Pentingnya Ilmu dan Menjadi Orang Berilmu; Refleksi atas Pengajian Pasaran Kitab Minhajul Muta’allim Karya Imam Al-Ghazali oleh KH. Husein Muhammad

Kitab Minhajul Muta’allim merupakan kitab yang ditulis oleh ulama terkemuka yaitu Imam Al-Ghazali yang membahas tentang kewajiban mencari ilmu. Beliau membaginya ke dalam tiga bab pokok, yaitu ilmu, guru, dan murid.

Wahyu pertama yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’ (Bacalah!),  yang dimuat di dalam Al-Qur’an surat al-‘alaq ayat 1-5.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Artinya :  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Pada ayat tersebut Allah SWT menyampaikan betapa pentingnya ilmu. Salah satu kemuliaan manusia diciptakan adalah diberi akal, yang mana hal itu menjadi pembeda dan keistimewaan manusia dari makhluk Tuhan yang lain. Oleh karena itu, untuk menggunakan karunia akal tersebut Allah SWT menyeru hamba-Nya dengan Wahyu pertama untuk belajar.

Kelima ayat tersebut sering djadikan salah satu dalil akan pentingnya ilmu untuk dipelajari, diajarkan, dan diamalkan. Dalam hal ini Buya Husein menyampaikan isi dari kitab tersebut bahwa Allah SWT menyuruh para Nabi untuk selalu menambah ilmu, hal tersebut karena Allah SWT memberikan nikmat kepada para Nabi berupa pengetahuan. Oleh karena itu, para Nabi pun tidak berharap apa-apa kecuali ilmu, kemudian Allah SWT memberikan anugerah kepada para Nabi berupa ilmu dan bahkan lebih dari ilmu.

Imam Al-Ghazali menceritakan bahwa Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas mengatakan bahwa : “Sesungguhnya Allah memberi  Nabi Sulaiman AS dan Nabi Daud AS berupa ilmu dan kekuatan”. Diketahui bahwa Nabi Sulaiman merupakan seorang Nabi dan Raja yang kaya raya, sedangkan Nabi Daud merupakan seorang Nabi dan terkenal dengan kemampuannya mengolah besi menjadi tongkat, baju perang dan lain-lain.

Hal tersebut terjadi karena Nabi Sulaiman dan Nabi Daud belajar, mempunyai ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut di kehidupan sehari-hari. Ilmu adalah sesuatu yang paling agung, karena dengan ilmu seseorang akan selalu mengupgrade dirinya ke titik yang lebih tinggi dan melangkah ke arah yang lebih baik.

Ibnu Abbas masih bercerita tentang Nabi Sulaiman bahwasanya Nabi Sulaiman pernah disuruh memilih oleh Allah SWT antara ilmu atau kerajaan. Kemudian Nabi Sulaiman memilih ilmu, dan yang terjadi adalah Allah memberikan keduanya kepada Nabi Sulaiman AS. Dalam hal ini Buya Husein menambahkam keterangan bahwa orang yang memiliki ilmu dapat berpotensi menjadi seorang pemimpin.

Dua kisah Nabi di atas menjadi bukti bahwa ilmu sangat penting, dan belajar ilmu juga tidak kalah penting. Karena orang berilmu akan berdaya memberikan manfaat dari apa-apa yang ia hasilkan dari ilmu tersebut.

Imam Al-Ghazali juga menuliskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ada dua orang yang setingkat (hampir sama) dengan Nabi, mereka adalah ahli ilmu dan ahli jihad (pejuang, menurut Buya Husein). Diterangkan bahwa yang dimaksud ahli Ilmu adalah mereka pemilik ilmu yang akan menunjukkan ajaran-ajaran yang telah dibawa oleh para Rasul. Sedangkan yang dimaksud dengan ahli jihad /pejuang adalah mereka yang memiliki semangat juang, sebagaimana Nabi Muhammad SAW berjuang dengan senjatanya di medan perang. Mereka yang terus semangat dan tidak menyerah.

Di dalam kitab dijelaskan bahwa orang berilmu, seperti bulan purnama di antara bintang-bintang. Ia terang dan menyinari sekitarnya, menjadi pusat cahaya, menjadi pusat pengetahuan.

Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda bahwa “Manusia paling utama adalah orang mukmin yang alim, yang apabila orang butuh kepadanya maka ia akan memberikan manfaat. Tapi jika tidak dibutuhkan maka ia akan mencukupi dirinya sendiri.” Artinya orang berilmu tidak akan merepotkan orang lain, ia justru akan menolong dan meringankan beban orang lain.

Buya Husein menyebutkan bahwa orang berilmu bagaikan bibit yang subur yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan, bagaikan sumber mata air yang mengeluarkan air. Hal ini tentu memperjelas akan pentingnya ilmu dan menjadi oang berilmu.

Kesimpulannya adalah ilmu akan mengajarkan kita menjadi manusia, orang berilmu akan menuntun manusia untuk memperlakukan manusia yang lain dengan baik. Kita harus terus belajar, bahkan dari manapun dan dari siapapun asalkan poin yang disampaikan adalah kebaikan. Setidaknya jika kita mengetahui satu ilmu, kita tidak akan menyulitkan orang lain dan saat kita mulai mempelajari ilmu maka saat itu kita tengah mendidik dan mengarahkan diri kita untuk hidup dalam kemanfaatan.

Wa Allahu A’lam

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Mengenal Pendidikan Diniyah Form...
Kemarin (20/07), di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy baru saja dib...
Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon