Refleksi Ngaji Sabtuan; Jangan Mengungkit Kesalahan Orang yang Sudah Bertaubat

Seperti biasa setiap malam Sabtu ba’da Maghrib, pondok kami melaksanakan pengajian Tafsir Munir dengan qori KH. Syafi’i Atsmari yang biasa kita sapa Mang Fi’i. Sebutan itu juga bersanad langsung dari Al Mukarrom Al Maghfurlah Romo Kyai Haji Muhammad (Akang). Akang biasa memanggil beliau (KH. Syafi’i Atsmari) dengan sebutan “Mang Fi’i” walaupun beliau sudah jadi mantu Akang. Pengajian tersebut bertempat di masjid Nur Muhmmad.

Pengajian tersebut diisi dengan kitab Tafsir Munir, kitab Nadzam Alfiyah Qarana (penjelasan nadzam Alfiyah Ibnu Malik), dan kitab Panduan Amaliyah Ramadhan dimana yang kedua terakhir ini merupakan kitab karangan KH. Syafi’i Atsmari sendiri.

Pada kesempatan kali ini, bagian yang kita kaji dari nadzam Alfiyah adalah nadzam ke-63 dan 64 yang berbunyi:

وفى اختيار لا يجىء المنفصل # إذا تأتى ان يجىء المتصل

وصل أو افصل هاء سلنيه وما #  أشبهـه في كنـته الخــلف انتمى

Penjelasanya kurang lebih begini; kedua nadzom tersebut menerangkan tentang kelayakan penggunaan dhamir muttashil (kata ganti yang disambung dengan kata yang lain) dan dhamir munfashil (kata ganti yang tidak disambung dengan kata yang lain).

Kyai Mushannif kitab Alfiyah alias Imam Ibnu Malik mengatakan bahwa di waktu yang tidak terdesak atau tidak dalam keadaan dharurat ketika masih bisa untuk mendatangkan dhamir muttashil maka tidak boleh mendatangkan dhamir munfashil, contohnya lafadz اَكْرَمْتُكَ. Dhamir ك tidak boleh dijadikan munfashil karena masih memungkinkan untuk dijadikan muttashil. Begitu juga nadzom ke-64, pembahasanya masih nyambung dengan nadzam di atas. Imam Ibnu Malik menjelaskan bahwa ketika dhamir tersebut berasal dari fi’il muta’addi yang mempunyai 2 maf’ul dan fi’ilnya bukan dari amil nawasikh, contoh seperti lafadz سَلْنِيْهِ dhamirnya adalah نِي dan هِ maka boleh dijadikan muttashil boleh dijadikan munfashil, jadi bisa dikatakan سَلْنِيْهِ bisa juga سَلْنِيْ اِيَّاهُ . Dan penjelasan selanjutnya, ketika khobar كان dan akhawatnya itu berupa dhamir, maka dalam kasus ini ulama nahwu masih memperdebatkanya. Imam Ibnu Malik memilih untuk dijadikan muttashil sedangkan Imam Sibawaih tidak.

Dilanjut dengan pengajian yang kedua yakni pengajian kitab Tafsir Munir karangan Syekh Nawawi Al Bantani, ulama kharismatik asal tanah Jawa yang menjadi ulama besar di Mekkah. Ayat yang kita kaji pada malam itu adalah surat An Nisa ayat 16 yang berbunyi:

وَاللَّذَانِ يَأْتِيَانِهَا مِنكُمْ فَآذُوهُمَا ۖ فَإِن تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا عَنْهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Syekh Nawawi Al Bantani menafsiri ayat tersebut ringkasnya begini; ketika ada dua orang merdeka        (laki-laki dan perempuan) d iantara kalian berzina atau melakukan sebuah keburukan, maka hukumlah mereka berdua tersebut dengan hukuman lisan, seperti dengan mencaci mereka, menghina mereka, atau mempermalukan mereka. Tapi apabila mereka bertaubat lantas memperbaiki perbuatan mereka, maka tinggalkanlah mereka dengan tidak mengungkit kesalahanya dan tidak menghukum mereka, karna sungguh Allah Maha Menerima taubat lagi Maha kasih sayang terhadap hambaNya. Syekh Nawawi Juga menjelaskan bahwa hukuman lisan tersebut sudah diganti dengan dicambuk sebanyak 100 kali.

Dalam pengajian tersebut KH. Syafi’i tidak hanya menyampaikan materi kitab yang dikaji. Beliau juga menjelaskan dan menyampaikan beberapa hal. Di awal pengajian beliau menyampaikan tentang beriringanya akhlak dan juga ilmu. Beliau menjelaskan bahwa akhlak dan ilmu itu tidak bisa di bentur-benturkan dengan mana yang lebih didahulukan, karena banyak diantara kita yang mempunyai jargon bahwa “الأدب فوق العلم” bahwa adab itu di atas ilmu. Mengapa demikian? Karena akhlak adalah implementasi dari ilmu begitupun sebaliknya. Jadi tidak bisa kita nilai mana yang harus didahulukan, karena keduanya sama-sama baik. Akhlak harus kita jaga ilmu juga harus kita cari. Ketika keduanya ada pada diri kita maka itulah perhiasan yang sesungguhnya bagi kita.

Yang kedua beliau juga menyampaikan pesan kepada para santri tentang inti sari atau esensi dari ayat yang dikaji. Beliau berpesan agar kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang. Apabila ada seseorang atau mungkin orang di sekililing kita melakukan kesalahan atau keburukan lantas dia bertaubat dengan tidak mengulanginya dan memperbaiki perbuatanya, maka kita tidak boleh mengungkit kesalahanya. Kita anggap saja dia tidak melakukan kesalahan tersebut, perlakukan dia seperti biasa ketika ia belum melakukan kesalahanya tersebut, kita rangkul dia lagi. Jangan kemudian kita fanatik dengan kesalahannya lalu kita tinggalkan dia. Toh agama kita ini menjadi kuat karena orang yang melakukan kesalahan lalu bertaubat, seperti yang didawuhkan Nabi:

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim, dan sesungguhnya Allah akan menguatkan agama ini dengan laki-laki fajir.”

Laki-laki fajir adalah mereka yang pernah melakukan kesalahan lalu bertaubat. Bahkan bahasa beliau (KH Syafi’i), agama kita ini kuat karena preman-preman yang bertaubat. Beliau juga bercerita bagaimana Nabi Muhamad sangat mendambakan 2 jagoan di masa itu agar salah satunya ada yang masuk Islam, yakni Umar bin Khathab dan Amr bin Hisyam (Abu Jahal), yang pada akhirnya Allah kabulkan doa Nabi dengan masuk Islamnya Umar bin Khathab. Sebelum Umar masuk Islam, dakwah Islam belum berani secara terang-terangan dan belum terlalu kuat. Tapi setelah Umar masuk Islam, dakwah Islam pun menjadi terang-terangan dan pasukan Islam menjadi sangat kuat.

Wallahu a’lam

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon