Setelah Bangun dari Kematian

Ayat hanya santri biasa. Santri tingkat satu yang masih belajar beradaptasi dengan lingkungan pesantren. Takut pengurus pendidikan, tidak berani telat mengaji apalagi sampai tidak mengaji. Takut pengurus keamanan dan tidak berani melanggar peraturan pondok. Tapi semuanya berubah semenjak kejadian subuh itu bermula.

Subuh itu adalah subuh di bulan Ramadhan pertama bagi Ayat. Seperti biasa Ayat selalu berada di shaf paling depan. Tepat sekali di belakang Kiai Amrul selaku pengasuh. “Agar dikenal Kiai,” begitu kata emaknya berpesan. Semuanya berjalan lancar sesuai rukun shalat yang dilaksanakan dengan tertib. Tapi, pada sujud rakaat pertama, aduh, Ayat sepertinya tertidur karena dia tidak bangun untuk berdiri menuju rakaat kedua. Padahal suara Kiai Amrul cukup lantang mengingat dia tepat di belakang beliau. Beberapa santri membangunkan Ayat, ada yang pelan dengan menggunakan tangan, ada juga yang cukup keras menggunakan kaki. Tapi Ayat tak juga bangkit.

Salam kemudian terdengar dan ketika selesai uluk salam ke arah kiri, Kiai Amrul agak heran melihat seorang santri masih saja sujud. Dengan lembut Kiai Amrul membangunkan santri tersebut. Ada beberapa ustadz yang juga ikut membantu membangunkan, namun tetap, Ayat tak juga berkutik.

Seketika Kiai Amrul merasa ganjil. Tubuh Ayat terasa dingin dan terlihat kaku. Saat digulingkan kagetlah jamaah melihat wajah Ayat sangat pucat seperti mayat. Kiai kemudian memeriksa denyut nadi dan mendekatkan telunjuknya ke hidung Ayat. Tiba-tiba saja pandangan Kiai Amrul menjadi kosong. Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi raajiuun, gumamnya. Santrinya ini telah berpulang. Bulu kuduk jamaah langsung berdiri.

Tak menunggu lama, setelahnya keluarga Ayat segera dihubungi. Emak sangat kaget dan tersedu di ujung telepon mendengar anak satu-satunya telah mendahuluinya ke alam baka. Ia begitu terpukul saat kabar itu didengarnya lewat android jadulnya. Betapa menyedihkan bahwa kini dia akan sendiri tanpa anak tanpa suami . Emak tersedu-sedu.

Saat emak tiba, proses mengenai kewajiban mengurus jenazah langsung dilaksanakan di pondok. Hal itu dikarenakan sebuah perminaan emak yang terpenuhi. Dari balik tirai pemandian, air mata emak mengalir deras bak aliran sungai nil yang tak pernah mengering. Dadanya sesak, sedih tak terkira. Matanya membengkak merah, bercampur dengan raut tua wajahnya. Namun ia berusaha tegar melihat anaknya dibungkus kain kafan. Sebelumnya emak memohon pada kiai agar Ayat dimakamkan di makbaroh pondok supaya bisa dekat dengan makam sesepuh dan dzuriyah. Apalagi emak sangat berharap Ayat dapat mengenal sosok almarhum Kiai Hadad Fiqh selaku pendiri pondok juga ayah dari Kiai Amrul, sehingga dapat meneladani sikap mulia dan ketawadhuan beliau. Namun sangat disayangkan, belum genap satu tahun mondok tapi Ayat sudah dipanggil Tuhan. Mulanya Kiai Amrul agak keberatan karena makbaroh pondok disediakan khusus untuk para pengasuh, dewan pembimbing serta dewan pengarah yang telah wafat dan mengabulkannya merupakan sesuatu yang cukup menarik kontra bagi beberapa pihak juga cukup sulit pada satu keadaan. Sebab makbaroh pondok tidak begitu lapang dan hanya menyisakan beberapa ratus meter saja untuk pemakaman. Telah bernaung 11 nisan di sana, di antaranya ibu dan ayah beliau, Kiai Hadad Fiqh. Namun setelah di timbang ulang dan beliau diskusikan bersama para dewan pengasuh lain, lantaran merasa iba, Kiai Amrul mengizinkan permintaan emak. Permintaan tulus seorang ibu yang telah sebatangkara.

Entah mengapa kematian ini cukup menghebohan. Pondok sempat gempar sebab Ayat adalah santri pertama yang meninggal di pondok selama hampir satu abad lamanya pondok itu berdiri. Apalagi cara meninggal yang cukup mulia menurut pengetahuan mereka, yakni ketika sujud dalam shalat subuh di bulan Ramadhan. Tapi tak ada yang tahu penyebabnya. “Kuasa Allah,” gumam Kiai Amrul. Tak dipungkiri pula bahwa kematian itu akan membekas dalam ingatan mereka dengan menyandang kisah spiritual yang menggema di atap-atap asrama.

Tibalah saat jenazah Ayat akan dishalati. Ketika dishalati, entah mengapa keanehan nampak berdatangan seiring detik jarum jam yang menyahuti setiap huruf-huruf bacaan shalat Kiai Amrul. Sayup-sayup terdengar suara mengerang. Mulanya lirih namun lama-kelamaan semakin jelas. Terlihat jenazah bocah itu menggeliat perlahan untuk kemudian bergerak-gerak. Jamaah tersentak hampir berniat membatalkan shalat. Melihat sesuatu yang janggal terjadi Kiai Amrul pun buru-buru saat mengucap salam.

Suasana jadi ricuh. Hampir loncat jantung para jamaah saat Kiai Amrul membuka kain kafan yang menutupi wajah Ayat, jasad terbungkus kain itu tetiba saja bangkit duduk dalam keadaan terikat. Ketika orang-orang menatapnya sebagai sosok horor, wajahnya justru menampakkan kebingungan. Menengok kanan kiri memandang para jamaah. Beberapa santri sudah berlari saking takutnya. Keributan mulai pecah di dalam masjid. Teriakan terdengar di mana-mana. Wajah-wajah kaget. Wajah-wajah tak percaya. Ada satu-dua santri yang ditarik kembali oleh ustadz saat ingin kabur dan mengingatkan bahwa hal itu tidak sopan lantaran ada kiai. Semua jamaah saling mendekat satu sama lain seolah menyelimuti diri dari hawa mencekam. Bulu kuduk meremang. Keadaan berubah menjadi kengerian.

Kiai Amrul tak kalah kaget namun lekas menguasai diri.

“Ayat?”

***

Semenjak kejadian itu, Ayat yang kini tingkat dua mulai banyak bertingkah. Dia jadi sering bolos mengaji, tidak mengaji malah, sampai pernah dijemput langsung oleh dua ustadz bagian pendidikan. Ayat juga suka telat jamaah dan tidak berjamaah, telat ke sekolah dan tidak sekolah, disertai beberapa pelanggaran lainnya. Ditegur berkali-kali tak mempan. Disidang sampai dita’zir juga tak mempan. Akhirnya, pihak pengurus yang sudah tak sanggup mengadukan hal tersebut pada Kiai Amrul sekedar meminta pengarahan. Namun kiai memilih untuk menindaklanjuti sendiri kasus-kasus pelanggaran Ayat di pondok.

“Kamu Ayatullah, kan?” tanya Ustadz Kepala Pondok, yang padahal sudah tahu nama santri di depannya lantaran tragedi mati suri setahun lalu.

“Kamu ini sulit sekali, ya. Masih tingkat dua jumlah pelanggaranmu sudah melebihi senior-seniormu. Kamu ini ada masalah apa? Maumu apa, sih?” Ustadz itu menatap Ayat jengkel. Sudah tak sabar lagi dia. Lebih tak sabar karena yang diajak bicara hanya menunduk membisu. Ustadz itu menarik nafas. “Sudahlah. Besok hari Jumat jam sembilan kamu datang ke griya Abah Yai. Jangan telat karena beliau harus siap-siap untuk tausiyah di Masjid Gede,” perintah Ustadz Kepala Pondok. Meniti raut datar bocah yang ketika dinasihati masuk kuping kanan keluar kuping kiri itu.

Rumor beredar bahwa menyerahnya para ustadz mengurus Ayat karena mereka takut pada Ayat yang pernah mati suri. Ada yang mengatakan bahwa Ayat punya ‘kelebihan’, yaitu bisa melihat kejadian di masa mendatang. Semacam waskita. Kata leluhur itu merupakan suatu kemampuan yang didapat dari efek pengalaman spiritual berupa kematian.

Banyak yang tidak mau berteman dengan Ayat dengan dalih takut terlihat masa depannya dan ternyata pada masa itu terjadi hal-hal yang buruk. Salah satunya menimpa Zein, rekan setingkatan Ayat yang pernah digendong dan dipindahkan jin saat tidak sengaja ketiduran di tempat imam shalat. Semua santri tahu bahwa tempat pengimaman adalah tempat yang sakral untuk diduduki bahkan ditiduri. Mengisi ruang tempat imam yang berwarna hijau itu, entah bagaimanapun posisi dan kondisinya, selain imam ketika shalat adalah tindakan tidak sopan karena semua meyakini bahwa ada makhluk ghaib yang menghuninya.

Kata Zein, ketika dia sedang menghafalkan Nadzam Imrithy di tempat yang agak jauh dari tempat imam, lalu Ayat datang dan berkata agar Zein pindah tempat menghafal. Zein bertanya, “Kenapa?”

“Saya khawatir tidurmu banyak gerak dan mengenai tempat imam,” jawab Ayat.

Namun Zein enggan menurut. Dia sedang nyaman-nyamannya dan fokus menghafal. Lagipula tempatnya menghafal cukup jauh dari tempat imam. Siapa pula dia menyuruh-nyuruh? Dasar mayat hidup!

Jengah tak digubris, Ayat memilih pergi dan berusaha tak lagi peduli. Zein kembali melihat nadzhamnya ingin melanjutkan menghafal.

“Jangan kaget kalau tiba-tiba kau bangun di dalam bedug masjid!”

Meski samar sebenarnya Zein mendengar ucapan Ayat. Namun tak disanggahnya dan menganggapnya angin lalu saja.

Tapi semuanya sungguh terjadi. Ketika Subuh, Zein ditemukan di dalam bedug masjid yang besar. Petugas ronda yang menemukannya membangunkan Zein agar lekas turun karena bedug akan dipukul. Saat terbangun, Zein panik dan tubuhnya panas sekali. Zein demam selama seminggu.

***

Di kamar, Ayat tercenung mengingat uacapan Ustadz Kepala Pondok. Ayat takut dikeluarkan oleh Kiai Amrul atas ketidakpatuhannya sebagai santri. Kasihan emak yang ingin sekali Ayat jadi ‘orang’. Meski biaya ditanggung pondok dengan syarat Ayat harus masuk tim kebersihan pondok yang mengurusi masalah pembuangan dan pengelolaan sampah, Ayat jarang sekali terjun. Ayat lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Duduk diam sambil melamun. Entah apa yang dilamunkan. Benar-benar sosok yang tidak pandai bergaul. Kepala kamar juga sering menegur agar Ayat beraktivitas di luar dan bertanggung jawab sebagai tim kebersihan. Seperti biasa, Ayat hanya membalas teguran dengan anggukan dan sedikit senyuman.

Keesokan harinya, selesai roan menuju pukul sembilan pagi, Ayat bimbang apakah menemui Kiai Amrul hari ini atau tidak. Jika tidak hari ini, tentu tak berani dia sebab ini amanat langsung dari kiai melalui kepala pondok. Namun sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya takut, membuat Ayat memutuskan ngaret menemui Kiai Amrul pukul sembilan tepat.

***

“Ayat? Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Kiai Amrul ramah begitu Ayat selesai mencium tangan dan duduk ta’dzim di hadapan beliau. Wajah teduhnya tersenyum amat menyejukkan ketika dipandang. Namun Ayat tak berani menatap sosok yang berwibawa itu.  Umurnya yang hampir 70 tahun memperlihatkan kebijaksanaan mendalam.

Melihat Ayat diam saja sambil menunduk, kiai memegang lembut bahu Ayat.

Semenjak kejadian itu, entah mengapa Kiai Amrul merasa ada sesuatu yang terjalin antara dia dan Ayat di luar hubungan mereka sebagai pengasuh dan santri. Meski pada kenyataannya mereka jarang sekali bertemu, kiai merasa Ayat merupakan sosok yang ‘berbeda’ dengan santri-santrinya yang lain.

“Abah Yai…” Ayat mulai bersuara.

Dengan terbata-bata, Ayat menceritakan kejadian-kejadian aneh yang menjadi sebab dia tidak bisa disiplin sehingga terkesan melanggar. Ayat bertutur bahwa dia selalu bermimpi tentang kejadian-kejadian buruk yang kemudian menjadi kenyataan. Ayat tidak mengaji karena takut kalau telat tangannya dipukul dengan rotan dan nantinya menimbulkan luka hingga menjadi borok. Begitupun dengan dia yang jarang jamaah. Dalam mimpinya kakinya disabet lalu tidak bisa berjalan selama hampir seminggu. Dan Ayat pernah mengalami itu semua. Seiring berjalannya waktu, hal itu menjadi trauma bagi Ayat. Katanya, daripada sakit dan kesakitan lantaran dipukul, lebih baik tidak usah datang atau pergi ngaji sekalian. Karena pun dia tak punya uang untuk mengobati luka-lukanya. Begitu menurutnya.

Kiai Amrul terhenyak. Memandang anak laki-laki berusia 16 tahun itu. Ternyata benar rumor itu, tentang Ayat yang punya linuwih atau weruh sakdurung winarah.

“Lalu kenapa Ayat mesti telat? Ayat harus datang lebih awal agar tidak telat dan dipukul,” saran Kiai Amrul.

“Sepurane, Abah. Saya sering bermimpi aneh dan susah terbangun. Saat terbangun saya ketakutan dulu sebelum benar-benar sadar. Itulah mengapa saya selalu telat.”

“Lalu untuk masalah tim kebersihan, mengapa Ayat jarang membantu?”

“Saya bermimpi, seluruh badan saya borok seperti penyakit kulit Nabi Ayyub karena seringnya saya memegang sampah,” ungkapnya. Matanya kini berkaca-kaca. Perasaan sesak menjejal di benak begitu Ayat menyadari betapa hidupnya terasa rumit dan penuh ketidaklaziman.

Kiai terdiam cukup lama. Mencerna kejujuran Ayat dan memikirkan sesuatu. Seakan menyusun kata-kata yang tepat untuk Ayat.

“Nak, Allah memberi kelebihan untukmu agar memperbaiki hal-hal yang buruk. Boleh saja memberitahu takdir buruk seseorang di masa mendatang agar orang itu tidak salah langkah dan bisa menjadi pengingat agar tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Namun mulailah dari dirimu terlebih dahulu. Dengan ini, diharapkan kamu mampu menjadi pribadi yang selalu berhati-hati dan bersikap wara’. Jika kamu justru terlalu fokus pada satu masalah, maka kamu akan terikat dan bisa saja jatuh tergelincir karena keliru memilih jalan. Ada banyak hikmah di setiap kejadian. Banyak pesan di setiap cobaan. Abah yakin Allah mengirim kelebihan agar kamu menjadi lebih dewasa dan memahami makna kehidupan lebih dalam lagi. Ingatlah bahwa Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya. Perbanyak ibadah dan teruslah berdo’a meminta perlindungan-Nya.”

Kiai tersenyum. Selesainya kalimat beliau Ayat memberanikan diri mendongak dan tersadar sesuatu ketika ia melihat jam dinding di belakang kiai. Naluri mendorongnya untuk mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan Kiai Amrul. Sesuatu yang cukup mengerikan mengingat beberapa kejadian tak diinginkan terjadi berasal dari mimpi-mipminya.

Akhirnya anak itu mencoba menuturkan mimpinya semalam. Dia bercerita dengan bibir bergetar dan terbata-bata.

Katanya, tadi malam dia bermimpi buruk lagi. Dia sangat ketakutan karena sosok yang muncul dalam mimpinya adalah Kiai Amrul. Dalam mimpi, Ayat melihat kiai pergi dengan mobil hendak menjadi imam shalat jum’at di Masjid Gede tepat pukul setengah sepuluh. Namun mobil yang ditumpangi beliau tertabrak truk 10 menit setelahnya.

Innaalillaahi wa inna ilaihi rojiuun…,” sahut kiai sembari mengelus dada. Pandangannya diliputi perasaan kalut namun beliau harus tetap berprasangka baik kepada Allah.

“Karena itulah, Abah, saya sengaja datang tepat setengah sepuluh untuk mengulur waktu,” kata Ayat seraya menunduk. “Saya… takut, Abah…” Tanpa sadar setetes air mata jatuh mengenai sarungnya. Tetesnya bak hujan batu api yang menghantam pasukan Raja Abrahah beserta gajah-gajahnya.

Kiai terhenyak mendengarnya. Tapi masalahnya mobilnya sedang dipakai anak-menantu bersama istrinya, Nyai Faizah, pergi menghadiri undangan walimatul ‘urs dan baru datang jam setengah sebelas. Beliau sendiri batal menjadi imam shalat jum’at di Masjid Gede dan hanya akan mengisi tausiyah saja.

Selesainya kiai membenak, cucu laki-laki kedua beliau yang berumur 7 tahun datang sambil menyerahkan ponsel.

Saat mendengar kabar dari seberang sana, Kiai Amrul tercengang. Tatapannya kosong seakan tak percaya. Dikabarkan mobil yang dipakai anak-menantu dan istrinya untuk menghadiri undangan tertabrak truk di jalan raya. Mendadak jantungnya serasa berhenti berdetak. Tangan-tangan ghaib seolah menghentikan seluruh pergerakan jaringan di tubuhnya dan satu tangan menutup matanya kemudian memupuk rasa perih di sana.

Dalam sekejap beliau teringat tragedi serupa yang dialami abahnya sepuluh tahun silam sebagai kejadian buruk yang mulanya hadir di mimpinya.

Kyai Amrul Fiqh terdiam. Menatap Ayat penuh arti.

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Mengenal Pendidikan Diniyah Form...
Kemarin (20/07), di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy baru saja dib...
Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon