Pesan dari Ngaji Sabtuan; Jangan Suka Mengkhayal dan Mintalah Petunjuk pada Gurumu!

Pada tanggal 26 april 2024 lalu, tepatnya di hari Jumat, setelah jamaah maghrib, santri Pondok Kebon Jambu, baik putra maupun putri beserta para pengurus, sudah mulai melaksanakan pengajian Tafsir Munir yang rutin dilaksanakan pada malam sabtu, sebenarnya yang dikaji tidak hanya kitab Tafsir Munir, kitab terjemah Alfiyah karangan KH. Syafi’i Atsmari, beserta kitab panduan Ramadhan juga ikut serta dikaji dalam pengajian tersebut.

Pada malam itu Mang Fi’i (sapaan akrab beliau) tidak langsung mulai mengaji, beliau hanya sekedar menyampaikan beberapa pesan, cerita, sekaligus motivasi untuk membangun kembali himmah atau semangat para santri setelah menjalani liburan pondok yang lumayan lama.

Seperti biasa, setiap pengajian beliau selalu dibalut dengan canda tawa ilmiah yang sangat menghibur para santri. Beliau juga selalu menyampaikan suatu hal dengan kata-kata sederhana, sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh para santri, dan itu yang menjadi ciri khas beliau.

Dalam pengajian tersebut beliau menyampaikan beberapa hal, yang pertama beliau meminta doa dan hadiah fatihah kepada para santri, untuk kesembuhan ibunda Nyai Hj Awanillah amva, yang kebetulan pada hari Jumat beliau telah menjalani operasi, dengan tujuan agar Yayu Awa (sapaan akrab Nyai) segera pulih dan bisa membimbing kita kembali.

Yang kedua, beliau berpesan agar kita tidak thulul amal (mengahayal sesuatu yang belum terjadi). Beliau berpesan agar kita tidak terlalu banyak membayangkan, “Nanti saya sekolah dimana ya?”, “Nanti kalau sudah tamat SMA saya mau kerja apa ya?” atau “Nanti kalau saya sudah boyong mau jadi apa ya?”. Pertanyaan semacam itu sering sekali muncul di hati para santri, dan itu sangat menggangu kefokusan belajar mereka. Beliau berpesan agar kita tidak terlalu sering membayangkan sesuatu yang belum terjadi, karena masa depan itu sifatnya masih khayalan dan belum pasti kita sampai pada masa yang kita bayangkan tersebut. Bahayanya thulul amal itu membuat kita menjadi tidak fokus dengan yang sekarang kita jalani, ngaji kita, belajar kita, khidmah kita menjadi tidak maksimal karena khayalan yang kita buat sendiri.

Bahaya thulul amal yang disampaikan beliau sesuai dengan dauh ulama:

طول الأمل يَشغل عن العمل؛ فمن طال أمله ساء عمله

“Mengkhayal sesuatu yang belum terjadi hanya akan mengganggu aktivitas. Barang siapa yang suka mengkhayal, maka akan menimbulkan efek negatif pada aktivitasnya”

Dan karena thulul amal juga, kita terkadang dengan semena-mena meninggalkan apa yang seharusnya kita kerjakan sekarang, dan itu sangat dilarang, sesuai kaidah fiqih:

ترك المتحقق لاجل متوهم ممنوع
“Meninggalkan sesuatu yang nyata-nyata ada dan harus dikerjakan sekarang karena mengkhayal yang belum pasti adalah dilarang”

Beliau berpesan agar kita bisa fokus dengan apa yang harus kita kerjakan sekarang, karena kalau memang harapan kita itu sudah ditakdirkan bagi kita, maka pasti Allah permudah jalan kita untuk menuju apa yang kita cita-citakan.

Beliau juga menyampaikan bahwa thulul amal ini juga termasuk dari bagian proyek setan yakni ” يوسوس في صدور الناس”  “gangguan bisikan bisikan syetan di hati manusia”. Beliau berpesan agar kita selalu hati-hati terhadap bisikan setan tersebut, karna bisikan dan godaan setan itu tidak hanya berasal dari makhluk yang tidak terlihat, melainkan bisa juga berasal dari orang-orang di sekeliling kita, baik itu teman, saudara, bahkan orang tua kita, maka dari itu beliau berpesan agar tetap fokus dan selalu minta perlindungan kepada Allah SWT.

Yang ketiga, beliau berpesan kepada para santri agar selalu meminta petunjuk kepada guru. Baliau bercerita bahwa dulu beliau juga melakukan hal demikian, setiap beliau selesai sorogan kepada Akang (sapaan akrab KH Muhammad pendiri Pondok Kebon Jambu) beliau selalu bertanya, “Kang sorogana ntos khatam, bade lanjut kitab naon?” Dan Akang pun langsung memberikan petunjuk atau arahan agar beliau, Mang Fi’I, mempersiapkan untuk memulai sorogan kitab yang direkomendasikan oleh Akang.

Beliau juga bercerita bahwa ketika pasaran (istilah pengajian di bulan puasa) beliau bingung untuk mengaji ke siapa, akhirnya beliau bertanya dan meminta petunjuk kepada salah satu Guru Besar di Pondok Kebon Jambu, yakni Almarhum Ustadz Nasir. Beliau, Almarhum Ustadz Nasir memberikan arahan untuk ngaji kitab yang belum dipelajari dan lebih mengutamakan ngaji kepada kiai.

Pesan beliau mengenai meminta petunjuk guru ini sesuai pesan yang disampaikan oleh Baginda Ali karromallahu wajhahu dalam syi’ir الالا nya, syi’ir yang menerangkan kiat-kiat bagi para pelajar agar mendapatkan keberkahan ilmu, yang salah satunya adalah ارشاد استاذ “petunjuk dari guru” karna guru adalah orang yang paling mengerti akan kelebihan dan kekurangan seorang murid. Beliau berpesan agar kita selalu membiasakan hal demikian agar kita tidak kebingungan dan tau arah.

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Mengenal Pendidikan Diniyah Form...
Kemarin (20/07), di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy baru saja dib...
Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon