REZEKI MAULUDAN DARI LANGIT

            Mau bagaimana lagi? Ahmad harus ikhlas dan tabah menerima tiap lontaran ejekan dari teman-temannya. Tak perlu meladeni serius, apalagi merajut amarah di wajah. Ia tahu mereka hanya ngeguyon, jadi abaikan saja. Namun tetap saja terkadang emosinya tersulut. Alhasil ia pasti akan mengamuk sambil merajut wajah dingin.

            Tentu ejekan itu bersumber dari kebiasaan buruknya; selalu tertidur pulas tiap kali duduk di awal pengajian hingga bubar, menyisakan ia seorang yang nampak seperti pohon tertiup badai. Terkadang batinnya menggerutu, “Ya, gimana, ya. Wong lagi capek, terus ketiduran gitu aja.”

            Seperti sore ini lagi-lagi Ahmad terkantuk-kantuk di pojok kelas pengajian. Sementara yang lain sibuk menggores pena di atas kertas kuning, menyimak tiap lontaran kata sang guru. Tetapi di akhir pengajian ia terbangun. Ya, saat mendengar akhir salam sang guru.

            “Huuuuu … kebiasaan buruk tidur saja kamu, Mad,” ledek temannya yang berkaca mata. Ia abaikan.

            Kemudian Faizal mendorong pundaknya keras, sampai terjatuh kesamping. Dia berkoar tajam, “Dasar nauman. Tukang tidur. Kemana aja sih lo dari pagi? Ngelanggar aja, ya. Huu … tiap pengajian tidur terus.”

            Ahmad hanya menatap sekilas ekor mata sengit milik Faizal.

            Faizal kembali meneruskan, “Hei, melek coba melek. Lo nggak inget nanti malam ada acara spesial? Marhabanan. Menyambut kelahiran Nabi kita. Apa jangan-jangan lo sampe lupa? Yah, tak apalah wong nanti juga lo pasti tidur pas marhabanan. Terus mulut lo mangap kayak ikan lele. Huuu ….” Faizal mendorong tubuh teman sepantarannya itu. Lantas pergi begitu saja tanpa lupa mengomel-ngomel layaknya ibu-ibu cerewet nagih hutang.

            Ahmad berfikir sejenak. Mengoneksikan pendengarannya, lalu mendengus kesal. “Awas saja kau Faizal. Kau yang bakalan ketiduran pas nanti malam. Dasar mulut ibu-ibu cerewet! Hmm … tidurku tadi kan biar nanti malam bisa melek,”

            Sebelum bangkit Ahmad berdo’a dalam hati, “Allah … Jagalah mataku nanti malam. Please! Aku ingin bertemu Rosulullah.”

***

            Malam itu merupakan malam yang paling ditunggu-tunggu segenap kaum muslimin di seluruh dunia. Malam kelahiran Rosulullah, dua robiul awal. Sebuah malam yang agung, mulia dan penuh berkah. Di Indonesia sendiri biasa diadakan acara barzanjian atau dikenal dengan istilah mauludan.

            Pondok Raudatul Jannah salah satunya, para santri tak ketinggalan mempersiapkan penyambutan dengan suka cita. Panggung sederhana nan meriah nampak berdiri kokoh di sebelah selatan area masjid. Bermacam pernak-pernik, hiasan kaligrafi serta kertas berwarna-warni menghiasi langit-langit. Selain itu yang lebih pentingnya lagi ialah menata hati, penuh syukur dan menghayati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

            Ahmad mencoba menelaah lebih jauh sosok itu, khususnya dalam hal bagaimana berprilaku seperti Kanjeng Nabi. Dengan senyum merekah ia berbaur dengan para santri lain, tersenyum lebar saat terulang ejekan menohok padanya. Terlebih hantaman ejekan dari si Faizal. Sebab bukankah Rosul tidak pernah membalas maupun menyimpan dendam terhadap ejekan, kekejian para kaum Kafirin? Maka kita sebagai penerusanya tentu saja harus bisa mengikuti perilaku baik beliau.

            Tepat pukul setengah sembilam malam Masjid Roudhotul Jannah itu terasa makin hidup. Dipenuhi insan-insan bersenandung barzanji, mengagungkan sang Rosulullah, sambil diiringi tepukan rebana. Semua menghayati dengan sepenuh hati, seolah-olah merasakan kehadiran Rosulullah di antara mereka. Saking syahdunya beberapa insan menangis terinsak-insak. Begitu pun yang dialaminya Ahmad, ia terhanyut dalam kubangan kebahagiaan, kesejukan dan kesyahduan malam penuh barakah itu. Rosul serasa dekat sekali, terasa damai di dada hingga tak terasa bulir air matanya meleleh.

            Ya Nabi Salam ‘Alaika… Ya Rosul Salam ‘Alaika…

Ya Habib Salam ‘Alaika… Sholawatullah ‘Alaika…

            Tetapi ternyata tidak berlaku untuk sesosok santri di pojok utara area masjid itu. Saat mahallul qiyam ia malah tertidur pulas. Menyender ke dinding dengan berbantal tiang masjid. Sambil mulutnya terbuka, mangap besar sekali.

***

Baca Juga :

DI MANA HILANGNYA BENDERA USANG DESA KAMI?(Part 4)

Pengelolaan Sampah Sebagai Implementasi dari Fiqh Al-Bi’ah

            Mulut santri itu terbuka lebar sekali menghadap ke atas. Waktu seakan berjalan slow motion saat tiba-tiba seekor cicak dari langit-langit mengeluarkan sebutir kotoran berwarna hitam-putih dari balik ekornya. Kotoran itu melesat lepas dan tepat sasaran. Plass! Hinggap di sebuah terowongan berhembus angin tak sedap itu. Lalu terowongan itu menutup, menimbulkan suara ‘nyam-nyam-nyam’.

            Ia tersadar saat digoyangkan. Koor beberapa santri menertawainya. Ada juga yang menjerit manja –jijik tepatnya.

“Hiiiii … makan malam sama ee kadal imut.

Ya, seluruh insan kembali duduk usai mahallul qiyam, sementara si santri itu masih terlihat berdiri menyender ke dinding, tertidur dengan mulut mangap. Ia tersadar tatkala mendengar cekikikan beberapa santri di sekitarnya.

Sontak itu ia terkejut bukan main, lalu buru-buru duduk. Tapi tak ada rasa malu yang hadir. Karena jiwanya masih berjalan-jalan di alam mimpi. Sampai ia tidak sadar segala apa yang terjadi barusan, termasuk insiden spesies kadal imut itu. Dan setelah duduk sila ia kembali menundukkan kepala, melanjutkan mimpi yang sempat bersambung itu.

            Temannya di samping mencoba menggoyangkan, “Hei, Faizal bangun. Kamu ikhlas menjadi si nauman baru?”

Faizal tetap kokoh tak berkutik.

***

            Sampai marhabanan selesai, satu persatu santri meninggalkan masjid dan lampu-lampu mulai dimatikan. Faizal masih khusuk dengan tidurnya –duduk sila sendirian.

            Sosok yang selalu menjadi bahan ejekan itu mendekatinya, mencoba membangunkan, “Faizal, hei, bangun. Marhabanannya sudah selesai, Rosul pun sudah pulang. Aku tadi bertemu dengannya loh. Hmm … kasihan sekali sedari tadi kau tidur. Kau pasti tak merasakan kesyahduan marhabanan tadi, seru sekali loh, aku sampai menitikan air mata haru. Huh … apa kata aku juga, situ yang salah, siapa suruh mengejekku terus. Baru nyakho kau akibatnya, belum lagi dengan insiden spesies kadal imut itu. Eh, btw rasanya gimana Sal itu rejeki dari langit?”

Tak ada respon, hanya ngorok yang terdengar

Sebelum pergi Ahmad baals mengejek, “Euh … dasar nauman al jadid!

***

{{ reviewsTotal }} Review
{{ reviewsTotal }} Reviews
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Bagikan :

Artikel Lainnya

Pentingnya Menjaga Kesehatan Men...
Dinamika pendidikan  santri dalam pesantren tidak hanya b...
Saya Sudah Banyak Tirakat Tapi K...
Ada saja santri yang ketika diberikan ijazah tirakat oleh guru...
Keutamaan dan Peristiwa di Hari ...
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam...
Kekuatan Berdoa di Jalur Langit ...
Bagi mereka yang meyakini dahsyatnya kekuatan jalur langit yak...
Aktualisasi Makna Keluarga Sakin...
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 29 Juni yang jatu...
Menjadi Ayah yang Open Minded Se...
Saat kau melihat adikmu menangis, sebagai kakak terkadang kau ...

Hubungi kami di : +62851-5934-8922

Kirim email ke kamikebonjambu34@gmail.com

Download APP Kebon Jambu Coming Soon