Belajar Bertani dari KWT; dari Soal Menanam Sayur sampai Menunjang Ketahanan Pangan Nasional

Jumat pagi seusai roan, aku beranjak dari komplek untuk menuju suatu tempat yang letaknya berada di bagian pojok pondok ini. Para santri menyebutnya dengan nama “pelistrikan” dan ada pula yang menyebutnya “pokemon”. Para penghuninya dikenal sebagai orang-orang yang aktif dan serba bisa. Jasa mereka selalu dibutuhkan. Tidak hanya di dalam pondok, tetapi sampai mendapatkan job di luar pondok.

Saat itu kebetulan Kang Wihar, salah satu anggota pelistrikan terlihat seperti sedang membersihkan biji pepaya dalam wadah. Ia seperti tengah mengolah biji pepaya itu satu persatu. Jujur, aku sama sekali tak mengerti tentang apa yang sedang ia lakukan. Tetapi dengar-dengar biji-biji itu nantinya akan di tanam di ladang samping pondok yang disebut dengan KWT, singkatan dari Komunitas Wanita Tani.

Aku pun matur perihal kedatanganku kemari. Kataku, aku ingin meminta sedikit waktu untuk mewawancarainya. Ia pun menyanggupi permintaanku dan akupun mulai mempersiapkan beberapa pertanyaaan. Sebenarnya ini kali kedua aku datang kesini untuk wawancara dengan tema yang sama dan tentunya dengan orang yang berbeda. Sialnya, hp yang saat itu kujadikan sebagai alat perekam suara mati di tengah jalan dan itu baru kusadari setelah wawancara selesai. Apalah daya kala itu, mau tidak mau aku harus wawancara lagi kesana.

Tema yang aku tawarkan saat wawancara adalah seputar pertanian yang sedang berkembang di pondok ini. Namanya KWT yang aku sebut tadi.

Aku bertanya tentang bagaimana KWT itu bisa berdiri. Sembari kusuguhkan Teh Sosro dingin yang kubeli dari kantin, Kang Wihar menjawab, “Asal mula berdirinya KWT berawal dari perkumpulan para Nyai Pesantren Babakan dan pemerintah desa yang kebetulan memiliki program di bidang pertanian. Pemerintah desa memberi peluang kepada para Nyai Pesantren untuk membentuk komunitas wanita tani. Para Nyai pun akhirnya menyanggupi dan sepakat untuk mengambil program tersebut.

“KWT pertama kali diketuai oleh salah satu Nyai Pesantren Babakan. Ladang yang dipilih bertempat di Pondok Kebon Jambu dan Alhamdulillah semuanya dikerjakan dengan progresif. Sekarang KWT masih berjalan dan diketuai oleh Nyai Hj. Awanillah Amva.”

Dari jawabannya ternyata selama ini aku salah faham. KWT ada bukan atas inisiatif pondok, tetapi usulan dari program pemerintah desa setempat. Selanjutnya, Akupun memberikan pertanyaan kedua tentang bagaimana posisi KWT di kepengurusan pondok, karena yang terlihat setiap hari disana adalah pengurus dan santri.

Kang Wihar menjawab, “KWT di kepengurusan pondok berposisi di bagian sektor ekonomi. Karena memang kiprahnya di sektor itu. Dan sebenarnya KWT sudah mandiri dan tidak terikat oleh pondok dalam segi administrasi apapun. Paling dari pengelolaannya dikerjakan oleh santri Kebon Jambu sebagai ajang belajar teman-teman santri di bidang pertanian.”

Hadirnya KWT di pondok memberikan sumbangan ilmu yang berguna kelak bila para santri sudah berpulang ke kampung halamannya masing-masing. Siapa tahu, berkat pernah belajar cara bercocok tanam di pondok, tanah kosong di belakang rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran dan tanaman-tanaman yang bernilai di pasaran.

Selanjutnya aku bertanya kepada kang wihar, apa sih tugas pokok dari KWT itu sendiri?

Ia menjawab, “Tugas pokoknya selain memang merupakan amanah yang dimandatkan oleh pondok dan para Nyai Pesantren Babakan selaku anggota juga pemerintahan desa, KWT juga punya tugas yang berkutat di sektor pertanian. Sekarang sektor pertanian sedang digencarkan oleh negara untuk menunjang ketahanan pangan nasional ke depannya. Mau tidak mau ketika memasuki sektor pertanian, berarti kita bergelut di sektor ketahanan pangan.”

Bisa kupahami betapa pentingnya ketahanan pangan bagi negara untuk ke depannya. Karena suatu saat negara-negara di dunia mungkin akan mengalami krisis pangan. Efek dari perang Rusia dan Ukraina saja kala itu mengakibatkan ancaman untuk pasokan ekspor pangan global. Sejken PBB, Antonio Guterres memperingatkan bahwa konflik dapat bergema jauh di luar Ukraina menyebabkan “badai kelaparan dan kehancuran sistem pangan global”. Rusia dan Ukraina adalah lumbung pangan dunia, menyumbang 30 persen dari ekspor gandum global.

Ini baru perang Rusia dan ukraina, apalagi desas desus tentang perang dunia ketiga yang katanya suatu saat akan terjadi. Semoga saja tidak sampai kejadian ya. Setidaknya, untuk mengantisipasi hal mengerikan itu terjadi, negara ini harus sudah mempersiapkan semuanya. Dan kita tidak akan risau ketika negara-negara di dunia menyetop ekspor pangannya.

Oke, berikutnya aku bertanya lagi tentang kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh petugas KWT berikut kegiatannya juga tanaman apa saja yang ditanam disana.

“Kemampuan dasar mungkin dari mulai fisiknya, kemudian punya rasa mau serta keinginan yang tinggi untuk belajar. Adapun masalah pemahaman seputar pertanian nanti bisa sambil didampingi saat di lapangan. Yang jelas teori-teori yang sangat dasar adalah bagaimana memahami siklus kehidupan tanah, siklus kehidupan tumbuhan, siklus hama, simbiosisnya bagaimana, berikut nanti kita akan mempelajari bio teknologinya”.

“Kalau dari kegiatannya, tidak akan jauh dari bertani dan pastinya berkecimpung dalam sektor cocok tanam. Dimana darinya kita perlu menyiapkan medianya, tempatnya, dan tumbuhan apa yang akan ditanam. Lalu mengolah tanah, menghaluskan, mencacah tanah, menaburkan kompos pupuk organik dan lain sebagainya. Kemudian dilanjut dengan menyemai, menanam tanaman dan rutin merawatnya dari mulai menyemprotkan pestisida nabati dan penyemprotan pupuk organik cair”.

“Tumbuhan yang ditanam lebih fokus kepada sayur-sayuran. terutama yang berumur cukup cepat seperti kangkung, bayam, pakcoy dan lain sebagainya. selain itu sehubungan siklus cuaca dan tanah di Babakan ini lumayan panas dan gersang, jadi kami masih mencari tumbuhan yang cocok untuk ditanam di lingkungan seperti ini.”

Adanya program KWT di Desa Babakan sebenarnya suatu kemajuan tersendiri. Masyarakat pun dibuat heran karenanya. Pasalnya, Babakan dikenal memiliki tanah yang gersang dan sulit untuk ditanami sayur-sayuran. KWT pun dalam prosesnya butuh waktu sekitar dua tahun untuk mengolah tanah supaya bisa ditanami sayur-sayuran. Hingga kini, KWT telah memasuki tahun keempat dan sedikit demi sedikit tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Terakhir, aku bertanya apa motivasi atau semangat dalam menjalankan tugas di KWT?

“Semangatnya mungkin karena dengan menjalankan sektor pertanian, kita dapat merawat dan melestarikan lingkungan untuk kehidupan selanjutnya. Kemudian penyemangatnya lagi, kita turut berpartisipasi dalam mempertahankan sektor pangan di Indonesia.

“Di dalam pertanian juga asyik loh, karena kita benar-benar mempelajari tentang kehidupan makhluk selain kita. Yakni, kehidupan dari mikro dan makro organisme yang ada di dalam tanah, tumbuhan-tumbuhan dan lain sebagainya.

“Terkadang, santri kalau membayangkan aktivitas ini, hanya dilihat dari kotor-kotorannya saja. Padahal ladang itu bisa kita jadikan sebagai tempat rekreasi juga edukasi dan memancing kita untuk terus melihat, melirik, rasa ingin tahu, dan tentu kemanfaatannya bisa kita rasakan nanti”.

“Dan penting untuk motivasi bersama, mengingat hari ini pemerintah sedang gencar-gencarnya membuat program untuk ketahanan pangan Indonesia dan sangat dibutuhkan mulai dari sekarang sampai nanti ke depannya. Bahkan program ini tidak hanya digencarkan oleh Kementerian Pertanian, akan tetapi ada dari Kementerian lain yang turut membantu agar ketahanan pangan di Indonesia bisa terwujud.

“Sebagai santri dengan keterbatasan yang ada sebetulnya kita dapat mengupayakan sesuatu di luar batasan itu. Dalam hidup, kita dituntut tidak hanya paham teori tentang agama juga ilmu yang lain. Tetapi kita tertuntut untuk mengimplementasikan teori tersebut di dalam dunia nyata. KWT adalah bukti dari pengimplementasian teori tersebut. Banyak hal yang bisa diambil untuk pelajaran, seperti merawat lingkungan, mandiri dalam sektor ekonomi, menjaga ketahanan pangan negara dan lain sebagainya. Ini merupakan kemajuan dan percepatan untuk pesantren yang notabene dikenal hanya belajar ilmu agama saja.”

Di penghujung kata sebelum menutup wawancara, Kang Wihar berkata, “Ayo, mari berinovasi bersama semuanya. Di pesantren kita belajar ke belakang untuk memahami kutubussalaf dan belajar ke depan untuk percepatan IPTEK.” Adanya pelistrikan, KWT, labotarium sampah, sound system, las besi, BLK, multimedia dan lain-lain merupakan bukti dari percepatan tersebut.

Ada satu lagi motivasi dari seorang anggota KWT yang sebelumnya aku wawancarai, kusimpulkan perkataannya sebagai berikut, “Motivasi pertama saya adalah mencintai dulu pekerjaan ini, meski awalnya belum terbiasa, dengan terus mencoba mencintai, dapat membuatnya berubah menjadi luar biasa.”

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon