Mengupas Kitab Kimiyaus Sa’adah; Muqoddimah

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebelum menuliskan bagian inti dari tulisan ini, saya ingin mengawali dengan sebuah refleksi singkat tentang bagaimana pengalaman berharga yang saya rasakan. Pada tahun ini saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk mengaji langsung kepada seorang Ulama besar Nusantara, yaitu Al-Mukarrom KH. A. Musthofa Bisri (Gus Mus). Tahun ini Beliau mengkaji 3 kitab selama kegiatan pasaran Ramadhan, yaitu: Burdah (ba’da Shubuh), Arba’in Nawawi (ba’da Ashar), dan Kimiyaus Sa’adah (ba’da Tarawih). Ketiganya disiarkan juga secara langsung (live streaming) melalui akun YouTube Pondok Leteh atau Gus Mus Channel. Mungkin beberapa pembaca di sini pernah mengikuti pengajian pasaran ini melalui live streaming. Namun, bagi saya pribadi tetap saja ada pengalaman berbeda antara mengaji secara online dengan duduk berdekatan bersama Beliau dalam waktu yang relatif lama dan berulang tiap waktunya, yakni mendapatkan banyak sekali asupan nutrisi, baik nutrisi otak, hati, maupun jiwa secara langsung.

Kitab Kimiyaus Sa’adah ini merupakan salah satu kitab karya Imam Al – Ghazali yang paling kecil. Seorang ulama besar dengan nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al – Ghazali, Beliau lahir di Thus, Persia (sekarang Iran). Beliau hidup pada tahun 450 H – 505 H. Usia Beliau hanya sekitar 55 tahun, tetapi karyanya jauh lebih banyak daripada usianya. Jika dihitung mungkin satu hari satu kitab, sebanyak itu karya Beliau selama hidupnya. Meski tergolong kecil, namun kitab ini berisi materi yang sangat penting, yaitu tentang mengenali diri sendiri. Ada satu maqolah yang amat populer mengatakan bahwa

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Artinya: “Barang siapa mengenali diri sendiri, maka ia mengenali Tuhannya”.

Dalam muqoddimah atau pendahuluan kitab ini terdapat susunan kalimat yang amat indah, yang menunjukkan keahlian dan penguasaan Al-Ghazali dalam ilmu sastra. Bahasa yang digunakan Al-Ghazali dalam karya-karyanya adalah bahasa tinggi pada masanya namun sama enaknya, baik dibaca pada masa lampau maupun dibaca oleh kita yang hidup pada abad ke 21 sekarang ini Beberapa kata yang dipilih Al-Ghazali dalam muqoddimah kitab ini misalnya, Beliau menyandangkan kata ashfiya dengan mujahadah, auliya dengan musyahadah, mu’minin dengan dzikri, dan ‘arifin dengan fikri. Kata-kata tersebut tentu dipilih Al-Ghazali bukan tanpa alasan, tetapi memang ada satu makna yang dikehendaki dan sangat pas disandingkan dengan kata setelahnya.

Pertama, kata Ashfiya (golongan orang-orang suci) itu bisa diangkat derajatnya di sisi Allah karena mujahadahnya. Mujahadah ini berasal dari unsur kata “jahada” yang mempunyai arti perjuangan. Dari unsur kata ini, kita sering mendengar 3 istilah lain yang berasal dari satu unsur kata yang sama. Misalnya: Jihad yang berarti perjuangan secara fisik, Ijtihad berarti perjuangan secara ilmiah, dan Mujahadah berarti perjuangan secara rohani. Maka melalui perjuangan rohani (Mujahadah) inilah ashfiya itu diangkat derajatnya oleh Allah.

Selanjutnya Auliya (para kekasih Allah) itu memperoleh kebahagiaan ketika mereka bisa musyahadah. Kebahagiaan kita sebagai manusia amatiran itu kadang-kadang masih pada level yang sangat receh. Bahagia karena mendapatkan hadiah misalnya, bahagia karena bisa menonton konser, atau paling tingginya bahagia karena masuk surga. Berbeda dengan Auliya, kebahagiaan mereka adalah saat musyahadah/menyaksikan Allah secara langsung. Itulah kebahagiaan hakiki para Auliya.

Kemudian Mu’minin dan ‘Arifin, keduanya adalah sejatinya sama-sama berdzikir. Mu’minin berdzikir dengan lisan, sementara ‘Arifin berdzikirnya dengan pikiran (tafakur). Memang dzikir itu mempunyai 2 makna yang keduanya tidak saling bertentangan. Dzikir bisa bermakna menutur dengan lisan. Dzikir juga bisa bermakna mengingat dengan pikiran. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama. Orang yang bertafakur sama utamanya dengan orang yang berdzikir dengan lisan.

Bagian akhir muqoddimah, Al-Ghazali menyampaikan bahwa Nabi diutus pada bangsa yang sangat jauh dari peradaban. Bangsa yang tidak mengerti baca tulis, atau disebut Bangsa Jahiliyyah. Bangsa yang pada saat itu sangat fasik, keras, suka menentang, dan jarang sekali sekedar untuk senyum saja. Sehingga dakwah Nabi adalah dakwah yang menghantam kebodohan, mengalahkan kemusyrikan, sekaligus menundukkan mereka pada jalan kebenaran dan kebaikan.

Menurut Abah Mus (KH. A. Musthofa Bisri) “Orang itu kalau sifat-sifat buruk di hatinya sudah hilang, maka akan diisi oleh sifat-sifat baik”. Semoga bisa.

Demikian, tulisan ini merupakan catatan refleksi / intisari dari pengajian pasaran yang disampaikan KH. A. Musthofa Bisri. Ini bagian pertama, semoga saya bisa menuliskan bagian selanjutnya hingga khatam. Insya Allah.

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Mengenal Pendidikan Diniyah Form...
Kemarin (20/07), di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy baru saja dib...
Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon