?”
Hening.
Selain melanjutkan hafalan alfiyah-nya, Harits membaca kembali kitab-kitab yang sudah ia pelajari. Ia tersindir dengan pertanyaan yang ada dalam mimpinya. Apa yang akan ia lakukan jika tak bisa menjawab pertanyaan dari masyarakat?
Harits tersenyum tipis. Dengan tenang ia menjawab. “Niat mencari ridha Allah”.
Cirebon 17 januari, 2026